PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - PUASA yang kita kerjakan dalam bulan suci Ramadan memiliki pesan-pesan substantif. Setidaknya, ada dua pesan. Pertama, niat berpuasa mengajarkan kita tidak sekadar bahwa kita merancang untuk berpuasa, namun mengajarkan kita akan pentingnya rancangan untuk masa depan.
Dalam tradisi hukum Islam, niat menempati posisi penting. Setiap ibadah yang kita lakukan sebagai muslim tak terlepas dari niat. Puasa yang kita kerjakan tak akan sah tanpa niat. Dalam hukum Islam (fiqh), niat berpuasa adalah rukun puasa. Niat puasa pada dasarnya adalah rancangan kita untuk melaksanakan ibadah puasa.
Dengan demikian, niat secara sosiologis adalah perencanaan atau rancangan tentang apa yang akan kita lakukan di masa depan. Kalau salah satu rukun puasa adalah niat, maka, secara analogis, rencana atau rancangan masa depan adalah rukun kehidupan. Tanpa perencanaan, hidup tidak sah atau gagal.
Jika kita menganggap niat sebagai pondasi penting dalam berpuasa, maka dapat kita tarik pelajaran bahwa perencanaan masa depan juga merupakan pondasi kehidupan yang sama pentingnya. Rencana masa depan adalah peta yang memandu langkah kita. Ia memberi kita tujuan dan arah sehingga kita tidak tersesat dalam perjalanan hidup. Seperti halnya puasa yang memerlukan niat agar sah, hidup juga memerlukan rencana agar berarti.
Baca Juga: Telatah Ramadan : Oghang Ni Nyengkow
Perencanaan hidup bukan hanya tentang mengatur keuangan atau karier. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, hubungan sosial, hingga pengembangan diri. Dengan memiliki rencana, kita dapat mengantisipasi tantangan, memanfaatkan peluang, dan mencapai tujuan hidup kita.
Hidup tanpa rencana bagaikan kapal tanpa nakhoda. Kita mungkin terombang-ambing oleh arus, tanpa tahu ke mana tujuan kita. Sebaliknya, hidup dengan rencana bagaikan kapal dengan anakhoda yang berpengalaman. Kita tahu ke mana tujuan kita dan kita siap menghadapi badai yang mungkin datang.
Dalam puasa Ramadan, kita selalu berhadapan dengan rencana. Dalam bulan suci ini, kita biasanya diajarkan untuk bersiap-siap menghadapi tantangan berpuasa selama satu bulan. Kita biasanya menggunakan istilah tarhib Ramadan sebelum puasa Ramadan tiba.
Tarhib Ramadan adalah rancangan kita sebelum masuk bulan suci Ramadan yang bertujuan agar kita diminta mempersiapkan mental dan fisik. Selain itu, sebelum berbuka di sore hari, biasanya kita di siang atau bahkan pagi hari sudah merancang menu berbuka puasa. Ini menunjukkan bahwa puasa mengajarkan kita untuk selalu berpikir tentang masa depan. Tapi apakah kita umat Islam sudah memetik pelajaran dari pesan ini?
Max Weber (1864-1920), seorang ahli sosiologi dari Jerman, pernah meneliti mengapa ada masyarakat yang maju, namun di sisi lain ada juga masyarakat yang belum maju? Ia mengamati adanya disparitas yang mencolok antara masyarakat yang mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang dengan masyarakat yang masih tertinggal dalam perkembangannya.
Salah satu yang membedakan masyarakat yang maju dengan masyarakat yang terbelakang adalah, masyarakat yang maju selalu memikirkan masa depan. Singkatnya, masyarakat maju memiliki gagasan masa depan. Masyarakat maju tidak hanya berfokus pada masa kini, tetapi juga memiliki visi yang jelas tentang masa depan.
Baca Juga: Hukum Puasa bagi Pekerja Berat
Mereka memiliki gagasan tentang bagaimana mereka ingin masyarakat mereka berkembang dan mereka secara aktif bekerja untuk mencapai tujuan tersebut. Gagasan tentang masa depan ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk teknologi, ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Mereka berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk menciptakan teknologi baru yang akan meningkatkan kualitas hidup. Mereka juga mengembangkan strategi ekonomi yang berkelanjutan untuk memastikan kemakmuran jangka panjang.
Visi masa depan ini menjadi panduan bagi masyarakat maju dalam mengambil keputusan dan tindakan. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi juga secara proaktif membentuk masa depan yang mereka inginkan.
Dengan memiliki gagasan masa depan, masyarakat maju dapat mengantisipasi tantangan dan peluang yang akan datang, sehingga mereka dapat lebih siap dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.
Puasa mengajarkan kita untuk memiliki gagasan masa depan. Apa yang kita rancang melalui niat berpuasa, jadwal kegiatan ceramah agama, rancangan menu berbuka puasa, dan rancangan lainnya idealnya berkorelasi dengan kehidupan kita di luar bulan suci Ramadan.
Kehidupan kita seharusnya berbasis rencana yang baik. Yang paling sederhana, sebagai orang tua misalnya, sudahkah kita merencanakan masa depan anak-anak kita? Apakah kita sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak kita hingga perguruan tinggi?
Kedua, puasa melatih kita untuk taat pada aturan, pada regulasi, pada hukum perundangan. Dalam berpuasa kita diberikan norma aturan yang membatalkan puasa. Jika kita ingin puasa kita sah, maka regulasi tersebut harus dipatuhi.
Hal ini mencerminkan bahwa, dalam kehidupan, norma atau aturan adalah mutlak. Bayangkan kalau kita tidak memiliki aturan atau hukum, maka yang kuat yang berkuasa seperti hutan rimba. Di hutan yang berkuasa adalah raja hutan karena ia yang paling kuat.
Muslim yang melaksanakan ibadah puasa semestinya merupakan individu yang paling taat pada hukum. Puasa adalah ibadah yang melatih kita untuk taat pada aturan hukum. Puasa melarang kita untuk melanggar aturan membatalkan puasa seperti makan dan minum.
Puasa juga mendorong kita untuk taat pada aturan untuk menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang oleh agama. Ini termasuk berbohong, mencuri, bergosip, dan perbuatan tercela lainnya. Dengan menahan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut, seorang muslim yang berpuasa sedang melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang taat hukum, patuh regulasi.
Seorang muslim yang berpuasa seharusnya menjadi pribadi teladan yang taat pada hukum dan memiliki integritas yang tinggi. Mereka akan menghindari perbuatan yang melanggar hukum dan selalu berusaha untuk berbuat baik kepada sesama.
Jika dua pesan substantif tersebut bisa kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, maka masyarakat Islam akan menjadi masyarakat yang maju. Masyarakat Islam, sayangnya, dewasa ini justru berorientasi pada masa lalu dan masa kini, bukan masa depan.
Kemajuan Islam masa lalu menjadi memori publik yang romantis dalam masyarakat Islam. Hal ini kadangkala mengurangi fokus kita akan masa depan. Selain itu, korupsi, kejahatan perang, jual beli narkoba serta pelanggaran hukum lainnya masih menghantui masyarakat Islam di berbagai wilayah dunia.
Masyarakat Islam sedang mengalami kemunduran karena dua pesan substantif puasa di atas belum direalisasikan dalam kehidupan di luar Ramadan. Dari puasa kita belajar bahwa masyarakat yang terbelakang adalah masyarakat tanpa perencanaan atau visi masa depan dan masyarakat yang tidak taat hukum.***
Editor : Bayu Saputra