PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau selama ini sudah sangat terkenal sebagai daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, hasil kelapa dari daerah ini juga sudah berhasil menembus pasar ekspor. Sebelum dijual, para petani biasanya mengupas kelapa dan hanya menyisakan bagian dalam yang masih terbungkus tempurung.
Namun, dari banyaknya hasil kelapa di daerah yang memiliki julukan seribu parit tersebut, setakat ini masih hanya memanfaatkan isi buah kelapanya saja. Sedangkan sabutnya yang merupakan sisa pembukaan kelapa, masih dianggap sebagai limbah dan tidak termanfaatkan. Sehingga hanya kerap dibakar atau digunakan untuk menimbun lubang di jalanan.
Melihat potensi itu, Fauziah yang merupakan warga asli Kabupaten Inhil terpikir untuk memanfaatkannya. Jiwa seni dan ketekunan yang dimilikinya kemudian membawanya untuk mulai ‘menyulap’ sabut kelapa yang selama ini hanya dianggap limbah menjadi rupiah.
“Saya berasal dari Kecamatan Enok, Indragiri Hilir. Di kampung saya itu, selama ini sabut kelapa hanya dianggap sebagai limbah dan barang yang tak berguna. Kadang hanya dibakar kemudian juga untuk menimbun lubang. Karena sabutnya sudah terlalu banyak, kemudian saya berpikir bagaimana kalau sabut ini dimanfaatkan,” kata Fauziah, pemilik UMKM Waroeng Sabut KSM.
Fauziah saat itu memulai usahanya pada tahun 2016. Produk pertama dihasilkan Fauziah adalah sabut untuk pencuci piring. Untuk memasarkan produknya, Fauziah menitipkan sabutnya di warung-warung sekitar.
Tak disangka, produknya tersebut diminati masyarakat. Pasalnya, sabut pencuci piring hasil karyanya memiliki keunggulan yakni kuat, namun tidak menggores permukaan peralatan masak ketika digunakan untuk mencuci.
“Alhamdulillah sabut pencuci piring yang kami buat itu laris. Mungkin juga punya keunggulan tersendiri dibandingkan pencuci piring lainnya,” ujarnya.
Melihat adanya potensi pasar dari hasil karya sabutnya, Fauziah dan suami kemudian berpikir untuk mengembangkan usahanya. Ia pun kemudian memutuskan untuk membuat beberapa produk lainnya yang berbahan dasar sabut kelapa. Seperti pot bunga dengan berbagai jenis model.
Ternyata pengembangan produk yang dibuatnya juga berhasil menarik minat konsumen. Tidak hanya menghasilkan produk dari kreativitas sendiri, Fauziah juga menerima pesanan produk dari pelanggan. Bukan hanya masyarakat umum, namun juga sudah menyentuh kalangan instansi pemerintahan.
“Jadi selain kami ada produk sendiri, ada juga produk yang kami buat berdasarkan permintaan konsumen. Seperti ada permintaan dari Dinas Pariwisata,” sebutnya.
Melihat usahanya terus berkembang dan banyak permintaan. Fauziah kemudian mengembangkan usahanya dengan membuat gerai di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Bahkan, saat ini usahanya juga sudah memiliki karyawan yang jumlahnya mencapai 19 orang dengan omset puluhan juta perbulan.
“Karyawan kami ada 19 orang, mereka juga merupakan warga sekitar yang didominasi oleh kaum ibu,” katanya.
Membuka gerai di Pekanbaru ternyata pilihan yang tepat. Dimana, produk-produk olahan sabut kelapanya terus ditunggu konsumen bahkan hingga dilirik salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di Riau yakni PT Pertamina Hulu Rokan (PT PHR).
Tidak tanggung-tanggung, perusahaan yang bergerak dibidang perminyakan ini juga sudah memesan produk sabut kelapa dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir.
“Kalau dari Pertamina mereka pesan sabut kelapa yang dibuat bentuk persegi yang digunakan untuk menyaring limbah. Setiap bulan mereka pesan,” ujarnya.
Dibalik suksesnya produk sambut kelapa yang dibuat, Fauziah mengaku juga awalnya sempat memiliki kendala terutama dalam hal pemasaran produk dan juga permodalan. Untuk mengatasinya, Fauziah kemudian mendapatkan informasi bahwa Bank BRI dapat memberikan bantuan. Tidak hanya untuk bantuan permodalan, namun juga membantu memasarkan produknya melalui iven-iven pameran yang dilaksanakan.
“Awalnya saya sempat terkendala modal dan juga pemasaran. Namun alhamdulillah dapat bantuan dari Bank BRI. Kalau ada kegiatan pameran kami diajak terus oleh Bank BRI hingga sampai saat ini produk kami banyak dikenal masyarakat,” sebutnya.
Berkat ketekunan, kegigihan dan semangat Fauziah. Saat ini total sudah ada 50 an produk sabut kelapa yang dihasilkan. Dengan harga jual mulai Rp15 ribu hingga Rp15 juta. Bahkan produknya juga sudah dikenal hingga provinsi tetangga seperti Sumatera Utara. Ia juga berharap, dengan dukungan Bank BRI produk sabut kelapa buatannya bisa menembus pasar Indonesia yang lebih luas.
“Harapannya produk sabut kelapa kami ini bisa lebih dikenal di Indonesia,” ujarnya.
Pimpinan BRI Kantor Cabang Pekanbaru Lancang Kuning, I Wayan Mestera mengatakan, pihaknya saat ini terus melakukan pembinaan kepada UMKM pengelola sabut kelapa. Dengan pembinaan yang dilakukan, pihaknya juga berharap UMKM ini terus berkembang.
“Setelah kreditnya cair, pembinaan tetap kami lakukan. Kami ingin memastikan, usahanya terus berkembang setelah mendapatkan kredit yang kami berikan,” katanya.
Tidak hanya mendapatkan KUR, setelah nanti KUR-nya selesai, pihaknya juga akan kembali membina nasabah itu untuk bisa mendapatkan pembiayaan yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya dengan Kupedes BRI.
“Kalau Kupedes itu bantuan pembiayaan yang diberikan bisa sampai Rp500 juta. Dengan harapannya usahanya dapat terus dikembangkan. Karena kita tidak tahu usaha ini bisa saja berkembang ke depannya, tidak hanya memenuhi permintaan sabut kelapa lokal saja, namun bisa hingga ke Jakarta,” harapnya.
Editor : RP Eka Gusmadi Putra