SEJARAH adalah sebuah peristiwa-peristiwa di masa lalu yang menjadi titik awal terbentuknya masa kini bagi masing-masing entitas, personal, wilayah administrasi, etnis, kepercayaan, dan sebagainya. Semua entitas tersebut terbentuk dari satu titik awal yang tumbuh, berkembang, yang kemudian bisa eksis atau malah menghilang. Dalam bahasa pasaran, seluruh peristiwa masa lalu adalah sejarah. Namun, banyak akademisi yang menjelaskan, tidak semua masa lalu adalah peristiwa sejarah jika itu tak memberi peran apa pun pada kontruksi masa depan.
Filsuf dan penyair Johann Gottfried von Herder lebih cenderung melihat sejarah sebagai proses ke arah kemanusiaan (menschheit) yang tertinggi, yang berlawanan dengan ejekan Voltaire, bahwa sejarah hanyalah “tableau ketotolan manusia”. Bagi Voltaire, mengingat sejarah hanya buang waktu dan tak penting, karena manusia harus berpikir tentang masa depan. Seorang penganut Hindu menginginkan keluar dari sejarah yang dianggap sebagai samsara –siklus reinkarnasi kehidupan manusia yang bertalian dengan tindakan semasa hidup dan konsekuensinya di semua waktu, baik masa lalu, sekarang, dan kehidupan selanjutnya-- yang sangat berbeda dengan pandangan seorang marxis yang meluluhkan dirinya dalam sejarah: bahwa sejarah dengan irama dialektis adalah proses ke arah terciptanya masyarakat ideal tanpa kelas. Masing-masing ideologi memiliki pandangan berbeda dalam memaknai sejarah.
Lalu, ketika Homer menulis puisi epik Illiad dan Odiseyy di zaman Yunani Kuno (sekitar abad 8 SM), bagaimana orang modern seperti kita menanggapinya? Apakah kita percaya bahwa puisi itu adalah catatan sejarah yang tingkat kebenarannya otentik? Atau hanya sebuah dongeng di masa lalu tentang Perang Troya dengan segala drama di dalamnya, sementara hingga kini kita tak pernah tahu di mana letak presisnya Kota Troya yang dianggap megah di zamannya itu. Tak ada yang berani menyimpulkan bahwa Homer adalah seorang sejarawan. Dia seorang penyair, sastrawan. Dia menulis lebih pada akar perasaan, bukan bertumpu pada rentetan peristiwa yang otentik dan sistematik. Dan menariknya, syairnya diterjemahkan sebagai teks sejarah yang dipercaya hingga kini. Manusia pada masa kinilah yang membuatnya menjadi “teks yang sistematis” dalam berbagai bentuk. Sebuah kajian sastra, film, dan sebagainya.
Baca Juga: MERINDUKAN STY
Masyarakat modern baru mengakui orang yang dianggap sebagai sejarawan pertama adalah Herodotus. Banyak catatan yang menulis dirinya sebagai sejarawan Yunani Kuno yang lahir di Halikarnasos, Karia (Bodrum, Turki modern) dan hidup pada abad ke-5 SM (sekitar 484 SM-425 SM). Dia disebut sebagai “Bapak Sejarah” karena orang pertama yang diyakini –dan diakui oleh para sejarawan setelahnya-- mengumpulkan bahan-bahannya secara sistematis, menguji akurasinya sampai batas otentik tertentu, dan menyusunnya dalam bentuk narasi yang terstruktur secara jelas. Historia, mahakarya sekaligus satu-satunya karyanya yang diketahui, merupakan catatan “penyelidikan”-nya tentang Perang Yunani-Persia. Catatannya meliputi informasi geografi dan etnografi. Meski beberapa tulisannya tidak akurat, dia mengklaim bahwa dia hanya menuliskan apa yang telah diceritakan kepadanya.
Baca Juga: Hermawan Kartajaya Bahas Strategi Menang Bersaing di Era AI
Historia-nya Herodotus menjadi salah satu ilham bagi novelis berdarah Kanada kelahiran Srilanka, Michael Ondaatje, ketika menulis novel The English Patient yang terbit tahun 1992. Sutradara Anthony Minghella mengadaptasinya menjadi sebuah film cantik dengan gambar indah tahun 1996. Film ini mendapatkan 9 penghargaan Oscar dari 12 nominasi pada tahun 1997, termasuk menjadi Film Terbaik. “Keterlibatan” Historia dan Herodotus dalam novel dan film ini berada pada tokoh utama, Count Lazlo de Almasy, seorang pembuat peta dan penjelajah gurun di Afrika Utara asal Hongaria –tetapi berpaspor Inggris-- pada masa Perang Dunia II. Dalam sebuah kecelakaan akibat konflik cinta segi tiga dan kejaran tentara –dia dianggap pembelot ke Jerman— tubuh Almasy ditemukan terbakar hampir 99 persen. Tak bisa dikenali. Para perawat di barak kemudian menyebutnya Pasien Inggris.
Saat perang mulai mereda dan Sekutu masuk ke Italia, Almasy –yang seluruh tubuhnya penuh luka bakar, lebih mirip zombi dengan ingatan yang banyak memudar, dan seluruh hidupnya dihabiskan di tempat tidur-- dibawa oleh seorang perawat asal Kanada, Hana, ke sana. Almasy selalu mendekap buku Historia. Di sebuah bangunan gereja yang hancur tak jauh dari Florence, Hana merawatnya. Di sana, Almasy selalu meminta Hana membacakan bab per bab buku tersebut. Di buku itu juga ada beberapa kartu dan kertas sebagai penyekat buku yang ada banyak coretan tentang rasa cintanya kepada kekasihnya.
Dengan mendengarkan Hana membaca Historia itu, Almasy lalu teringat semua peristiwa dalam hidupnya hingga dia terbakar dan nyaris mati. Termasuk ingatannya terhadap kekasihnya, Katharine Clifton, yang tewas saat pesawat pribadi yang dipiloti suaminya sengaja ditabrakkan ke gurun untuk bunuh diri bersama sebagai rasa putus asa.
Terlalu lama bersama, muncul cinta platonis dalam diri Hana kepada Almasy yang berwujud “zombi” tersebut. Hana ikut merasakan penderitaan lahir dan batin Almasy dalam mencintai Katharine. Saat akhirnya Almasy minta kepadanya untuk menyuntik mati, Hana melakukannya dengan perasaan hancur.
Selain mengilhami Ondaatje dalam menulis novel dan Minghella saat menjadikannya film, Historia menjadi karya babon yang sangat dihormati oleh orang yang mengaku sejarawan, di mana pun. Dari sana, ilmu sejarah kemudian berkembang dengan terus melakukan perbaikan dari sisi metodologi penelitian hingga konsep penulisannya, termasuk cakupan spasinya. Jika di masa lalu orang selalu menulis tentang sejarah kebesaran sebuah peradaban, perang dan nasionalisme, hingga melegitimasi kekuasaan –dengan adagium “sejarah ditulis para pemenangnya”— di masa kini secara ilmu, sejarah bisa ditulis dengan lebih mikro: pada peristiwa-peristiwa kecil yang sebenarnya memberi dampak besar bagi suatu hal. Sejarah lokal di Indonesia, misalnya, yang dulu banyak ditulis para sarjana Barat, kini mulai berkembang pesat ditulis oleh sarjana kita sendiri.
Sejarah, bukan hanya persoalan siapa yang menang dan menuliskannya, tetapi juga tentang bagaimana manusia berproses dari sebuah titik ke suatu masa yang memanjang dan –seharusnya-- tetap menjadikan kemanusiaan sebagai panglima utamanya.***
Editor : Bayu Saputra