Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

STIFIN TEST, Bantu Mendidik Anak Lebih Terarah

Agustiar • Minggu, 25 Februari 2024 | 15:20 WIB

PROSES TES SIDIK JARI STIFIN
PROSES TES SIDIK JARI STIFIN

Dengan hanya sidik jari, kini pemetaan otak anak bisa dilakukan. Pemindaian sidik jari ini menjadi alternatif yang cepat dalam mengetahui potensi anak dan bagaimana mengembangkannya.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Diungkap Trainer Stifin, Hansi Suhendrata, Stifin merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi mesin kecerdasan manusia berdasarkan sistem operasi otak yang dominan dan dapat diketahui dengan memindai sidik jari.

Metode Stifin tersusun dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumber daya manusia (SDM)- yang akan dengan alat serta keilmuan yang dimiliki dapat membantu mengenali dan memahami karakter dan kepribadian setiap manusia. Sesuai dengan namamnya, dalam konsep Stifin yang dipernalkan oleh Farid Poniman terdapat 5 mesin kecerdasan, yaitu, sensing, thinking, intuiting, feeling dan insting.

‘’Ini merupakan sebuah konsep untuk mengindentifikasi kecerdasan manusia berdasarkan sistem operasi otak yang dominan, dan dapat diketahui dengan memindai sidik jari,’’ begitu penjelasan Hansi yang juga merupakan Kepala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sekolah Bilal, beralamat di Jalan Ikhlas, Labuh Baru Timur, Payung Sekaki ini.

Untuk diketahui, orang sensing itu, belahan otak limbik kiri sehingga memori kuat, ulet dan rajin serta sangat memperhatikan detail. Lalu, thinking, belahan neokorteks kiri yang fungsinya berfikir logis, tipe yang analitis, berpikir struktur, pandai, dan sistematis.

Lalu, intuiting, belahan otak neokorteks kanan, tipenya inovatif, banyak ide, dan kreatif berpikir out of the box. Feeling, belahan otak limbik kanan, yang berfokus ke hubungan sosial sehingga mengutamakan emosi, rasa, dan cinta. Dan, insting, belahan otak tengah (midbrain), kekuatannya naluri dan serbabisa, suka menolong orang lain.

Nah, disebutkan Hansi lagi, dari lima kecerdasan ini mempunyai kekhususan dan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam dunia Stifin ini cakupannya luas, hanya saja setiap orang yang akan melakukan tes Stifin, oleh para trainer atau pun promotor Stifin yang berlisensi akan mempertanyakan Stifin untuk apa dahulu.

‘’Karena ada banyak tujuan dari tes Stifin ini. Kalau di PKBM Sekolah Bilal, Stifin ini ada diberikan kepada anak-anak dan orang tua anak yang belajar di Bilal. Karena ini akan sangat membantu orang tua dalam mendidik anak, teaching and learning gitu. Dan kami sudah buktikan itu,’’ ujar Hansi lagi.

Dicontohkannya, jika bicara kekurangan untuk anak thinking misalkan, dia tipikal orangnya dingin, formal, apabila ini terjadi maka orang thinking harus naik level atau maqom, ada 4 level. Level pertama itu ada namanya personality, biasanya ini akan dinilai wajar oleh anak thinking, misalkan. ‘’Wajar dong aku jutek, dan tidak banyak teman,’’ ini menjadi maklum bagi anak thinking seperti itu.

Maka itu, dia harus naik level ke dua, yaitu mentality. Ini akan dianggapnya tidak baik bagi dirinya ketika tidak banyak teman, dan tidak baik bagi dirinya jika jarang senyum. Dan biasanya kadar baik dan buruk itu cukup buatnya saja.

Dan level ketiga itu morality, dia akan membawakan baik buruk itu untuk khalayak umum atau masyarakat umum, dan level sprituality. Level spirituality, ini dia sudah menempatkan kadar baik dan buruknya itu sandarannya agama.

‘’Ternyata kita tidak boleh acuh tak acuh dan harus peduli dengan lingkungan,’’ ini tujuannya.

Dilanjutkannya, kalau dibawa ke dalam mendidik anak, ketika anak tidak mau mendengar kata orang tua. Dan Ketika dilakukan tes Stifin, ternyata kedua orang tuanya ditaklukkan oleh si anak. Jadi dalam Stifin itu ada pola saling mendukung, dan didukung. Dan ada pola ditaklukkan dan menaklukkan. Konteksnya, ketika si anak yang menaklukkan orang tua, maka butuh orang ketiga. Contoh, si anak, sensing, dan menaklukkan ibunya yang insting, dan si ayah feeling justru mendukung si anak.

‘’Maka orang tuanya (ibu) bisa mendelegasikan jenis instruksi apapun ke suaminya, lalu suami yang menegaskan ke si anak. Ini bisa dibuktikan,’’ katanya lagi.

Misalnya kalimat delegasinya ke anak sensing. ‘’Anak sensing itu rajin, kenapa sekarang tidak’’, atau ‘‘sensing itu orang nya detil, kenapa sekarang tidak, dalam hal belajar’’. ‘’Hal seperti ini menjadi tugas si ayah, karena si ayahnya di feeling untuk mendukung si anak,’’ kata Hansi.

Untuk di PKBM Sekolah Bilal, dikatakan Hansi sudah menawarkan ada paket Stifin tes saat pendaftaran. Ini adalah kebijakan sekolah yang tujuannya untuk metode pembelajaran sekolah. ‘’Tes Stifin ini kami lakukan di awal tahun ajaran baru, dan dilakukan kepada seluruh anak secara bertahap, dan kepada orang tuanya. Setelah tes itu dijadwalkan penjelasan hasil tesnya. Untuk Pendidikan di sekolah, dan parenting di rumah,’’ kata Hansi.

Artinya, ditambahkan Hansi, ketika sudah dijelasin dari hasil tes itu, maka akan bisa dilakukan, dengan memiliki seorang anak intuiting maka orang tua harus tahu bagaimana cara mendidiknya. Atau misalkan anak sensing, thinking, feeling dan insting sekali pun.

‘’Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak sudah tahu dari tes Stifin, tujuannya agar ada sinkronisasi antara pihak sekolah dengan orang tuanya di rumah. Supaya tidak saling bertabrakan dengan apa yang diajarkan di sekolah, dan apa yang akan diharapkan dari anak bisa tercapai,’’ jelasnya.

Jadi, Stifin ini merupakan salah satu alat yang bisa dipedomani dalam mendidik anak. Dan di PKBM Bilal sudah menerapkannya sejak 2016 hingga sekarang. Dan juga menjadi acuan sekolah dalam kegiatan belajar. Efeknya luar biasa. Dalam Stifin ini dibahas kecenderungan, antara intuiting dengan sensing itu jauh berbeda. Meski ada beberapa kesamaan. Maka dari itu cara mengajarkannya pun beda, dan pendekatannya juga beda. Membujuk ketika si anak marah, atau menangis juga berbeda. Dan ini juga diterapkan hal sama ketika si anak kembali ke rumah.

Dilanjutkannya, anak sensing ini adalah anak reward. Segala sesuatu itu berdasarkan apa yang akan dikasih. Namun akan berbeda ketika bersama anak intuiting. Ketika ditawarkan hal yang sama itu tidak kan berefek.

‘’Ini menjadi tolak ukur orang tua, in sya Allah semua bisa Ketika digali lewat Stifin tes.khususnya dalam mendidik anak,’’ paparnya.

Bagaimana proses tesnya? Tahap awalnya input data, baik si anak maupun orang tuanya, kemudian akan disidik sepuluh jarinya, dimulai dari jempol sebelah kanan, runut sampai kelingkling. Dan lanjut jempol tangan kiri dirunut hingga kelingking.

Lalu hasil sidik,dan scaning melalui aplikasi khusus selesai itu dikirim sistem Stifin terpusat ke Jakarta. Waktu tesnya sebentar saja, 5-10 menit hasilnya keluar. Namun penjabaran ataupun penjelasan hasil tesnya bisa minimal 3 jam.

“Dengan metode test Stifin ini kita bisa mengetahui potensi dan bakat juga karakter anak dari dini. Jadi kita tahu mau dibawa ke mana anak ini yang sesuai dengan bakat dan potensinya,” jelasnya.

Mengenai akurasi Stifin, seperti yang disampaikan oleh Founder Stifin Farid Poniman, tingkat akurasinya mencapai 97 persen. Jadi sang founder pernah melakukan tes ke 300 orang. Dari 300 orang tersebut yang hasil berubah setelah tes kedua hanya 2-3 orang saja.

Sejarah Singkat Konsep Stifin

Sejarah Stifin dimulai dari keseriusan Farid Poniman merumuskan konsep Stifin dimulai dari panggilan tugas perusahaannya untuk menekuni bidang sumber daya manusia. Pencetus awalnya, dimulai sejak mengikuti tes MBTI pada tahun 1989 di kantornya ketika ia masih bekerja di PT Procter & Gamble Indonesia . Konsep Stifin sendiri ditemukan pada tahun 1999, dari kumpulan beberapa teori psikologi, seperti neuroscience, dan ilmu sumber daya manusia.***

Editor : RP Bayu Saputra
#spifin test