Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ramadan di Jepang

Redaksi • Minggu, 23 Maret 2025 | 15:25 WIB

Suzanna Hadi Ma’rifat Warga Pekanbaru, berdomisili di Hiroshima
Suzanna Hadi Ma’rifat Warga Pekanbaru, berdomisili di Hiroshima

PERKEMBANGAN Islam di Tokyo, Jepang, ternyata cukup pesat. Umat Islam Indonesia di Tokyo pun melaksanakan aktivitas keagamaan Islam dengan relatif baik. Pusat kegiatan umat Islam Indonesia di Tokyo berada di Masjid Indonesia Tokyo (MIT). Lokasi masjid ini berada di ibu kota negara Jepang, tepatnya di 4-6-6, Meguro, Meguro-Ku, Tokyo. MIT yang di bangun dengan gaya arsitektur modern ini dapat menampung jemaah sekitar 400 hingga 500 orang. Pendirian masjid diprakarsai oleh Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) bersama denqan para tokoh dan cendekiawan Indonesia yang berada di Tokyo. Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada tahun 2015 oleh Yusron Ihza Mahendra selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Kekaisaran Jepang pada saat itu.

Bangunan masjid terdiri dari 4 lantai dengan luas tanah 200 meter persegi dan luas bangunan 600 meter persegi. Masjid juga dilengkapi dengan toilet, tempat berwudhu, perpustakaan dan pusat kebudayaan Indonesia serta dapur umum.

Lokasi masjid berada satu kompleks dengan Sekolah Indonesia Tokyo (SIT), tempat anak-anak para diplomat yang sedang bertugas dan masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di Tokyo menuntut ilmu dengan jenjang pendidikan yang tersedia dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah umum.

Seperti masjid-masjid pada umumnya, kegiatan di dalam ruangan MIT adalah sebagai tempat ibadah, khususnya untuk melaksanakan salat, baik salat wajib maupun salat Idulfitri dan Iduladha juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan.

Dalam agendanya, jemaah MIT juga melakukan aneka kegiatan di luar ruangan seperti membersihkan kompleks permakaman khusus WNI, mengunjungi masjid-masjid tidak hanya yang berada di sekitar Tokyo, namun juga mengunjungi tempat ibadah yang berada jauh dari Tokyo, seperti masjid di Fukushima lebih kurang 290 km hingga ke Kota Kobe yang berjarak lebih kurang 516 km dari Tokyo. Aktivitas mengunjungi masjid ini disebut dengan subuh keliling, artinya melaksanakan salat subuh dilaksanakan di masjid tujuan.

Subuh keliling menjadi agenda tetap jemaah MIT pria maupun wanita. Bahkan terkadang para jemaah membawa serta istri dan anak-anak mereka. Subuh keliling dilaksanakan dengan seizin pengurus MIT yang dikoordinir oleh staf KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Tokyo. Karena itu laporan perjalanan juga harus diberikan kepada pengurus setelah kembali ke Tokyo.

Dengan kata lain, peserta subuh keliling merupakan perpanjangan tangan dari KBRI untuk mengetahui kondisi dan masalah yang di hadapi oleh jemaah masjid, khususnya dan WNI yang berada di kota tujuan umumnya, sekaligus mendata berapa jumlah WNI laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang berdomisili di kota tersebut.
Baca Juga: Teroka Arsip Seni Riau 2025 Menjadikan Arsip sebagai Bahan Penciptaan Seni

Keberangkataan jemaah MIT menuju ke lokasi disesuaikan dengan jarak yang akan ditempuh. Artinya, semakin jauh lokasi masjid, maka jam keberangkatan akan semakin cepat pula. Terkadang berangkat dari titik kumpul di MIT bisa tengah malam, agar salat subuh di masjid tujuan dapat dilaksanakan tepat waktu.

Mengingat program subuh keliling jemaah MIT didukung penuh oleh KBRI sebagai perwakilan resmi Pemerintah Republik Indonesia di Jepang, maka kesulitan yang dihadapi oleh WNI di masjid tujuan akan mendapat perhatian penuh dari pihak KBRI dalam menyelesaikannya. Bantuan yang diberikan bisa berupa solusi, bahkan tidak jarang bantuan yang diberikan berupa materi.

Adalah Djaka Perdana (42 tahun), pria asli dari Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini menjadi salah seorang jemaah dari MIT yang aktif mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar ruang tersebut. Sejak kepindahannya dari Kota Toyota Shi, di Perfektur Aichi ke Tokyo 3 tahun yang lalu, dia sudah aktif di MIT. Lokasi tempat tinggal Djaka saat ini berada di Otaku Sanno, Tokyo-To, hanya berjarak 4 km dari MIT. Ini memberi kemudahan bagi Djaka beserta istri dan kedua anak perempuan mereka untuk mengikuti segala kegiatan yang diadakan di MIT.

Aktivitas di MIT khususnya dan di Tokyo umumnya mempertemukan Djaka dengan ustaz-ustaz tenar yang datang dari Indonesia untuk mengisi pengajian di MIT. Sebut saja seperti Aa Gym, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Das’ad Latief, Ustaz Dennys Lim, Habib Ahmad Al Habsy, Ustaz gaul Handy Donny, dan banyak lagi yang lain.

Selain bertemu dengan ustaz-ustaz tersebut, Djaka juga berkesempatan untuk bertemu dan berfoto ria dengan artis-artis papan atas Indonesia yang sedang berkunjung ke Tokyo khususnya, seperti Anjasmara dan Dian Nitami, Melly Goeslow dan Anto Hoed, Dimas Seto, Wulan Guritno dan Sabda Ahessa, Baim Ada Band dan Artika Sari Devi hingga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Di pengujung tahun 2024, ketika Didit Prabowo, putra semata wayang Presiden Prabowo bersama Titiek Soeharto berkunjung ke Tokyo, Djaka berhasil meminta sang putra presiden untuk bersedia berfoto bersamanya.

Lalu apakah kedatangan para artis dari tanah air tersebut ada hubungannya dengan MIT? Ternyata tidak, pertemuan Djaka dengan mereka murni karena pekerjaan.

Di samping sebagai jemaah masjid, aktivitas Djaka sehari-hari adalah mencari nafkah seperti kepala keluarga pada umumnya. Ayah dua anak perempuan dan suami dari Dina Melinda Tobing ini selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, juga mempunyai aktivitas sampingan sebagai tour leader yang bertugas mengantar dan menjemput para ustaz dan tamu lainnya yang berkunjung ke MIT pada khususnya, mulai dari ketibaan mereka di bandara di Tokyo hingga mengantar mereka kembali ke bandara usai urusan mereka di Tokyo selesai.

Di sela-sela kegiatan mengantar para pesohor tersebut ke lokasi tujuan, Djaka meminta kesediaan mereka untuk berfoto. Tidak heran bila di media sosialnya bertaburan foto Djaka bersama orang-orang tenar yang pernah bersamanya selama beberapa hari di Tokyo.

Selain rutin mengikuti kegiatan keagamaan di MIT, Djaka mengisi waktu senggangnya dengan menjelajah kota-kota di Jepang dengan motor gede atau moge bersama teman-teman yang tergabung di dalam grup yang mereka beri nama Ojekers. Ojekers beranggotakan lebih kurang 30 orang. Anggota Ojekers tidak hanya bertempat tinggal di Tokyo namun bertebaran hingga di Osaka, jarak yang membentang di antara kedua kota tersebut lebih kurang 500 km. Jarak yang tidak dekat tentunya. Namun demi hobby, jarak tidak menjadi masalah bagi Ojekers untuk bertemu dan beraktivitas bersama.

Adakalanya para bikers mengajak serta keluarga masing-masing untuk refreshing dan healing bersama, maka menyewa bus menjadi solusi untuk menjalin keakraban dengan keluarga peserta touring lainnya.

Selain Djaka, ada juga Dina Malinda Tobing. Dina, usia 43 tahun demikian ibu dua orang anak perempuan yang telah beranjak remaja ini biasa dipanggil. Istri dari Djaka Perdana ini bersama-sama dengan sang suami aktif di kegiatan yang diadakan oleh Masjid Indonesia Tokyo. Dina yang menduduki posisi sebagai humas, mengaku sangat menikmati kesibukannya pada organisasi bernama Kemuslimatan Indonesia Jepang (KIJ). Organisasi ini diketuai oleh Atase Keuangan KBRI Leni Nurlaeni. Tujuan dibentuknya KIJ adalah sebagai sarana untuk mengetahui masalah-masalah sosial yang dialami oleh WNI dan keluarga mereka yang berdomisili di Jepang, serta menggalang dana agar masalah yang dihadapi dapat diselesaikan secara bersama-sama sebagai satu keluarga besar masyarakat Indonesia di perantauan.

Aktivitas ibu-ibu dan remaja putri di bawah koordinasi KIJ setiap pekannya antara lain, hari Selasa tadabur fikih wanita, hari Rabu tadabur qur’an, hari Kamis kata-kata mutiara dan hari Jumat kajian surat Al-Kahfi. Pengajian dibawakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di salah satu universitas di Kairo, Mesir secara online melalui aplikasi zoom.

Akhir pekan, sekali dalam sebulan diadakan pengajian internal KIJ dengan mengundang ustaz yang berdomisili di Jepang.

Selama bulan Ramadan 1446 H, Masjid Indonesia Tokyo telah menyiapkan berbagai acara yang dapat diikuti oleh seluruh jemaah MIT di Kota Tokyo dan kota-kota di sekitarnya berupa tablig akbar setiap hari Sabtu sore dan work shop setiap hari Ahad.

Pengisi acara tablig akbar yang telah dikonfirmasi kehadirannya adalah tiga orang ustaz dari Indonesia dan dua orang ustaz setempat. Sebelum tablig akbar digelar, panitia pelaksana melakukan persiapan yang cukup panjang dengan mengadakan pertemuan antarpanitia setiap pekan berlokasi di MIT.

Pertemuan membahas masalah akomodasi dan transportasi bagi para ustaz yang akan mengisi acara, membuat spanduk, poster, filler dan yang paling penting adalah urusan makanan yang akan dikonsumsi oleh para tamu dan jemaah yang hadir. Makanan yang disediakan selain menu utama nasi beserta lauk pauknya, yang tidak kalah penting adalah menu pembuka seperti takjil dan kurma dengan jumlah sangat banyak, sehingga diperlukan waktu dua hari dalam sepekan untuk membungkus kurma-kurma tersebut sebelum tiba di hadapan para jemaah.

Sebagai salah seorang panitia yang bertindak sebagai penanggung jawab konsumsi, Dina juga bertanggung jawab terhadap sukses tidaknya penyelenggaraan tablig akbar. Oleh karena itu pertemuan dengan panitia pelaksana lainnya dilaksanakan secara maraton sepekan dua kali untuk memastikan acara yang akan digelar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dina sangat bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wataala untuk berbuat sesuatu yang in sya Allah bermanfaat bagi orang banyak, utamanya jemaah Masjid Indonesia Tokyo dan masyarakat Indonesia lainnya yang akan menghadiri tablig akbar. Oleh karena itu agar dapat menjalankan tugas di KIJ yang tidak ringan selama bulan suci Ramadan ini, Dina mengundurkan diri dari pekerjaannya walaupun diiming-imingi kenaikan gaji oleh perusahaan. Dina bertahan dengan pendiriannya untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus aktivitasnya di KIJ dan tentu saja fokus beribadah, paling tidak selama bulan suci Ramadan ini.

Acara tablig akbar dilengkapi dengan pemberian door prize bagi peserta yang hadir, kemudian dilanjutkan dengan berbuka, salat magrib, lalu salat tarawih dan ditutup dengan makan malam bersama.

Adapun dana untuk acara yang diselenggarakan oleh MIT selama bulan suci Ramadan diperoleh dari beberapa perusahaan besar di Indonesia yang memiliki kantor perwakilan di Tokyo serta perusahaan makanan halal milik pengusaha Jepang yang menyasar konsumen dari kalangan umat Islam di Jepang. Semoga aktivitas umat Islam di luar negeri seperti Tokyo ini bisa menjadi pendorong bagi aktivitas dakwah di dunia Islam. Ramadan di Tokyo bagi orang Indonesia menggambarkan bagaimana semangat untuk dakwah itu sangat besar di Tokyo dan aktivitas keislaman juga berkembang di sana.***

Editor : Bayu Saputra
#petuah ramadan