Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

PSMTI Riau Gelar Seminar Akbar, Hadirkan Para Tokoh Kebhinekaan

Edwir Sulaiman • Senin, 8 Mei 2023 | 13:00 WIB
Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau untuk pertama kalinya di tahun 2023 mengadakan seminar akbar dengan mengahdirkan para narasumber terkemuka, Ahad (7/5/2023).
Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau untuk pertama kalinya di tahun 2023 mengadakan seminar akbar dengan mengahdirkan para narasumber terkemuka, Ahad (7/5/2023).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau untuk pertama kalinya di tahun 2023 mengadakan seminar akbar dengan mengahdirkan para narasumber terkemuka, Ahad (7/5) di The Zuri Hotel Pekanbaru.

Mengangkat tema " Dialog Tionghoa dalam kebhinekaan" seminar akbar ini dimoderatori oleh Ketua DPW PITI Provinsi Riau yang juga Ketua Harian PSMTI Riau Jailani Tan dengan dua narasumber terkemuka yaitu Ketua PSMTI Riau Staphen Sanjaya, dan Pendiri Museum Peranakan Tionghoa Indonesia Azmi Abubakar.

Kelvin Ketua panitia selain mengucapkan terima kasih kepada tim panitia, dan sponsor serta pendukung. Kelvin mengatakan bahwa ia berharap acara berjalan dengan lancar.

Apalagi kegiatan ini dihadiri hampir 500 orang peserta yang berasal dari kabupaten dan kota di Provinsi Riau mampu luar Provinsi Riau.

"Kami sangat berterimakasih atas dukungan semua pihak sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik,"ucapnya.

Sementara itu, Ketua PSMTI Riau yang memberikan materi soal sejarah PSMTI menyebutkan bahwa berdirinya PSMTI sejak paska kerusuhan Mei 1998. Keberadaaan PSMTI ini adalah merupakan kelanjutan dari apa yang menjadi tujuan pendiri PSMTI itu sendiri.

Para tokoh masyarakat menyadari ada akar masalah yang perlu didialogkan dan diselesaikan serta diusahakan bisa diselesaikan satu kali untuk selamanya.

Untuk keperluan itu perlu wadah yang kompeten untuk menampung dan menyalurkan aspirasi serta didialogkan dengan Pemerintah, Dewan Perwakilan dan golongan masyarakat untuk menemukan akar masalah dan untuk diselesaikan dengan sebaik – baiknya.

Maka melalui 14 orang Pendiri, dideklarasikan Organisasi Sosial etnis Tionghoa ini dalam wadah PSMTI. Maka pada tanggal 28 September 1998, PSMTI di deklarasikan. Dengan pendiri Brigjen Purnawirawan Tedy Yusuf.

Upacara deklarasi dihadiri lebih dari 1000 orang bertempat di Gedung Sigala  gala Sunter Jakarta Utara. Disahkan pula Logo, AD ART dan Kepengurusan sementara Periode 1998 – 2000. Deklarasi ditandai dengan Penanda tanganan Piagam Pendirian oleh 88 Marga seluruh Marga Tionghoa yang ada di Indonesia.

Untuk kepentingan kegiatan operasional di seluruh Indonesia, PSMTI mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar dari Dirjen Sospol Depdagri No. 132 Tahun 1998 tanggal 18 September 1998 dan dibuatkan Akta Notaris Raden Johanes Sarwono. SH No. 55 tanggal 28 Agustus 1998.

Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia  adalah sebuah organisasi kemasyarakatan suku  Tionghoa di  Indonesia yang pada periode 2022-2026 dipimpin Wilianto Tanta selaku Ketua Umum PSMTI Pusat.

PSMTI ini didirikan oleh Brigjen TNI Purn Tedi Jusuf pada tahun 28 September 1998. PSMTI ini juga mempunyai banyak cabang di daerah di provinsi -provinsi, kabupaten, kota yang menjadi konsentrasi suku Tionghoa.

PSMTI merupakan organisasi etnik Tionghoa berskala nasional yang pertama dibentuk pasca reformasi. Secara umum, PSMTI yang merupakan organisasi Tionghoa terbesar di Indonesia telah berdiri di 167 kabupaten/kota di 30 provinsi seluruh Indonesia.

Faktor lainnya yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan PSMTI dalam merespon kebijakan pemerintah adalah lingkungan domestik dan internasional yang membuatnya harus terus mampu menjaga relevansi. Hingga hari ini, PSMTI masih terus secara konsisten menyuarakan penggunaan kata “Tionghoa” menggantikan kata “Cina”.

Meskipun Keputusan Presiden No. 12 Tahun 2014 telah menjadi paying hukum untuk mendorong perubahan penyebutan ini. Tetapi juga disadari dalam kenyataannya masih perlu sosialisasiyang luas dan penegasan yang konsisten untuk memberi wawasan akan dampak perubahan penyebutan tersebut, sehingga akhirnya dapat menjadi sebuah kesadaran nasional. Apalagi perkembangan sekarang ini baik dalam konteks hubungan Indonesia-Tiongkok maupun perkembangan Tiongkok sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, membuat PSMTI merasa perlu untuk meminta secara tegas penghapusan kata “Cina”.

Hal ini tidak lepas dari kekhawatiran akan dampaknya pada etnis Tionghoa di Indonesia akibat keterbatasan pengetahuan masyarakat terhadap perbedaan kata “Cina” sebagai etnis dan “Cina” sebagai negara atau foreign entity. Dalam konteks inilah, PSMTI juga sedang berjuang agar Presiden Joko Widodo membuat pernyataan demikian, hal ini tentu sangat relevan dengan konteks relasi Indonesia-Tiongkok saat ini yang begitu progresif, tetapi rentan untuk dipolisitir akibat sejarah masa lalu.

Para tokoh masyarakat menyadari ada akar masalah yang perlu didialogkan dan diselesaikan serta diusahakan bisa diselesaikan satu kali untuk selamanya.

Untuk keperluan itu perlu wadah yang kompeten untuk menampung dan menyalurkan aspirasi serta didialogkan dengan Pemerintah, Dewan Perwakilan dan golongan masyarakat untuk menemukan akar masalah dan untuk diselesaikan dengan sebaik – baiknya.

"Dengan acara ini kita ingin memberikan informasi terkait sejarah Tionghoa kepada para kaum muda dan masyarakat sehingga tidak ada sejarah yang luput dari pengetahuan semua pihak," tuturnya.

Pendiri Museum Peranakan Tionghoa Indonesia Azmi Abubakar mengatakan  sejarah kepatriotan orang Tionghoa. Aktivis Hak Azazai Manusia (HAM) dan sekaligus pendiri pusaka peranakan Tionghoa menjelaskan sejarah kepatriotan orang Tionghoa di Nusantara.

‘Kepatriotan orang Tionghoa juga tak kalah luar bisa,"jelasnya.

Apalagi, sebagai orang Aceh ia dapat  menggambarkan soal perlawanan orang Aceh dan Tionghoa melawan Belanda ratusan tahun sebelumnya. Sebab orang Aceh melawan Belanda sejak tahun 1873 sampai Indonesia berdiri. Tetapi orang Tionghoa  sebelumnya tahun 1740-1743.

Bahkan menurut dua guru besar Belanda saat ini terdapat perang mahadahsyat sepanjang menduduki  nusantara beranama Geger Pencinan. Perang yang dihadapi kompeni  Belanda melawan orang Tionghoa bersekutu dengan Tentara Mataram Jawa.

Perang itu dimulai dari Batavia (Jakarta saat ini) menyisir sepanjang pesisiri Pulau Utara. Sampai Banyu Wangi. Dalam perang itu hanya dikenal nama-nama besar Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I, Pakubuwono II hingga Amangkurat V.

Namun ada dikenal nama Souw (Oey) Phan  Chiang, dan lainnya. Namanya tidak Indonesia, namun dialah orang yang bersekutu dengan tentara Mataram Jawa di bawah pimpinan Pakuwbuwono II dan Mangkubumi  saat itu dan berhasil merebut banteng Kertosuro.

"Hampir saja mereka berhasil mngusir Belanda ketika itu,” jelasnya. Dan kisah besar  ini menjadi bahan ajar bagi anak SD pada tahun 1950-1960. Kisah ini menghilang hingga puluhan tahun dan kini mulai dikuak kembali dan bisa dilihat di Museum Tionghoa.

Sementara minatnya sendiri mendirikan Museum Peranakan Tionghoa oleh karena dirinya sebagai orang Aceh memiliki dasar latar belakang yang sama dengan sisi sejarah Tionghoa yang melekat ketika Tsunami Aceh terjadi.

Dimana Museum Pustaka Peranakan Tionghoa adalah museum yang menyimpan koleksi literatur,komik, surat kabar dan barang- barang lainnya tentang sejarah Tionghoa di Indonesia. Museum ini berlokasi di Ruko Golden Road BSD, Tangerang Banten. Pada tahun 2011 dan telah memiliki lebih dari 30.000 koleksi kepustakaan Tionghoa Indonesia.

"Saya sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh PSMTI Riau yang ikut menyebarkan informasi terkait sejarah Tionghoa kepada masyarakat yang mana pada masa sebelumnya masyarakat Tionghoa sendiri pun tidak mengetahui sejarah yang mereka memiliki di Indonesia. Apalagi masyarakat Tionghoa juga merupakan bagian dari NKRI yang harus ikut diketahui sejarah pentingnya oleh masyarakat luas,"tegasnya.

 

Laporan: Prapti Dwi Lestari (Pekanbaru)

Editor: E Sulaiman

Editor : Edwir Sulaiman
#seminar #pemti riau #tionghoa #cina