PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Perebutan kursi DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi Riau dan DPRD Kabupaten/Kota menjadi ancaman bagi caleg petahana. Dan suara dari petahana pun mulai tergerus oleh caleg baru yang juga kini tampil menebar harapan baru. Hal ini dapat dilihat dari real count sementara KPU Riau.
Melihat fenomena ini, pengamat politik dari Universitas Riau (Unri), Dr Belly Nasution menyebutkan ini disebabkan salah satunya tidak ada perjuangan untuk memajukan daerah dari atau di pusat lewat APBN.
Untuk pileg ini disampaikan Belly aura nya berbeda dengan pilpres, dan pilkada (Pilgub, Pilbup, atau Pilwako), dan yang banyak bekerja itu sudah pasti caleg.
Pada Pileg saat ini, bagi caleg petahana mereka sudah di profiling langsung oleh masyarakat.
"Sederhananya, caleg petahana itu dilihat dari apa janji politik nya saat kampanye dan seperti apa realisasi nya itu langsung di rasakan oleh masyarakat. Ini kan sudah di potret juga oleh masyarakat, " kata Belly memberikan pandangan.
Hal seperti ini, kemudian ini menjadi senjata bagi caleg baru, mesti belum terukur, namun caleg mampu memetakan daerah-daerah atau bahkan masuk ke basis petahana yang dianggap lemah atau tidak dikawal lagi.
"Artinya ada masyarakat yang sakit hati karena tidak terpenuhi janji-janji kampanye caleg petahana, ini yang berhasil dimanfaatkan oleh caleg baru. Caleg-caleg ingatnya saat pemilu saja," ujarnya.
Begitu juga dengan caleg DPD RI, saat ini bermunculan caleg baru yang sudah mengancam caleg petahana juga. Disebutkan Belly lagi, biasanya caleg petahana ini sudah punya ceruk-ceruk suara di dapil nya. Jika dijaga dan dirawat tentu akan aman. Namun begitu sebaliknya, jangan di kira masyarakat tidak pintar sekarang ini.
"Jadi mana yang bisa memelihara suara nya maka akan bisa kembali di pilih, dan ketika gagal memeliharanya maka pilihan dipastikan akan beralih ke caleg lain," sebutnya lagi.
Disamping itu juga, menurut Belly, dipilih tak dipilihnya caleg ini tidak bisa lepas dari politik uang. Dan biasanya dari masing-masing caleg sudah survei dan menganalisa nya secara matang.
"Dimana sekarang ini baik di pusat kota maupun daerah-daerah kabupaten lainnya, tidak cukup hanya dikasih jilbab atau kain sarung saja, itu tidak main lagi oleh masyarakat, tetapi ada selain itu yang diharapkan juga," tuturnya.
Bagaimana pertarungan caleg petahana dan caleg baru? Biasanya pendatang baru akan lebih full energy untuk itu (bermain uang), dan petahana merasa dan klaim sudah menguasai.
"Karena ada target harus menang dan harus duduk (DPR RI, DPD RI, dan DPRD) , maka mereka royal. Jadi jika petahana tidak bisa menjaga maka itu akan lewat," paparnya.
Penyebab lain, dikatakannya juga, bagi yang sudah duduk di gedung dewan itu, yang selama ini peran anggota DPR RI, DPD RI di pusat bisa dikatakan tidak ada sama sekali, semua bisa dilihat kan secara faktanya. Koordinasi dengan kepala daerah pun dilihat tidak maksimal.
"Selama ini keberadaannya (wakil di pusat) hanya ketika reses saja, tidak ada yang spektakuler yang diperjuangkan untuk daerah, seperti anggota DPR RI di pulau Jawa atau anggota DPR RI, DPD RI provinsi tetangga kita, Sumbar. Kita kalah jauh," sebutnya.
"Keinginan ada, saat kampanye saja. tapi ketika duduk banyak yang lupa. Dan baru ingat lagi saat kampanye mendatangi masyrakat untuk minta dipilih kembali," pungkasnya.
Editor : RP Eka Gusmadi Putra