RIAUPOS.CO - Dalam Al-Qur’an telah diisyaratkan Allah SWT bahwa berpuasa adalah aktivitas yang telah menjadi ciri hidup manusia dari berbagai zaman. Puasa bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan mengendalikan nafsu seksual. Tapi juga suatu upaya untuk mengendalikan diri agar bisa sabar, empati dan lain-lain.
Sehingga puasa yang dilakukan oleh umat Islam dapat mencapai tujuan akhir yaitu agar manusia dapat meningkat ketakwaannya (QS Al-Baqarah: 183). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa dengan surga yang penuh dengan kenikmatan, pasangan yang menyenangkan, dan keridhaan-Nya.
Allah berfirman:
Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Ali Imran: 15)
Pada umumnya puasa dikaitkan dengan usaha untuk memenuhi perintah Allah. Dalam perkembangannya puasa memiliki multi fungsi, di antaranya adalah untuk menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, meningkatkan kecantikan, menyembuhkan penyakit psikologis, dan seterusnya. Tujuan dan tata cara puasa yang berbeda-beda tentu saja akan menghasilkan efek yang berbeda.
Puasa dan Ketahanan Fisik
Puasa adalah aktivitas jasadi, nafsani, dan ruhani. Tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan (fisik) manusia, ada sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Berpuasalah maka engkau akan sehat”.
Sebagaimana kita ketahui dan alami, seseorang yang berpuasa akan memulainya dengan sahur sebelum fajar dan berbuka puasa ketika matahari terbenam (saat Magrib tiba). Total waktu yang digunakan untuk berpuasa (di Indonesia) adalah sekitar 14 jam. Selama waktu tersebut orang yang berpuasa tidak melakukan aktivitas makan dan minum. Bagaimana efeknya terhadap fisik kita?
Berdasarkan hal tersebut dapat dipahami bahwa berpuasa dengan kerja fisik tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kadar glukosa darah. Sebaliknya, berpuasa dengan kerja fisik tetap memberikan kestabilan pada kadar glukosa darah normal. Kerja fisik pada saat berpuasa akan menjaga daya tahan tubuh sehingga komposisi tubuh ideal yang kita inginkan dapat tercapai.
Puasa Meningkatkan Nilai dan Pengalaman Keagamaan
Salah satu aspek penting puasa adalah nilai hidup. Menurut sebuah penelitian nilai hidup yang berkembang dalam diri seseorang dipengaruhi oleh aktivitas latihan yang dilakukan orang tersebut. Nilai hidup sendiri adalah nilai keagamaan, nilai sosial, nilai teori, nilai estetika, nilai ekonomi, dan nilai politik.
Puasa yang dilakukan dalam bulan Ramadan dapat mengembangkan aktivitas nilai keagaman pelakunya. Dalam tradisi beragama, khususnya Islam di Indonesia, setiap menjelang Salat Tarawih dan sehabis Salat Shubuh selalu diselenggarakan kajian keagamaan di masjid-masjid atau di musala, di samping berbagai acara lain.
Pengetahuan agama disampaikan secara masif dan intensif. Salah satu hal terpenting dalam pengetahuan agama adalah strategisnya posisi aktivitas di bulan ramadhan di mata Allah SWT. Salah satu contoh penting adalah segala perbuatan baik manusia akan dilipatgandakan pahalanya. Ajaran yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, di saat dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan, serta di mana dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan.”
Pada intinya, pada waktu berpuasa, orang didorong untuk beribadah dan beramal yang sebanyak-banyaknya. Bila orang yang berpuasa melakukan upaya ibadah vertikal yang semakin intensif (seperti puasa, tarawih dan witir, salat sunat, membaca Al-Qur’an, mengaji, dan lain sebagainya) maka ia memperkuat nilai-nilai agama.
Selain itu, orang yang berpuasa dimungkinkan untuk mengalami berbagai pengalaman keagamaan. Pengalaman keagamaan digambarkan sebagai ungkapan religius yang tertanam dalam relung sanubari terdalam masing-masing pribadi. setiap manusia suatu saat niscaya mengalami hal-hal yang menggetarkan dan menakjubkan (trembling and fascinating) yang mungkin berlangsung dalam waktu sekejap atau lebih lama, disadari atau tidak.
Pengalaman beragama dapat disejajarkan dengan ihsan dalam konsep Islam. Pengalaman keagamaan muncul setelah atau saat seseorang intensif melakukan ibadah dan amal sosial. Intensitas ibadah di bulan puasa, misalnya saat orang mengaji, berzikir, dan melakukan muhasabah tiba-tiba muncul insight merasa dicerahkan oleh Allah.
Hal ini diisyaratkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ”Semua ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, (yang dilakukan) untuk-Ku, dan Aku akan memberinya pahala untuknya.” Ada dua kegembiraan untuk orang yang berpuasa: pertama pada saat berbuka (ifthar) puasa, dan kedua pada saat bertemu dengan Tuhannya; pada saat itulah ia akan menemukan keriangan dengan puasanya.”
Puasa Meningkatkan Nilai Sosial
Di samping itu, pada waktu puasa seseorang dianjurkan untuk melakukan ibadah horisontal (memberi makan orang yang berpuasa, memberi infaq, menyerahkan zakat fitrah, menyerahkan zakat mal, mengganti ketidakmampuan berpuasa dengan fidyah, dan sebagainya), maka puasa akan meningkatkan nilai sosial. Rasulullah sendiri memberi contoh untuk beramal yang sebanyak-banyaknya kepada orang lain. ”Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan sifat dermawannya itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yakni ketika ia ditemui malaikat Jibril” (HR Bukhari). Suasana puasa yang mendorong orang untuk beramal bagi kesejahteraan dan kebaikan orang lain ini pada gilirannya akan menghidupkan nilai sosial.
Kekuatan puasa (Ramadan) dalam menghidupkan atau memperkuat nilai-nilai hidup sosial dan agama dicapai melalui proses pengulangan. Pengulangan yang terus menerus memberi bekasan yang relatif menetap dalam diri seseorang. Aktivitas beribadah dan beramal sosial akhirnya menguatkan nilai sosial dan nilai keagamaan seseorang.***
Editor : Arif Oktafian