Barongsai, salah satu tarian orang Tionghoa kerap dimainkan semasa Imlek. Replika singa ini bukan hanya sekadar dimainkan sebagai tarian biasa, tapi memiliki unsur beladiri, budaya, dan sejarah yang panjang. Kini, barongsai bahkan dipertandingkan dalam pekan olahraga Nasional (PON).
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Beberapa remaja bersiap untuk pertunjukan barongsai, pagi jelang siang, Kamis (15/2) di Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Pekanbaru Jalan H Guru Sulaiman, salah satu kawasan pecinan Pekanbaru. Puncak Imlek telah lewat. Tapi permintaan barongsai di beberapa kompleks perumahan Tionghoa cukup padat.
“Ini yang pemula. Kalau yang sudah mahir, latihannya malam hari,” ujar pelatih barongsai HBT, Muchtar.
Untuk menjadi pemain barongsai yang ahli relatif sulit. Setidaknya diperlukan waktu selama tiga tahun untuk bisa menjadi pemain barongsai yang ahli. Mereka yang tampil di mal, biasanya yang sudah ahli. Bahkan peralatan berat seperti tonggak besi yang disusun berangkai dan menjadi pijakan pemain barongsai ini didatangkan ke mal atau pusat keramaian. Tinggi tonggak besi antara 1,2 meter hingga 2,5 meter tentunya menjadi tantangan tersendiri. Diperlukan keahlian khusus agar pasangan pemain barongsai tidak jatuh saat beratraksi memainkan tarian singa (lion dance) ini.
“Kalau di perumahan cukup di lantai saja,” ujar Muchtar.
Kebanyakan para pemain barongsai masih berusia belasan tahun. Beberapa di antaranya bahkan sudah berlatih sejak berumur delapan tahun. Ada yang sejak kelas I atau II SD. Mereka yang bergabung untuk berlatih barongsai biasanya diarahkan untuk berlatih musik terlebih dahulu. Selain itu, mereka juga berlatih kuda-kuda. Selama tiga bulan pertama, yang dimantapkan hanya kuda-kuda.
“Kalau punya basis bela diri seperti wushu bagus. Tapi kalau tidak, yang penting kuda-kuda sudah bagus, baru bisa lanjut ke teknik barongsai,” ujar Muchtar.
Baca Juga: Rayakan Imlek dengan Sederhana
Barongsai memiliki teknik dasar dan teknik lanjutan. Dalam teknik dasar perlu diperhatikan latihan kuda-kuda, teknik kepala, pemahaman terhadap musik, atraksi dasar seperti naik paha, naik kepala, jepit pinggang, salto dan lainnya. Dalam teknik kepala ada gerakan segitiga, gerakan segi empat, dan penghormatan. Sementara teknik lanjutan adalah dengan menggunakan tongga, melompati tiang, dan atraksi di atas tiang. Selain itu ada juga teknik lompat terbang di udara.
Dalam pertunjukan barongsai, juga ada gerakan dan ekspresi yang harus dimainkan para pemain. Semakin baik ekspresi dan gerakan yang dilakukan oleh para pemain, maka semakin bagus juga pertunjukan barongsai secara umum. Para pemain barongsai harus bisa mengekspresikan gembira, ragu-ragu, terkejut, curiga, takut, dan lain sebagainya. Hal ini juga tergambar dari berbagai gerakan, baik yang kasar maupun yang lebih halus. Ada gerakan tidur, berguling, salto, naik paha satu kaki, naik paha dua kaki, naik kepala, dan berbagai gerakan lainnya.
“Jadi gerakan dan ekspresi itu menggambarkan alur cerita dalam pertunjukan barongsai ini,” ujar Muchtar.
Pertunjukan barongsai memang memiliki banyak alur cerita. Misalnya ada alur cerita mencari mutiara, naik jembatan, melihat air, terkejut melihat bayangan di air, bercermin di air, turun jembatan, jatuh berguling, dan terkejut melihat hewan lainnya. Misalnya ada laba-laba, lipan, atau hewan yang lainnya. Barongsai juga bisa berkelahi dengan makhluk atau hewan lainnya lalu berhasil mengambil mutiara yang dicarinya. Selain mencari mutiara, barongsai juga mendapatkan angpau, daun selada, hingga jeruk.
“Kalau Imlek biasanya yang dicari jeruk, yang merupakan lambang kemakmuran,” ujarnya.
Selain cerita secara umum, ada lagi beberapa cerita yang sudah mapan dan dikisahkan ulang dalam pertunjukan barongsai. Misalnya cerita Sun Go Kong. Cerita Raja Kera ini sudah populer di kalangan masyarakat Tionghoa dengan berbagai macam variasi. Biasanya ada tambahan aksesori pada kepala singa sehingga orang bisa mengasosiasikan bahwa singanya adalah Sun Go Kong. Beberapa cerita yang populer tentang Sun Go Kong ini adalah Sun Go Kong mencari tongkat sakti, Sun Go Kong mencari mutiara naga, Sun Go Kong memasuki rumah tua, barongsai mabuk, dan lainnya.
Harus Kompak
Permainan barongsai haruslah dilakukan dengan kompak. Barongsai disebut juga tarian singa atau lion dance. Permainan ini dimainkan oleh dua orang sebagai pemain kepala dan pemain ekor. Pemain kepala harus bisa menggerakkan kepala, mata, dan bagian-bagian lainnya. Sementara pemain ekor mengikuti pemain kepala, baik dalam gerakan, lompatan, maupun cara berekspresi. Maka ritme permainan mereka harus sejalan yang dikomando oleh pemain kepala sebagai pemimpinnya. Mereka menggunakan kostum dengan kepala singa lengkap dengan badan dan empat kaki. Yang tak kalah penting adalah para pemain musik yang merupakan pemandu dari gerakan-gerakan barongsai ini. Bisa dikatakan, musik adalah komandan atau pemimpin dalam pertunjukan. Karena musik yang digunakan akan mengarahkan para pemain barongsai untuk berlari, melakukan ekspresi terkejut, penghormatan, dan lainnya. Tiga alat musik yang digunakan adalah tambur sebagai pimpinannya, cimbol, dan gong. Beberapa irama musik yang digunakan adalah xinli untuk penghormatan, baobu untuk berlari, dan beberapa istilah lainnya untuk makan, terkejut, atau berekspresi lainnya.
Baca Juga: Barongsai Patok Bikin Takjub Pengunjung Living World
“Jadi para pemain barongsai harus mengikuti irama musik yang dimainkan. Dan mereka sudah harus paham apa yang diarahkan oleh pemain musik,” ujar Muchtar.
Dalam praktiknya, selain diarahkan oleh pemusik gerakan-gerakan para pemain barongsai juga ada yang mengarahkan dari pihak ketiga, terutama jika barongsai akan diberikan angpau, atau ada yang dicari berupa mutiara atau jeruk.
Pasangan barongsai idealnya memiliki berat badan yang seimbang. Jika pun ada perbedaan di antara kedua pemain, maka bedanya tidak lebih antara 3 hingga 5 kg. Tentu saja pemain depan harus lebih ringan dibandingkan pemain belakang. Berat badan ini menjadi penting karena pemain depan harus melompat dan bahkan bertumpu pada badan atau paha pemain belakang. Dalam banyak kasus, pemain depan itu jauh lebih ringan dan lebih kecil dibandingkan pemain belakang. Akan tetapi menurut Muchtar, tidak ada keharusan demikian. Yang penting keduanya harus memiliki kondisi fisik yang kuat dan memiliki kuda-kuda yang kuat. Tentunya jika berat badan mereka berlebihan misalnya 80 kg ke atas, akan sulit bagi kedua pemain untuk bisa bergerak dengan lincah, terutama saat gerakan sulit misalnya menggunakan tongkat.
“Idealnya berat badan mereka seimbang atau sedikit berbeda yang pemain kepala lebih ringan,” ujarnya.
Pertunjukan Rakyat hingga PON
Barongsai diperkirakan sudah ada di Cina sebelum Masehi, pada masa Dinasti Chin. Permainan ini mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Ketika itu, pasukan dari Raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Zhong Que yang merupakan panglima perang membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan gajah Raja Fan. Upaya tersebut sukses hingga akhirnya replika singa itu populer. Inilah yang disebut tarian barongsai dan menjadi warisan budaya hingga sekarang.
Ada dua aliran barongsai, yakni tarian singa utara yang disebut pekingsai dan tarian singa selatan, yang terbagi dua yakni fut shan dan hok shan.
Bentuk singa utara dan selatan juga berbeda. Singa utara memiliki surai ikal dan berkaki empat. Sedangkan singa selatan bersisik dan bertanduk. Penampilan singa utara lebih mirip singa sebenarnya karena berbulu tebal dan tidak bersisik. Singa utara memiliki bulu yang lebat dan panjang. Ia berwarna kuning dan merah. Biasanya singa utara dimainkan dengan dua singa dewasa. Mereka mengenakan pita warna merah di kepalanya yang menggambarkan singa jantan dan pita hijau yang terkadang terdapat bulu hijau di kepalanya untuk menggambarkan singa betina.
Sedangkan singa selatan memiliki beberapa macam jenis. Yang umum dua jenis, yakni fut shan dan hok shan. Singa yang memiliki tanduk lancip, mulut seperti bebek, dahi yang tinggi, dan ekor yang lebih panjang disebut fut shan. Sementara singa yang memiliki mulut moncong ke depan, tanduk yang tidak lancip, dan ekor yang lebih kecil disebut hok shan.
“Di Indonesia yang menyebar adalah barongsai selatan,” ujar Muchtar.
Disebutkannya, di antara aliran selatan ini yang banyak digunakan adalah aliran hok shan dibandingkan fut shan. Sebab gerakannya dinilai lebih fleksibel dan lembut. Fut shan harus dimainkan dengan kuda-kuda sangat kuat dan gerakan yang lebih memerlukan tenaga. Teknik ini adalah kategori barongsai tradisional. Sedangkan hok shan, gerakan kuda-kudanya lebih santai dan fleksibel sehingga bisa lebih dinamis menyesuaikan dengan perkembangan.
“Yang banyak berkembang adalah hok shan ini karena bisa menyesuaikan dengan jalan cerita yang dibuat,” ujarnya.
Di Indonesia, barongsai sudah dimainkan sejak sebelum negeri ini merdeka. Permainan ini sempat terhenti ketika terjadi tragedi G30S/PKI. Barongsai kembali dihidupkan sejak era reformasi khususnya sejak Presiden Gus Dur dan terus berkembang hingga saat ini.
Muchtar sendiri sudah berlatih dan bermain barongsai sejak tahun 2000 atau sejak 24 tahun silam. Selain menjadi pemain, dia konsentrasi menjadi pelatih sejak dua tahun silam. Di Pekanbaru, selain HBT ada juga beberapa tim barongsai. Di antaranya adalah HTT (Himpunan Tjinta Teman), Marga Huang, dan Wihara Suryadarma.
Selain menjadi permainan tradisional, barongsai kini berkembang lagi menjadi cabang olahraga (cabor). Bahkan cabor barongsai sudah mulai dimainkan dalam pekan olahraga Nasional (PON). Ada tiga nomor dalam cabang barongsai ini yakni barongsai, tarian naga, dan pekingsai. Kategorinya ada 10. Pada nomor barongsai ada taulu bebas, kecepatan, ketangkasan, halang rintang, dan tradisional. Sedangkan pada nomor naga kategorinya adalah taulu bebas, kecepatan, dan halang rintang. Adapun nomor pekingsai kategorinya adalah taulu bebas dan halang rintang.
Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Riau akan menurunkan 32 atlet dengan 10 kategori dalam PON 2024. Riau diharapkan bisa berbicara banyak karena pada Porwil 2003 lalu, provinsi ini bisa mendapatkan 5 emas dan 4 perak.
“Jadi kita harapkan juga bisa berprestasi nantinya pada PON 2024 ini,” ujarnya.***
Editor : RP Bayu Saputra