PARIS (RIAUPOS.CO) – Federasi Sepakbola Prancis (FFF) menyatakan tidak akan memperbolehkan pemain istirahat selama pertandingan untuk berbuka puasa, yang dapat memakan waktu kurang lebih satu menit.
Tidak akan ada perkembangan musim ini untuk berbuka puasa selama pertandingan di bulan Ramadan yang dimulai pekan ini (hingga 9 April). FFF merilis pernyataannya pada Selasa (12/3) bahwa tidak akan ada peraturan khusus yang dibuat bagi pemain sepakbola Muslim di Ligue1 Prancis untuk berbuka puasa selama bulan Ramadan.
Dilansir melalui the Middle East Monitor, situs web RMC Prancis mengatakan bahwa FFF telah mengirim pemberitahuan ke klub sepakbola, komite wasit, dan penyelenggara pertandingan terkait keputusan tersebut.Baca Juga: Agenda Prilly Latuconsina Sudah Penuh selama Sebulan, Sulit Buka Puasa Bersama Keluarga
Media Prancis, Le Parisien, melaporkan bahwa Komisi Wasit Federal (CFA) FFF, Eric Borghini menyatakan tahun ini komisi memutuskan untuk tidak mengirimkan rekomendasi apapun kepada wasit atau presiden liga dan distrik untuk menghindari potensi bentuk provokasi apapun.
“Di sisi lain, jika kami mengetahui bahwa itu terjadi lagi (interupsi pertandingan), kami akan melakukan pengingat. Sebagai seorang profesional, saya akan terkejut jika itu terjadi,” katanya.
FFF mendasarkan keputusannya pada undang-undang pasal 1.1 mengenai kode etik dan deontologinya untuk melarang semua istirahat dan mencegah representasi agama selama pertandingan, dengan cara yang sama seperti melarang pemakaian hijab.Baca Juga: Bayern Munchen Pesta Gol di Kandang Darmstadt, Jamal Musiala Cetak 2 Gol
Le Parisien, dalam pandangannya menyebut tindakan seperti itu bertentangan dengan prinsip netralitas dan sama saja dengan tindakan proselitisasi atau propaganda.
Perlu untuk diketahui bahwa ini bukan menjadi yang pertama kali keputusan seperti ini dibuat oleh Liga Prancis, karena tahun lalu pembatasan serupa juga telah diberlakukan pada pemain sepakbola Muslim yang bermain di Ligue 1.
Langkah ini juga telah memicu perdebatan tentang akomodasi keagamaan dalam olahraga dan menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitas dan keragaman dalam komunitas sepakbola.Baca Juga: Ginting dan Jojo Ciptakan All Indonesian Final, Akhiri Penantian 30 Tahun Tunggal Putra di All England
Kontroversi dan kritik itu disampaikan oleh kelompok Muslim di Prancis melalui Azar News, yang berpendapat bahwa keputusan itu menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap keragaman agama di negara tersebut.
Sementara itu, keputusan ini tentunya berbeda dengan pengumuman yang dibuat oleh Asosiasi Sepakbola di Inggris yang tahun lalu mendesak wasit untuk menghentikan pertandingan bagi pemain Muslim yang berbuka puasa selama Ramadan.
Jerman dan Belanda juga memiliki pendekatan serupa, di mana pemain diizinkan untuk melanjutkan pertandingan setelah berbuka puasa seperti dikutip melalui Samaa TV.
Editor : RP Edwar Yaman