JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI menerima kunjungan Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar Gonzalez Grau, pada awal 2026. Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua pihak untuk memperkuat kerja sama strategis, termasuk solidaritas kemanusiaan atas krisis energi di Kuba serta peluang kolaborasi pendidikan kedokteran.
Ketua BKSAP DPR RI, Syahrul Aidi Maazat menyampaikan apresiasi atas hubungan historis Indonesia dan Kuba yang telah terjalin sejak era Presiden Soekarno. Menurutnya, meski dipisahkan jarak geografis yang jauh, kedua negara memiliki kedekatan emosional dan sejarah panjang solidaritas anti-kolonialisme serta semangat kerja sama Selatan–Selatan.
“Hubungan Indonesia dan Kuba dibangun di atas fondasi solidaritas dan persahabatan yang kuat. Ini bukan sekadar hubungan diplomatik, tetapi juga ikatan historis yang perlu terus kita perkuat melalui kerja sama konkret yang saling menguntungkan,” kata Syahrul Aidi dalam keterangan resminya, Kamis (19/2/2026).
Ia menjelaskan, pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan diplomasi BKSAP DPR RI ke Parlemen Kuba pada Agustus 2025 lalu. Dialog yang telah terbangun, kata dia, menjadi fondasi kokoh untuk memperluas kolaborasi di bidang politik, sosial, budaya, pendidikan, hingga pembangunan.
Dalam pertemuan tersebut, BKSAP juga menyampaikan keprihatinan atas krisis bahan bakar yang tengah melanda Kuba. Produksi energi dalam negeri Kuba saat ini disebut baru mampu memenuhi sekitar 30 persen dari kebutuhan nasional.
“Kami menyampaikan solidaritas kemanusiaan atas tantangan energi yang dihadapi Kuba. Melalui diplomasi parlemen, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memberikan dukungan moral dan diplomatik yang diperlukan,” ujar politis muda PKS itu .
Di bidang pendidikan dan kesehatan, BKSAP menilai Kuba memiliki capaian luar biasa. Sistem kesehatan negara tersebut dikenal dengan rasio dokter yang tinggi dan pendekatan preventif yang kuat.
“Kuba telah membuktikan bahwa sistem kesehatan yang inklusif dan berbasis penguatan SDM medis mampu memberikan layanan yang merata. Indonesia perlu belajar dari pengalaman itu,” katanya.
Anggota Komisi I itu menambahkan, pihaknya menjajaki peluang pengiriman mahasiswa Indonesia untuk menempuh studi kedokteran dan kesehatan masyarakat di Kuba. Skema dukungan, termasuk kemungkinan beasiswa dan pembiayaan tiket perjalanan pulang-pergi, dinilai dapat membuka akses lebih luas bagi generasi muda Indonesia.
Ia menegaskan, kerja sama pendidikan tersebut sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas strategis nasional.
“Kerja sama ini bukan sekadar program pertukaran, tetapi investasi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas tenaga medis kita dan mempercepat terwujudnya sistem kesehatan nasional yang lebih baik,” ungkapnya.
Selain pendidikan dan kesehatan, pertemuan juga membahas potensi kolaborasi di sektor pariwisata, seni budaya, olahraga, dan industri kreatif. Pertukaran budaya serta kemungkinan pengiriman pelatih olahraga dinilai dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
BKSAP menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat hubungan Indonesia–Kuba melalui dialog politik, kerja sama sosial budaya, hingga kolaborasi konkret yang berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat kedua negara.
“Kami percaya kemitraan yang dibangun atas dasar kesetaraan dan saling menghormati akan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia dan Kuba,” pungkasnya.(yus)
Editor : Edwar Yaman