Catatan HARY B KORIUN
BEBERAPA waktu lalu, saat Portugal ditahan imbang 1-1 oleh Republik Demokratik Kongo, saya menulis dengan kesal dan emosional. Banyak yang menanggapi tulisan tersebut, dan rata-rata mengatakan sebegitu bencinya –seperti para haters— saya kepada Cristiano Ronaldo. Padahal, bagi yang tahu, sejak pemain ini bermain di Sporting Lisbon, lalu pindah ke Manchester United (MU)”, Real Madrid, Juventus, dan Al Nassr, saya selalu mengikuti perkembangannya. Yang selalu saya ingat dan acungi jempol adalah bagaimana seorang bocah miskin yang memiliki begitu besar cita-cita di sepakbola, kemudian memperjuangkan dengan begitu keras, hingga akhirnya menjadi salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa.
Betul, seperti apa yang dikatakan salah satu legenda Portugal, Luis Figo, dan mantan kapten MU, Roy Keane, bahwa Ronaldo tak perlu membuktikan apa-apa di Piala Dunia 2026 ini. Bahkan, jikapun dia tak mencetak satu gol pun, dia tak perlu berkecil hati. Selama 20 tahun lebih dia menggendong Portugal di punggungnya, dengan bermacam prestasi, yang bahkan tak pernah diberikan oleh pemain-pemain generasi emas di masa lalu, seangkatan Figo sendiri, seperti Paulo Sousa, Antonio Folha, Fernando Couto, Joao Pinto, Abel Xavier, Jorge Costa, Rui Costa, dan beberapa nama lainnya, yang merupakan alumni juara Piala Dunia U-20 pada tahun 1989 dan 1991. Namun, generasi emas ini tak pernah memberikan gelar major. Jangankan trofi Piala Dunia atau Piala Eropa, mereka juga jarang lolos ke kejuaraan-kejuaraan besar itu.
Di masa lalu orang mengenal Eusebio sebagai pesepakbola terbaik Portugal. Lalu muncul generasi Fernando Gomez, Rui Baros, Pedro Pauleta, Nuno Gomes, nama-nama generasi emas di atas, Pepe, Sergio Conceicao –ayah dari winger lincah Francisco Conceicao yang ikut mengkritik Ronaldo— dan sekian nama lainnya yang juga tak bisa mengubah Portugal menjadi tim yang disegani dan diakui. Namun, kemunculan Ronaldo mengubah jalan cerita itu. Sekarang, banyak pendukung Portugal di mana-mana. Ketenaran Ronaldo dan Portugal bahkan menenggelamkan nama besar Brazil yang sekian lama berprestasi tinggi di Piala Dunia. Sekarang, di setiap perhelatan apa pun ketika Portugal ada di dalamnya, Seleccao das Quinas selalu diunggulkan sebagai penantang juara. Ronaldo –tentu dengan bantuan pemain lain—bisa mendapatkan apa yang di masa lalu tak didapatkan Figo dan generasi sebelumnya. Misalnya trofi Piala Eropa dan National League. Piala Dunia adalah kekeculian. Namun, tahun ini, seperti 2022 lalu sebelum Portugal disingkirkan Maroko, mereka tetap menjadi unggulan juara.
Baca Juga: Liburan Sekolah Lebih Seru di Ayola First Point Hotel
Pada bagian lain perjalanan karirnya, Ronaldo seperti ditakdirkan untuk selalu dibandingkan dengan bintang Argentina, Lionel Messi. Persaingan mereka semakin panas karena keduanya memiliki fans fanatik dengan jumlah yang sangat besar dengan latar belakang dua klub penuh rivalitas: Real Madrid dan Barcelona. Bahkan ketika Ronaldo keluar dari Madrid dan Messi keluar dari Barcelona, fans keduanya tetap “bertempur”, terutama di media sosial, tetap dengan latar kedua klub Spanyol itu. Yang berbau Madrid akan dibenci fans Barcelona, dan yang berbau Barcelona tak disukai fans Madrid. Begitu juga, di mana pun keduanya bermain --termasuk di timnas-- tim yang mereka bela selalu terbelah dua. Fans Ronaldo tak akan menyukai klub yang dibela Messi, dan fans Messi juga tak akan menyukai klub yang ada Ronaldi di dalamnya. Pendukung Ronaldo dan Madrid jarang yang membela Argentina, dan pendukung Messi sedikit yang mau membela Portugal. Bahkan, ketika tak satupun pemain Madrid masuk dalam skuad Spanyol di Piala Dunia kali ini, hampir semua orang Spanyol pendukung Madrid, lebih suka membela Portugal. Alasannya: 8 pemain Barcelona dipanggil Luis de la Fuente.
Saat Ronaldo gagal mengkonversi menjadi gol beberapa peluang ketika menghadapi Kongo, tidak hanya kamu –para pendukung Madrid, Portugal, dan Ronaldo— saya pun demikian. Saya menulis dengan rasa kecewa, namun sebenarnya tetap penuh hormat: apakah perlu Ronaldo tak diturunkan agar Portugal menang? Sebab, setelah itu, pemain “sekelas” Joao Neves –yang kena semprot oleh Figo dan Keane: “Kamu belum bisa mencetak gol, Ronaldo sudah menggendong Portugal dengan segala pencapaian pribadi maupun tim yang mungkin kamu tak akan bisa mendapatkannya!”-- dan Francisco Conceicao bisa mengomel dan jengkel dengan pernyataan “Ronaldo adalah pemain biasa yang tak berbeda dengan kami…”
Namun, saya lalu teringat apa yang disampaikan mantan pelatih Madrid, AC Milan, Chelsea, Everton, dan Bayern Muenchen, yang kini melatih Brazil, Carlo Ancelotti: “Cristiano (Ronaldo, red) akan sangat berbahaya ketika di pertandingan sebelumnya tidak mencetak gol.” Saya menunggu pertandingan antara Portugal melawan Uzbekistan –wakil Asia yang memberi perlawanan keras saat kalah 1-2 dari Kolombia-- dan ingin memastikan apa yang dikatakan Ancelotti itu benar. Dan, memang benar. Ronaldo menjadi “monster” kotak penalti dengan dua golnya –termasuk gol kedua yang dicetaknya dengan kaki kanan dan bola melintir, padahal posisi begitu semestinya dieksekusi dengan kaki kiri— dan nyaris mencetak 4-5 gol jika peluang yang datang padanya semuanya menjadi gol. Dua gol itu mencatat sejarah emas: jika Messi untuk sementara menjadi pemain dengan jumlah gol terbanyak di Piala Dunia, Ronaldo menjadi pemain pertama yang mencetak gol di 6 Piala Dunia.
Baca Juga: Penuhi Janji kepada Nenek Lewat Tato
Pencapaian yang didapat Ronaldo, tentu hasil dari kerja keras pemain lain. Neves yang mengkritik Ronaldo, ikut merayakan gol dan memeluk sang kapten. Bruno Fernandes yang selama ini dianggap antitesanya Ronaldo, malah memberi umpan pada gol kedua. Lapangan tengah Portugal yang di pertandingan melawan Kongo sering kosong dan berantakan sehingga suplai ke Ronaldo jadi buntu, saat melawan Uzbekistan tampil baik sehingga Vithina tidak seperti bermain sendirian di lapangan tengah.
Yang menarik lagi, laga penyisihan grup ini sudah memperlihatkan betapa para “monster” gol di kompetisi, kini sudah memperlihatkan taringnya. Selain Messi yang sudah mencetak 5 gol –memborong semua gol Argentina di dua pertandingan— dan Ronaldo, dua pemain yang digadang akan meneruskan rivalitas setelah ditinggal Messi-Ronaldo, Kylian Mbappe dan Erling Haaland, juga unjuk gigi dengan masing-masing sudah mencetak 4 gol di dua pertandingan. Menguasai daftar top skor. Mbappe bahkan menjadi pengancam serius tahta pencetak gol terbanyak Messi. Dalam 3 Piala Dunia diikutinya, Mbappe sudah mencetak 16 gol, hanya beda 2 gol dari Messi. Dia sudah menyamai rekor Miroslav Klose (Jerman).
Di luar persaingan dan pencapaian mereka, kita tetap harus memberi rasa hormat kepada para bintang besar itu dan menjadikan rivalitas dukungan hanya sebagai pemanas persaingan.***
Editor : Edwar Yaman