Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pembentukan BUMN Ekspor Bisa Selamatkan Kebocoran Negara  

Redaksi • Kamis, 21 Mei 2026 | 12:42 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Presiden Prabowo Su­bianto mengklaim kebijakan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor bernama Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) berpotensi menyelamatkan kebocoran penerimaan negara hingga 150 miliar dolar AS atau setara Rp2.653,92 triliun per tahun. 

Menurut Prabowo, pembentukan badan ekspor SDA di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperbaiki tata kelola ekspor komoditas nasional yang selama ini dinilai masih menyisakan banyak celah kebocoran. 

“Kita perhitungkan, kita perkirakan potensi uang yang bisa kita selamatkan dari kebocoran-kebocoran itu 150 miliar dolar AS tiap tahun. Potensi. Apakah kita mampu atau tidak, tergantung keberanian kita, tergantung tekad kita, tergantung apa kita bisa bekerja sama dengan baik atau tidak,” kata Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Rabu (20/5).

Baca Juga: DPD Perindo Kuansing Buka Seleksi PAC 

Ia menjelaskan, badan baru tersebut nantinya akan memperkuat pengawasan dan monitoring terhadap aktivitas ekspor komoditas strategis Indonesia. Dengan begitu, praktik-praktik yang merugikan negara seperti under-invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor dapat ditekan.

“Tujuan utama kebijakan ini adalah memperkuat pengawasan dan monitoring serta memberantas praktik kurang bayar (under-invoicing), praktik pemindahan harga (transfer pricing), dan pelarian devisa hasil ekspor,” jelasnya.

Prabowo menilai, selama ini Indonesia belum memperoleh manfaat maksimal dari pengelolaan SDA yang dimiliki. Padahal, kata dia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan cada­ngan komoditas strategis terbesar di dunia.

Oleh karena itu, peme­rintah ingin memperbaiki sistem tata kelola ekspor agar penerimaan negara dari sektor SDA dapat meningkat signifikan dan setara dengan negara-negara lain seperti Meksiko, Filipina, hingga Malaysia.

Baca Juga: PKB Kenang Perjuangan Gus Dur Melawan Diskriminasi  

“Kita tidak mau pene­rimaan kita paling rendah karena kita tidak berani mengelola milik kita sendiri, milik bangsa Indonesia sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa seluruh sumber daya alam Indonesia pada hakikatnya merupakan milik rakyat yang harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional. “Sesungguhnya kita harus percaya bahwa semua sumber daya alam Indonesia adalah milik rakyat Indonesia, milik bangsa Indonesia,” lanjut Prabowo. 

Adapun pada tahap awal, kebijakan ekspor melalui BUMN DSI akan diterapkan untuk perdagangan minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan paduan besi.

“Kita wajibkan harus dilakukan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah RI sebagai pengekspor tunggal. Dalam artian hasil dari setiap penjualan ekspor akan di­teruskan oleh BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah kepada pelaku usaha penge­lola kegiatan tersebut,” pungkasnya.(gem) 

Laporan JPG, Jakarta

Editor : Arif Oktafian
#ekspor #bumn #Presiden Prabowo