PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pada Juli hingga September 2024 diperkirakan terjadi kekeringan di wilayah Riau. Dalam beberapa pekan terakhir wilayah Riau tak lagi diguyur hujan dan cuaca cukup panas. Kondisi ini memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, di tiga daerah yakni Kabupaten Kepulauan Meranti, Indragiri Hulu (Inhu), dan Siak mulai muncul karhutla.
Di Kepulauan Meranti, hutan Tanjung Padang, Kecamatan Tasik Putripuyu membara, Ahad (21/7). Dari informasi yang diterima Riau Pos, lokasi kebakaran berada persis di Dusun I Tanjung Kelemin. Titik api diketahui, Jumat (19/7) akhir pekan lalu oleh masyarakat desa setempat. Musibah ini ditanggapi dan ditanggulangi oleh petugas gabungan serta warga.
Hal ini dikatakan Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti Eko Setiawan kepada wartawan, Sabtu (20/7). Bahkan, api masih berkobar hingga terakhir dikonfirmasi kembali, Ahad (21/7) sore. “Iya benar kawasan hutan. Tim satgas masih berjibaku di lapangan.
Hingga saat ini api masih menyala di sana,” ungkapnya.
Eko mengaku belum mendapat atau menerima gambaran luas dampak karhutla tersebut. Pasalnya, tim satgas masih fokus terhadap penanganan proses pemadaman. “Kami masih fokus pemadaman. Jadi gambaran luasan yang terbakar belum tahu seberapa luas,” bebernya.
Namun, Eko menjelaskan penanggulangan titik api lokasi kejadian sedikit sulit. Seperti medan menuju lokasi yang menyita waktu, dan minimnya keberadaan air, ditambah angin yang didorong cuaca panas terik membuat tim kewalahan. “Lokasi jauh dari permukiman yang memiliki rute cukup panjang. Ditambah air dan cuaca tidak mendukung membuat tim sedikit kewalahan,” ujarnya.
Menyikapi kondisi ini, Eko menegaskan akan menambah personel untuk membantu penanggulangan kebakaran, Senin (22/7) hari ini. Selain dari pihak kecamatan, jajaran tambahan dari BPBD Meranti turut diterjunkan. “Besok (hari ini, red) bantuan tambahan akan diterjunkan. Termasuk saya sendiri akan berangkat ke lokasi tersebut,” ungkapnya.
Api juga membakar lahan seluas 311,9 hektare di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Ahad (21/7). Karhutla ini terjadi di Desa Sungai Gantung, Kecamatan Rengat. Lahan ini merupakan milik masyarakat dengan kondisi semak belukar.
Hingga kemarin, pemadaman dihentikan meski api belum berhasil dikendalikan. “Karhutla kami ketahui sekira pukul 09.49 WIB dan kami langsung turun untuk pemadaman,” ujar Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Inhu, Mulyadi, Ahad (21/7).
Sebanyak 23 personel pemadaman dikerahkan. Mereka dibantu 6 personel dari Satgas Damkar, dan 4 personel Pusat Data dan Informasi (Pusdatin). Tim juga dibantu personel TNI, Manggala Agni, Polri, BBKSDA, MPA, dan RPK PT Tesso Indah.
Dari 311,9 ha, baru 6 ha berhasil dipadamkan atau masih tersisa seluas mencapai 305,9 ha. “Karena sudah sore, pemadaman yang dilakukan tim dihentikan. Khawatir ada binatang buas di sekitar lokasi kebakaran,” ungkapnya.
Akses jalan menuju lokasi kebakaran cukup sulit ditempuh dengan roda empat. Sehingga peralatan yang ada harus harus dilansir menggunakan kendaraan roda dua. Selain itu, lahan yang terbakar juga merupakan areal gambut.
Pola pemadaman yang dilakukan tim dimulai dari bagian barat. Karena hanya sisi barat yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua. Kemudian dilakukan strategi pemblokiran untuk mencegah penambahan luas kebakaran dari sisi barat menuju timur.
Sementara api di bagian utara dan selatan dipadamkan menggunakan 3 unit helikopter oleh tim pemadaman udara melalui water bombing. Lebih jauh disampaikannya, pemblokade, pemadaman, dan pendinginan hanya dapat dilakukan dengan luas 6 hektare.
“Kondisi terkini pada areal yang terbakar belum bisa dikendalikan dan masih berpotensi meluas. Pemadaman dilanjutkan besok (hari ini, red)” terangnya.
Selain di Meranti dan Inhu, sekitar 5 ha kebun sawit warga di Km 3 Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak juga terbakar. Kepala BPBD Siak H Heriyanto SH melalui Kabid Damkar Irwan Priatna mengatakan, Jumat (19/7) siang telah dilakukan water bombing di lokasi.
Tak hanya melalui udara, pemadaman juga dilakukan melalui jalur darat. Di lokasi kebakaran lahan, Irwan Priatna bergabung dengan Kapolres Siak AKBP Asep Sujarwadi, Kabag Ops Kompol Didi Antoni bersama personelnya.
Tim dari darat terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Damkar BPBD, MPA dan relawan kampung setempat. “Kami memang berjibaku memadamkan api dari darat, dibantu dengan helikopter dengan water bombing,” terang Kalaksa H Heriyanto.
‘’Kondisi cuaca memang sedang kemarau dan kering. Diharapkan kepada pemilik kebun untuk waspada dan melakukan pencegahan. Mencegah lebih baik daripada mengatasi. Kolaborasi dalam melakukan pemadaman benar-benar solusi terbaik dalam mengatasi karhutla,’’ ujarnya.
Belum diketahui menyebabkan kebun sawit terbakar. Namun, hingga petang upaya pemadaman dan pendingin masih terus dilakukan. Irwan Priatna mengatakan, hingga Ahad (21/7) pihaknya bersama tim terpadu masih melakukan pendinginan. “Kami masih melihat adanya asap di beberapa titik. Karena gambut, kami ingin memastikan api benar-benar padam,” katanya.
Modifikasi Cuaca Kembali Dilakukan
Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk pencegahan dan mitigasi karhutla di Riau. Ini karena Riau sudah memasuki musim kemarau.
Kalaksa BPBD Riau M Edy Afrizal mengatakan, OMC tahap kedua akan dilaksanakan selama 10 hari yakni pada 20-29 Juli 2024. “Kami telah menerima surat pemberitahuan pelaksanaan OMC dari BMKG,” katanya, Ahad (21/7).
Edy menjelaskan, OMC tahap pertama telah dilaksanakan selama 14 Juni-3 Juli 2024. Penerbangan penyemaian awan OMC didukung oleh pesawat Casa 212-400 A-2116 yang dioperasikan kru penerbang Skadron 4 TNI AU.(wir/sol/kas/mng)
Editor : RP Arif Oktafian