Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Seni Menertawakan Kehidupan

M Amin • Minggu, 12 Mei 2024 | 17:00 WIB

ILUSTRASI
ILUSTRASI

Kini setiap orang bisa menjadi komedian. Sebab, semua orang memiliki keresahan sendiri yang berbeda, dan tragedi bisa diceritakan sebagai komedi di atas panggung. Itulah stand up comedy.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Stand up comedy merupakan cara baru dalam menertawakan kehidupan. Berbeda dengan lawak konvensional, stand up comedy harus ditampilkan seorang diri. Sementara lawakan konvensional biasanya terdiri dari minimal dua orang. Beberapa pelawak memiliki grup yang sudah mapan, terdiri dari tiga sampai empat orang. Bahkan ada yang memiliki anggota hingga puluhan orang, seperti Srimulat. Stand up comedy tidak begitu.

Stand up comedy mengandalkan kekuatan bercerita tunggal. Tapi, tidak harus menjadi orang yang lucu terlebih dahulu untuk menjadi komika (komik), sebutan untuk pelawak tunggal ini. Orang serius dan introvert pun bisa menjadi stand up comedian (komika). Asal memiliki keresahan dan paham teknik melakukan stand up comedy.

Kini, stand up comedy tak hanya ada di ibu kota atau di panggung besar, termasuk televisi. Fenomena stand up comedy juga muncul di kota-kota lainnya di Tanah Air, termasuk Pekanbaru. Beberapa panggung kecil pun muncul di Pekanbaru. Ada panggung untuk latihan para komika daerah ini, selain juga beberapa kafe yang menjadi panggung pertunjukan berbayar mereka.

“Beberapa kafe memang pernah juga mengundang kami,” ujar Ketua Stand up Comedy Indonesia Pekanbaru, Jopri Sinaga, di salah satu kafe di Jalan Duyung, Pekanbaru.


Kafe di Jalan Duyung ini sekaligus menjadi tempat manggung (open mic) bagi 34 anggota inti Stand up Comedy Indonesia Pekanbaru dan sekitar 25 grup open mic. Anggota inti adalah mereka yang sudah senior di ajang stand up comedy di Pekanbaru. Komunitas ini sudah berdiri di Pekanbaru sejak tahun 2011 dan terus berkembang. Komunitas ini merupakan cabang dari Stand Up Comedy Indonesia di Jakarta dengan Presidennya saat ini adalah Azis Doaibu.

Kini anggota tetapnya 34 orang. Sedangkan anggota open mic adalah mereka yang bisa datang ke komunitas ini dan mencoba untuk ber-stand up di panggung. Ada yang bertahan, namun tak sedikit yang hengkang.

“Kalau anggota grup open mic ini memenuhi syarat, maka bisa masuk ke grup inti setelah enam bulan. Biasanya begitu,” ujar Jopri.

Masing-masing grup ini memiliki WhatsApp grup (WAG) sendiri. Mereka yang dianggap sudah layak masuk grup inti akan dimasukkan ke WAG grup inti. Jika dianggap tidak memenuhi syarat, maka di grup open mic pun bisa dikeluarkan. Ada setidaknya tiga prasyarat untuk bisa bertahan di kelompok ini.

Pertama, memiliki loyalitas. Di antaranya rajin rutin datang dalam setiap Sabtu malam di markas Stand up Comedy Indonesia Pekanbaru di sebuah kafe di Jalan Duyung. Kedua, berkembang. Artinya, setiap open mic yang ditampilkan selalu ada perkembangan, tidak monoton. Jika dalam tiap tampilan tak ada yang tertawa, tentu sebagai komika mereka dianggap gagal. Ketiga, memiliki sikap (attitude) yang baik.

Jika memenuhi syarat itu, maka mereka bisa masuk ke grup inti. Tapi jika tidak, maka biasanya akan hilang sendiri atau dikeluarkan dari grup. Beberapa di antara mereka kemudian berkembang dan bisa tampil lebih jauh.

Bengkel Komedi

Markas Stand up Comedy Pekanbaru di bilangan Jalan Duyung menjadi area bengkel komedi bagi komunitas ini. Setiap akhir pekan mereka open mic (tampil) antara 5 hingga 10 menit per tampilan. Para penontonnya dari kalangan mereka sendiri. Setelah turun dari panggung, maka materi yang sudah disampaikan itu dibedah dalam sebuah wadah yang disebut dengan comedy buddy atau combud. Dalam combud ini dibedah materi yang disampaikan, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan dalam stand up comedy atau ada yang kurang di sana-sini. Disampaikan di sana kelemahan dan kekurangan dalam isi materi atau teknik penyampaian.

Berbeda dengan lawakan konvensional, stand up comedy harus disiapkan secara detail dan personal. Materi komedi harus dikonsep, bahkan ditulis secara lebih detail dan harus dilatih sedemikian rupa sehingga bisa tampil maksimal di depan publik. Hampir tidak ada komika yang tidak menulis terlebih dahulu materi stand up comedy-nya. Kecuali mereka yang sudah lama dan terbiasa. Beberapa komika yang tak lagi menulis materi secara detail adalah Mongol Stres dan Soleh Solihun. Bahkan mereka yang sudah senior pun sering kali harus menulis materi stand up comedy-nya kemudian dilatih dengan rutin.

“Rata-rata komika di Pekanbaru masih menulis dengan detail. Bahkan yang sudah profesional pun harus menulis detail dan dilatih terlebih dahulu sebelum ditampilkan,” ujar Jopri.

Menurut Jopri, materi yang ditampilkan di panggung yang besar harus sudah pernah ditampilkan dalam panggung-panggung kecil termasuk ketika combud ini. Sebab materi yang dilatih sendiri itu kemungkinan tidak mengundang tawa yang benar-benar maksimal sebelum dilatih di hadapan para komika lainnya. Setelah tiga kali ditampilkan, barulah biasanya materi itu mantap dibawakan ke panggung yang lebih besar. Jika ada undangan tampil di tempat lain, maka setidaknya di panggung kecil tempat combud ini, harus pernah dibawakan materi yang sama sebanyak tiga kali.

Ada tiga pola dasar yang harus diketahui dan dilatih ketika menyusun materi stand up comedy. Pertama, premis yakni apa keresahan yang ada dalam pengalaman para komika yang bisa menjadi alasan utama dia menyampaikan materi. Kedua, set up, yakni pengantar ke arah punch line. Yang ketiga punch line atau titik tawa. Punch line adalah sasaran utama yang akan mengundang tawa dari para penonton. Sebelum sampai ke punch line, maka harus ada premis dan set up terlebih dahulu yang mengantarkan pada titik tawa tersebut.

Dari sekitar 3 menit tampilan seorang komika, bisa ada 12 titik tawa yang ditampilkan. Maka materi yang ditampilkan dalam setiap bitnya harus satu premis, satu set up, dan satu punch line.

Dalam menyusun materi stand up comedy, para komika juga harus memperhatikan beberapa hal yang terlarang. Di antaranya adalah materi yang menyangkut dengan SARA atau suku, agama, ras, dan antargolongan. Jika pun materi harus menampilkan yang berkaitan dengan suku, agama, atau ras, maka komika harus berhati-hati sekali. Sebab jika tendensinya menghina, maka akan berbahaya bagi kelangsungan komika itu sendiri.

“Makanya diperlukan combud untuk menyaring materi itu, apakah lucunya yang berkaitan dengan suku, agama, atau ras, itu masih bisa ditolerir atau bertendensi menghina,” ujar Jopri.

Beberapa komika besar memang kerap menyampaikan materinya yang berkaitan atau menyerempet dengan kesukuan, agama, dan ras, akan tetapi biasanya bersifat otokritik. Artinya dia menceritakan sukunya sendiri, agamanya sendiri dan menyampaikan otokritik terhadap apa yang dialaminya dalam suku dan agamanya tersebut. Akan tetapi kalau tidak hati-hati juga, bisa menjadi bumerang bagi komika itu sendiri.

Yang kedua pornografi. Para komika juga sebaiknya tidak menyampaikan sesuatu yang vulgar yang bisa menyebabkan bukan menjadi cerita humor melainkan cerita vulgar dan porno.

Yang ketiga politik atau pemerintahan. Banyak komika yang memang bercerita tentang politik dan pemerintahan, akan tetapi jika tidak berhati-hati, maka risikonya juga besar.

“Jadi yang penting, dalam setiap combud kita sampaikan setiap komika harus bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya. Jika mengenai kelompok atau orang lain, maka harus dengan cara yang elegan dan tidak menyinggung orang lain,” ujar Jopri.

PNS hingga Anak Sekolah

Anggota komunitas Stand up Comedy Indonesia Pekanbaru sendiri memiliki latar belakang yang berbeda dan beragam. Mereka ada yang berlatar belakang PNS, polisi, pengacara, mahasiswa, pedagang, hingga anak sekolah. Hanya saja, yang anak sekolah sekarang sudah selesai dan tidak ada lagi anak sekolah. Rentang usia anggota komunitas ini antara 19 hingga 36 tahun.

“Jadi memang kebanyakan anak muda,” ujar Jopri, yang merupakan PNS.

Jopri sendiri pernah menjadi sipir penjara. Maka yang disampaikannya dalam materi stand up comedy juga mengenai pengalamannya sebagai sipir penjara. Kini dia merupakan pegawai di Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Riau. Tapi pengalamannya sebagai sipir tentu lebih berkesan untuk materi stand up comedy.

Kenapa orang-orang tua yang di atas 40 tahun tidak ada yang bergabung dalam komunitas ini? Menurutnya mungkin karena selera untuk stand up comedy ini didominasi oleh anak-anak muda. Juga karena kesempatan untuk berlama-lama di kafe dinominasi oleh anak-anak muda. Sebelumnya ada satu orang yang memiliki usia 40 tergabung dalam komunitas ini tapi kemudian keluar. Begitu juga dari jenis kelamin, semuanya adalah laki-laki. Tidak adanya perempuan karena komunitas ini kerap berkumpul hingga larut malam.***

Editor : RP Bayu Saputra
#StandUpComedy #komika #Stand Up Comedi