PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Komisi I DPRD Kota Pekanbaru menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Yayasan Ayo Indonesia Mengaji, yayasan yang menaungi TK, SD dan Pondok Pesantren Al-Fatih Pekanbaru, Selasa (21/4). Hal ini menyusul adanya komplain dari masyarakat tempatan.
Komisi I yang dipimpin Robin Eduar, didampingi Aidhil Nur Putra, Aidil Amri, Irman Sasrianto dan Syafri Syarif mendapati fakta bahwa baru satu dari enam bangunan di sekolah itu mengantongi izin.
Pada rapat itu Komisi I mengeluarkan rekomendasi agar pihak yayasan untuk mengurus semua izin yang diperlukan. Apalagi sebagian besar gedung sudah berdiri.
Baca Juga: DPRD-Pemprov Riau Sepakati Rekomendasi LKPj 2025
“Kami minta kepada yayasan untuk melengkapi izin ini sesegera mungkin. Ini akan kita awasi progres perizinannya sampai dimana, bila tidak ada progres akan kita panggil lagi,” sebut Robin.
Robin menegaskan, apapun usaha yang digeluti wajib ikut aturan. Apalagi, kata dia, Al-Fatih sudah berkembang pesan pada beberapa tahun terakhir, hingga memiliki seribuan siswa. Maka perizinannya tidak boleh ditunda lagi.
Robin juga mengingatkan soal komplain dari masyarakat terkait lalu lintas. Pasalnya, aktivitas datang dan pulang para pelajar TK dan SD sekolah tersebut kerap memicu kemacetan.
Baca Juga: Pemkab Meranti Berkonsultasi ke DPRD Pekanbaru Terkait LKPj
Ditemui usai rapat Ketua Yayasan Ayo Indonesia Mengaji Anthon Wiliandri mengaku pihaknya telah mengurus izin. Satu sudah memiliki izin dan lima dalam proses.
“Dari awal izinnya sudah ada, sudah diurus. Satu sudah ada. Lima sudah proses, satu tinggal menunggu jadwal sidang, SLF (Sertifikat Layak Fungsi, red) namanya. Yang keempat ini dalam proses konsultan, jadi proses di kami sudah selesai,” ujarnya.
Anthon juga mengatakan jika diberi waktu lebih, ia ingin memaparkan tabel progress sampai dimana proses perizinan itu. Tapi tidak diberi waktu.
“Jadi ke empat-empatnya dalam proses konsultan, ada uji tesnya. itu butuh waktu lama di tenaga ahli. Selesai di ahli, selesai juga semua itu,” ujar Anthon yang membawa sejumlah staf untuk membawa banyak dokumen.
Disinggung terkait perizinan yang sudah dimulai sejak 2017, tapi tidak tuntas, Anthon menerangkan saat itu pihaknya tidak mampu membayar administrasi. Nilainya saat itu Rp77 juta dan Rp23 juta, namun karena siswa masih sedikit perizinan gagal tuntas.
Baca Juga: Dukung Pemberantasan Narkoba
“Maka saat itu belum diambil, lalu MPP terbakar dan hilang berkas itu semua, hangus. Tapi sekarang sudah bisa kami bayar,” ungkapnya.
Sementara terkait masalah lalu lintas, Anthon menerangkan meskipun ada 1.000 siswa, namun jadwal aktifnya hanya sekali dalam satu bulan. Sedangkan untuk SMA, tiga bulan sekali. Hal ini karena sekolah itu untuk SMP dan SMA merupakan pondok pesantren.
Namun Anthon mengakui ada sekitar 400 pelajar TK dan SD yang hampir setiap hari masuk keluar di Jalan Kayu Manis, Beringin Indah itu. Iapun sudah mencarikan solusinya.
“Untuk drop (antar jemput pelajar, red) kami sudah sewa parkir, rencana akan kami tambah. Selain itu kami sudah meminta ke Dishub untuk mengatur lalu lintas di sana agar ini bisa diatasi,” sebutnya.
Untuk lalu lintas ini, yang menjadi sumber komplain warga sekitar, Al-Fatih, kata Anthon, bahkan siap bekerja sama dengan Dishub Pekanbaru untuk pengaturan lalu lintas. “Bila perlu ada kerja sama, kami juga siap bila ada biayanya,” tutup Anthon.(end)
Editor : Arif Oktafian