Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Arus Jalintim Tak Bergerak, Petugas Mulai Keluhkan Gatal-gatal

Tim Redaksi • Minggu, 14 Januari 2024 | 10:45 WIB
Personel gabungan TNI/Polri berusaha mengevakuasi delapan truk yang mogok di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatra Km 83 menuju Km 73 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan
Personel gabungan TNI/Polri berusaha mengevakuasi delapan truk yang mogok di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatra Km 83 menuju Km 73 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan

RIAUPOS.CO - Banjir yang melanda 26 desa dan kelurahan di 7 kecamatan Kabupaten Pelalawan, masih tetap bertahan hingga Sabtu (13/1). Meski berdasarkan penghitungan alat pengukur level debit ketinggian permukaan air Sungai Kampar, menunjukkan adanya penyurutan 7 sentimeter, namun genangan air masih merendam badan jalan hingga pemukiman warga.

Banjir pada Sabtu (13/1) juga menyebabkan delapan truk besar (tronton) sempat mogok di km 83 Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera. Hingga malam tadi, aparat kepolisian bersama TNI terus berusaha melakukan evakuasi terhadap truk-truk yang mogok. Arus kendaraan Jalintim pun sempat tak bergerak. Aparat kemudian melakukan buka tutup hingga dua jam, sambil terus mengevakuasi truk yang mogok.

Saat ini, akses jalur darat warga masih terputus dengan ketinggian air bervariasi dari 50 hingga 180 sentimeter atau mencapai dua meter. Tentunya, banjir ini, sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Pasalnya, jalan darat yang telah digenangi air ini hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air yakni pompong dan sampan. Serta kendaraan roda 10 jenis towing atau trado.

“Ya, banjir masih tetap bertahan menggenangi 7 kecamatan di Pelalawan. Di mana saat ini, tinggi permukaan air yang menggenangi badan jalan hingga pemukiman warga, telah mengalami penyurutan level air setinggi 7 sentimeter. Namun demikian, kita tentunya masih tetap terus intens melakukan pemantauan debit air Sungai Kampar,” terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan MSi kepada Riau Pos, Sabtu (13/1) sore kemarin.

Dikatakan mantan Sekretaris Diskominfo Pelalawan ini bahwa kondisi banjir terparah masih berada di Dusun Muara Sako, Kelurahan Langgam, Kecamatan Langgam. Di Dusun ini, ketinggian air yang sebelumnya berada pada angka 70 sentimeter hingga mencapai 2 meter, saat ini berada pada angka 50 hingga 180 sentimeter. Sedangkan banjir ini masih merendam badan jalan hingga permukiman warga serta fasilitas umum berupa SDN 004 Dusun Muara Sako, sehingga menyebabkan warga terisolir.

Genangan air yang merendam badan jalan pemda Desa Lubuk Ogung, Kecamatan Bandar Seikijang, saat ini juga telah mengalami penyurutan yang saat ini berada pada angka 1,5 meter. Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, saat ini juga telah mengalami penyurutan yang saat ini berada pada angka 25 hingga 50 sentimeter.

Begitu juga kondisi banjir di Desa Rantau Baru, Desa Kuala Terusan, dan Dusun Kualo Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, hingga Jalan Lintas Timur Desa Kecamang Kecamatan Pangkalan Kuras serta desa dan kelurahan lainnya, perlahan-lahan telah mulai berangsur menyurut. Namun demikian, kondisi jalan darat masih terputus, sehingga hanya dapat dilalui menggunakan alat transportasi air yakni sampan dan pompong. Serta kendaraan roda 10, khususnya banjir di Jalintim km 73-83 Desa Kemang.

Meski tinggi permukaan air mengalami penyurutan, namun pihaknya tetap meminta dan mengimbau agar seluruh masyarakat khususnya di daerah bantaran sungai dapat tetap terus waspada terhadap bahaya banjir. Pasalnya, intensitas curah hujan masih tetap tinggi hingga akhir Januari 2024 ini.

“Sehingga banjir diprediksi masih tetap bertahan dan bahkan tingginya akan kembali bertambah naik. Sedangkan level tinggi permukaan air Sungai Kampar saat ini masih di atas normal 2.00-3,10 meter,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK melalui Kasat Lantas AKP Akira Ceria SIK MM membenarkan adanya penyurutan tinggi permukaan air yang telah merendam badan Jalintim km 73-83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras. Namun demikian, penurunan tersebut masih belum mempengaruhi kepadatan aktivitas lalu lintas kendaraan di jalan lintas provinsi tersebut.

“Ya, memang kondisi tinggi air sedikit menurun, tapi tetap belum membuat aktivitas lalu lintas kendaraan berjalan normal. Sehingga dengan kondisi tersebut, petugas gabungan masih menerapkan sistem buka tutup jalan,” beber Akira.

Bahkan, sambung mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini, genangan air yang merendam badan Jalintim tepatnya di km 83, telah menyebabkan 8 kendaraan roda 10 jenis truk tronton mengalami mati mesin atau mogok di tengah badan Jalan. Alhasil, kondisi tersebut telah menyebabkan arus lalu lintas di lokasi titik banjir ini menjadi stuck atau tidak bergerak.

“Dan hingga saat ini, proses evakuasi masih tengah dilakukan personel gabungan dari TNI dan Polri. Namun demikian, arus lalu lintas tetap dibuka dengan pola buka tutup jalan. Artinya akses tidak kita tutup, namun tetap menerapkan sistem buka tutup jalan menggunakan satu jalur dengan jangka waktu 2 jam. Bagi sopir truk yang berani dan mahir mengemudi, kita persilakan melintas. Tapi, para sopir truk yang takut, kita minta tetap bertahan di jalan yang tidak dalam airnya sambil menunggu permukaan air menurun dan aman dilintasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Humas Polres Pelalawan, AKP Edy Haryanto menambahkan bahwa, banjir yang merendam badan Jalintim sejak hampir satu bulan terakhir, telah memberikan dampak buruk terhadap petugas gabungan yang melakukan pengaturan lalu lintas di lapangan. Pasalnya, cukup banyak petugas yang saat ini mengalami keluhan penyakit kulit yakni gatal-gatal.

“Ya, petugas yang berjaga di Jalintim yang direndam banjir mulai mengeluh gatal-gatal. Pasalnya, hampir seharian atau dari pagi hingga malam petugas berendam di badan Jalintim, khususnya km 83 yang tergenang banjir dengan tinggi permukaan air 1,5 meter atau mencapai dada orang dewasa. Apalagi, kondisi genangan air yang berasal dari parit ini tidak steril, sehingga keluhan gatal-gatal ini mulai dirasakan petugas yang melakukan pengaturan lalu lintas di lokasi titik banjir Jalintim,” tutupnya.

Tetap Buka Tutup
Arus kendaraan di Jalur Lintas Timur KM 183 Desa Barangan, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), lancar. Hanya saja, pada Jembatan Sungai Solok di Jalan Lintas Timur KM 183 Desa Barangan tetap diberlakukan buka tutup. Bahkan, pada jembatan yang ambruk setelah ditimbun, dapat lintasi semua kendaraan.

“Alhamdulillah, untuk semua kendaraan sudah dapat melintas dan tetap diberlakukan buka tutup,” ujar Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK melalui Kasubsi Penmas, Aiptu Misran, Sabtu (13/1).

Setelah sempat ditimbun pada badan jalan yang ambruk di Jembatan Sungai Solok, jalan itu hanya bisa digunakan untuk kendaraan roda dua. Hal itu dipengaruhi oleh tanah timbunan yang masih labil. Misran juga menyebut bahwa lama waktu buka tutup untuk kendaraan yang melintas, selama 15 menit. Namun demikian waktu lama buka tutup tersebut sifatnya dinamis dan tergantung situasi di lapangan. Kepada pengguna jalan, baik kendaraan roda dua mau mobil agar tetap hati-hati.

“Tanah timbunan masih belum tergolong rapi dan bagi kendaraan roda dua bisa menyebabkan kecelakaan bila kurang hati-hati,” ungkapnya.

Pekerjaan untuk perbaikan dari pihak pemerintah masih terus akan berjalan. Perbaikan itu untuk jalur sebelah kanan arah Pematang Reba-Pekanbaru. “Kerusakan pada jalur sebelah kanan cukup parah dan perlu penanganan serius,” bebernya.

Kepala KPBD Inhu, Mulyadi SSos mengatakan, luapan air Sungai Indragiri terus surut dari sebelumnya. “Wilayah di bagian hulu hingga Kecamatan Rengat sudah surut tapi masih mencapai 6,70 meter atau turun 8 sentimeter (cm),” ucapnya.

Mulyadi mengimbau warga yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Indragiri agar tetap waspada terhadap banjir susulan. “Intensitas curah hujan dalam dua hari ini sudah mulai berkurang. Namun warga tetap waspada,” harapnya.

11 Kecamatan Kini Terdampak Banjir di Rohil
Wilayah Kepenghuluan Rantau Bais merupakan daerah yang paling terdampak dari peristiwa banjir yang melanda Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) hingga pertengahan Januari ini. Salah seorang tokoh masyarakat Rantau Bais H Yardi mengungkapkan, dari kondisi yang terjadi di lapangan, menurutnya lebih dari 90 persen rumah warga sudah digenangi air dengan ketinggian air bervariasi.

“Sementara itu sudah banyak warga yang memilih mengungsi untuk sementara waktu dengan tinggal di tempat saudara,” kata Yardi, Ahad (13/1) kemarin. Kebanyakan mengungsi ke tempat kerabat yang umumnya ada di daerah Ujung Tanjung, Simpang Bangko (Rohil) maupun ada yang ke Duri (Bengkalis).

Keadaan itu tidak terlepas dari fakta bahwa kepenghuluan Rantau Bais di Kecamatan Tanah Putih tersebut merupakan salah satu desa atau kepenghuluan yang berdampingan langsung dengan alur Sungai Rokan.

Dataran yang ada di lingkungan kepenghuluan juga lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya seperti di Ujung Tanjung dan Tanah Putih.

“Hanya tinggal sekitar 30 persen saja lagi warga yang memilih bertahan untuk menjaga rumah maupun jaga kampung,” katanya.

Untuk ketinggian air, meskipun relatif berbeda-beda, namun menurutnya ada yang kondisi rumahnya mengkhawatirkan untuk ditempati karena ketinggian air yang menggenangi rumah mencapai satu meter. Sementara musim penghujan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.

“Kami meminta pemerintah maupun pihak perusahaan dapat membantu persoalan banjir ini termasuk untuk memberikan bantuan bagi warga,” katanya.

H Yardi menilai dengan kondisi yang sekarang terjadi, sebagian besar masyarakat terdampak banjir kesulitan untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan seperti berkebun, tani maupun nelayan sungai. Menariknya kejadian banjir ternyata tidak menyurutkan semangat warga untuk melaksanakan salat Jumat. Seperti yang terjadi pada pekan lalu di daerah Ulak Kembahang Kepenghuluan Air Hitam, Pujud.

Di mana karena masjid digenangi air, membuat pengurus bersama jamaah meninggikan atau membuat panggung sebagai tempat untuk melaksanakan salat. Sementara ada jamaah yang menggunakan sampan masuk ke dalam masjid. Salah seorang warga Rovizal Jondri mengatakan, di tengah kondisi banjir tak menyurutkan semangat jamaah masjid At Taqwa di Ulak Kembahang untuk salat berjamaah.

“Ada yang datang menggunakan sampan,” katanya.

Dibuatnya semacam panggung itu terangnya berdasarkan keterangan dari panitia pembangunan maupun imam masjid, sebagai bentuk antisipasi terhadap banjir yang terjadi. Belakangan memang benar ketinggian air bertambah.

“Menurut keterangan dari salah seorang tokoh Zahid bahwa banjir yang terjadi kali ini cukup besar, dan sudah lama tidak terjadi. Sebelumnya pernah melanda daerah tersebut pada tahun 1969,” kata Rovizal.

Kondisi serupa juga melanda Kepenghuluan Melayu Besar Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan. Ketinggian air yang menjangkau ke lingkungan masyarakat sudah ada yang mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Menurut salah seorang warga, Asen, kondisi banjir diperkirakan berlangsung lama sehingga membuat warga khawatir terjadi hal yang tak diinginkan.

“Sehingga sudah ada warga yang memilih mengungsi ke tempat keluarga terdekat masing-masing,” katanya.

Ia menerangkan, ketinggian air tersebut, rawan terjadi perubahan secara mendadak karena hal itu belum pada saat pasang. Dengan genangan air yang bertahan karena tingginya curah hujan, dan jika terjadi air pasang di Sungai Rokan, maka dipastikan air bertambah tinggi secara drastis.

Meskipun begitu untuk kesehatan masyarakat terangnya belum terlihat ada yang mengalami serangan rentan seperti diare atau penyakit kulit yang biasanya terjadi karena faktor banjir.

Bupati Rohil Afrizal SIntong, pada saat meninjau banjir di daerah Kelurahan Bagan Timur dan Bagan Jawa Kecamatan Bangko, baru-baru ini mengungkapkan, wilayah kecamatan terdampak banjir di Rohil telah mencapai 11 kecamatan.

“Dari 18 kecamatan, sudah 11 kecamatan yang terdampak,” katanya.

Satu kecamatan yang paling parah atau seluruh lingkungan rumah warga digenangi air karena dampak banjir ini yakni Kecamatan Rantau Kopar.

“Dengan kondisi yang terjadi pada saat ini, maka Rohil sudah darurat banjir,” kata bupati.

Bupati Afrizal menyampaikan rasa prihatinnya kepada warga yang terdampak banjir di mana musibah banjir ini telah melanda 11 kecamatan di Rohil. Dan bukan hanya Rohil saja yang mengalami banjir, tapi hampir seluruh kabupaten di Riau.

“Kami dari Pemkab Rohil berkesempatan hadir di sini untuk meninjau warga yang terdampak banjir di Kabupaten Rohil yang salah satunya di daerah Bagan Timur dan Bagan Jawa Kecamatan Bangko. Di mana saat ini sudah 11 kecamatan terdampak musibah banjir,” kata Afrizal Sintong.

Sebelumnya terang bupati, dirinya juga sudah meninjau banjir di daerah Sedingin, Sei Keladi dan Rantau Kopar. Berdasarkan data yang masuk, ada sekitar 42 ribu KK warga Rohil yang terdampak banjir. Bupati juga mengatakan bahwa saat ini Dinas Sosial masih menginput data warga dari 11 kecamatan yang terdampak banjir.

“Saat ini Dinas Sosial sedang menghimpun data warga dari 11 kecamatan yang terdampak banjir. Mudah-mudahan nanti bisa kami salurkan bantuan ke seluruh masyarakat Kabupaten Rohil yang terdampak banjir,” katanya.

Banjir tahun ini, terang bupati, merupakan yang terbesar melanda daerah Rohil dan Provinsi Riau, di mana hampir seluruh kabupaten/kota terdampak banjir. Bupati mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dan waspada terhadap situasi banjir saat ini.

Bupati berharap agar masya­rakat Rohil terus berhati-hati dan waspada terhadap situasi banjir ini karena saat ini Rohil bukan lagi status siaga banjir lagi tapi sudah darurat banjir. Untuk itu disampaikan kepada datuk penghulu dan lurah untuk mendata warganya yang terdampak banjir serta yang mengalami sakit dapat segera dilaporkan.

“Kami ingatkan kepada RT, RW, datuk penghulu, lurah dan camat untuk melakukan pendataan dan pengawasan terhadap masyarakat kita yang terdampak musibah banjir,” katanya.

Sehingga bagi masyarakat yang terdampak banjir yang mengalami sakit diare, demam atau gatal-gatal untuk bisa langsung berobat ke RSUD Pratomo dengan membawa kartu BPJS dan bagi yang tak memiliki BPJS bisa bawa KTP saja untuk penanganan khususnya sebagai warga terdampak banjir.(amn/kas/fad/muh)

Laporan TIM RIAU POS, Pangkalankerinci, Rengat, dan Ujung Tanjung

Editor : Rindra Yasin
#jalintim riau #jalintim buka tutup #banjir riau