RIAUPOS.CO - Selama safari Ramadan, saya Salat Tarawih di beberapa masjid. Di antaranya ada masjid yang menyelenggarakannya dengan salat dua puluh rakaat dan setiap malam selesai membaca satu juz Al-Qur’an. Nikmat sekali rasanya salat di belakang imam yang hafalannya kuat, bacaannya fasih, dan suaranya merdu. Salat selama satu jam atau lebih menjadi tidak terasa lama.
Seperti Salat Tarawih di Masjid Raya Senapelan, yang saat pertama kali berdiri pada tahun 1762 M bernama Masjid Alam dan kemudian berubah nama menjadi Masjid Nur Alam. Rasanya ingin pula ikut Salat Tarawih yang menyelesaikan dua juz selama Salat Tarawih setiap malam bersama santri Pesantren Nurul Azhar YTWU.
Di masjid Al Azhar Mesir rupanya pelaksanaan Salat Tarawih juga telah dilaksanakan selama ribuan tahun, turun temurun dua puluh rakaat dan setiap malam membaca satu juz Al-Qur’an. Bedanya, qiraat yang digunakan di Masjid Al Azhar Mesir adalah Qiraat ‘Asyarah. Setiap malam, berbeda qiraat dan riwayat yang dibaca. Setahu saya, jarang ditemukan tradisi seperti itu di masjid-masjid lain. Bukan hanya di Riau, bahkan di tingkat internasional.
Pada saat kampanye Pilkada Riau 2024, saya bersama Pak SF Hariyanto menandatangani kesepakatan politik dengan Tuan Guru Ustaz Abdul Somad dan Tim. Di antara kesepakatan itu, membuat Islamic Center dan salah satu dari bagiannya adalah Institut Al-Qur’an yang diharapkan menjadi rujukan masyarakat muslim Asia Tenggara dalam mengambil sanad Al-Qur’an dan Qiraat.
Impian kami, Riau menjadi kiblat keilmuan masyarakat muslim Melayu di masa datang. Kami bermimpi, Salat Tarawih di Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau dan Masjid Raya Nurul Wathan Provinsi Riau suatu saat nanti bisa meniru tradisi pelaksanaan Salat Tarawih di Masjid Al Azhar Mesir. Saya optimis Riau bisa mewujudkannya. Dan Riau in sya Allah semakin bermarwah.
Mimpi ini in sya Allah tidak muluk-muluk. Karena kami juga mengikhtiarkan mewujudkan Riau sebagai kiblat ilmu masyarakat muslim Asia Tenggara dengan cara mendukung pesantren-pesantren yang ada di Riau melalui Perda Penyelenggaraan Pesantren, pengiriman putra-putri terbaik Riau belajar ke Timur Tengah seperti ke Mesir, Yaman, Suriah, Maroko, Tunisia, dan negara lainnya. Dan setelah mereka pulang ke Riau, kami fasilitasi agar mengabdikan ilmu mereka di Islamic Center Provinsi Riau.
Kelak, setelah Islamic Center berdiri, kita upayakan mendatangkan para syekh dari Timur Tengah untuk mengisi daurah-daurah keilmuan dan majelis-majelis periwayatan. Seperti majelis Sama’ Hadis Sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim yang diadakan oleh Pesantren Nurul Azhar Yayasan Tabung Wakaf Umat di Pekanbaru Riau dan Majelis Sama’ Hadis Sahih Imam Bukhari Peringkat Antar Bangsa di Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia yang diadakan oleh Perdana Menteri Malaysia Dato’ Anwar Ibrahim.
Agar keilmuan para ulama tanah Melayu bersanad kepada para syekh yang tersambung kepada para ulama Salafus Salih dan berujung mata rantai sanad mereka kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.
Manuskrip karya-karya ulama Melayu dulu semoga bisa didigitalisasi, dikaji dengan kajian filologi, disunting, dan ditampilkan dengan potret kontemporer yang mengeluarkan mutiara-mutiara ilmu yang penuh barokah dan bernilai ilmiah yang tinggi.
Haluan keilmuan dalam mengimplementasikan Al-Qur’an dan sunah di Islamic Center pada ranah akidah mengikut akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dirumuskan oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari, dalam ranah amaliyah mengikut Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i, serta dalam ranah tasawuf mengambil Tasawuf Sunni yang otoritatif.
Semoga niat baik mewujudkan Riau sebagai kiblat keilmuan masyarakat muslim Asia Tenggara menjadikan Riau semakin bermarwah dan menjadi pahala jariah yang terus mengalir pahalanya kepada para syarif/syarifah, ulama, orang-orang saleh, para raja, dan tokoh adat yang dulu telah bersusah payah mendirikan negeri-negeri di Riau dan mendakwahkan Islam sebagai pegangan hidup masyarakat Melayu. Dan kami sekadar menumpang tuah dengan kebaikan mereka. Amin.***
Editor : Arif Oktafian