Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tak Hanya Pohon, Danau Juga Mengering, Namun Kualitas Udara Masih Aman bagi Kesehatan

Tim Redaksi • Rabu, 31 Juli 2024 | 10:09 WIB
Kondisi pohon pelindung yang mati akibat cuaca panas di Jalan HR Soebrantas, Pekanbaru, Selasa (30/7/2024).
Kondisi pohon pelindung yang mati akibat cuaca panas di Jalan HR Soebrantas, Pekanbaru, Selasa (30/7/2024).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Cuaca di Riau, khususnya di Pekanbaru cukup panas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data yang tercatat di Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru, untuk bulan ini suhu tertinggi tercatat 35,6 °C. Ini masuk dalam kategori tinggi (panas, red). Kondisi ini pula membuat pepohonan hingga danau mengering.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pekanbaru Irwansyah Nasution mengatakan, suhu 35,6 °C tersebut bukan tertinggi (terpanas, red) yang tercatat. Pasalnya, rata-rata suhu absolut adalah 33 °C.

“Sepekan lalu, Provinsi Riau tiba-tiba dihadapkan dengan kondisi tidak turun hujan sama sekali. Hal ini lantaran mulai masuknya musim kemarau yang menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah. Namun perlu masyarakat ketahui, diperkirakan akan kembali turun hujan di beberapa wilayah Riau pada awal Agustus mendatang,’’ ujarnya, Selasa (30/7).

Pantauan Riau Pos, Selasa (30/7) di Jalan HR Soebrantas, Pekanbaru, sejumlah terlihat pohon pelindung di median jalan mulai mengering dan daunnya pun mulai berguguran. Tak hanya itu, rumput yang ada di bawah pohon pelindung juga mulai mengering dan mati.

Salah seorang pengendara Selya mengaku sangat miris dengan kondisi pohon pelindung yang mulai tak terawat sehingga menyebabkan dedaunannya berguguran. Apalagi di saat musim kemarau dengan panas matahari yang cukup terik, asupan air bagi tanaman khususnya pohon pelindung harus diperbaiki sehingga dapat membuat mereka bertahan hidup.

Ia berharap keberadaan pohon pelindung di Kota Pekanbaru, khususnya di Jalan HR Soebrantas ini bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah kota agar keberadaannya yang sangat penting bagi pengendara motor tidak hilang begitu saja.

”Keberadaan pohon sangat membantu kami, khususnya pengendara motor. Jadi kalau sampai pohon pelindung di median jalan ini mati dan dibiarkan begitu saja tanpa adanya pemeliharaan maka akan sangat disayangkan. Tidak ada tempat berteduh kami lagi,” katanya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh pengendara motor lainnya. Rudi salah satunya pengendara yang kerap melintasi Jalan HR Soebrantas ini mengaku sangat menyayangkan keringnya pohon pelindung di Kota Pekanbaru, khususnya Jalan HR Soebrantas yang bukan sekadar menjadi hiasan di badan jalan tetapi juga berfungsi untuk menyerap panasnya terik matahari yang menyengat di kulit.

Ia pun berharap ada upaya penyelamatan pohon pelindung di kota Pekanbaru agar tidak mati di saat suhu udara Kota Pekanbaru yang mencapai 34°C di saat musim kemarau ini. ”Ya, pemerintah harus bisa menyelamatkan pohon pelindung ini. Jelek juga jalan kalau tidak ada pepohonan,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala DLHK Kota Pekanbaru Reza Fahlevi mengatakan, dalam proses perawatan pohon pelindung di media jalan, pihaknya rutin melakukan penyiraman setiap harinya. Namun karena Kota Pekanbaru yang mulai dilanda musim kemarau membuat pohon pelindung mulai mengalami kekeringanan.

”Kami rutin melakukan perawatan. Kami terus siram tanaman dan pohon di sana. Bahkan tim melakukan penyiraman setiap pukul 00.30 WIB menggunakan empat armada mobil penyiram pohon yang diterjunkan untuk merawat seluruh tanaman dan pohon di median jalan,” katanya.

 

Danau Bagan Benio, Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis terlihat sudah mengering, Selasa (30/7/2024).
Danau Bagan Benio, Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis terlihat sudah mengering, Selasa (30/7/2024).

Danau Bagan Benio Tasik Serai Kering

Panas dan kemarau yang berkepanjangan hampir satu bulan juga membuat Danau Bagan Benio, Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis kering. Kondisi itu membuat masyarakat setempat kesulitan untuk mencari ikan.

Bahkan sebagai jalur transportasi masyarakat setempat, melalui danau menuju ke Sungai Siak Kecil dengan menggunakan sampan juga terganggu. “Ya, sudah satu bulan ini tak turun hujan, makanya air danaunya kering kerontang,” ujar salah seorang warga Edi Suprayetno, Selasa (30/7).

Ia menyebutkan, kondisi panas selama satu bulan ini membuat warga setempat kesulitan mencari ikan untuk dikonsumsi sehari-hari. Karena biasanya danau ini menjadi tempat mencari nafkah bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan maupun pemancing.

Tapi katanya lagi, dengan kondisi air danau yang sudah kering, tidak hanya membuat warga kesulitan mencari ikan, tapi juga kesulitan untuk bepergian karena harus melintasi jalan buruk atau lumpur.

“Kalau ada airnya warga bepergian menggunakan sampan. Tapi sekarang airnya kering, maka mau tak mau harus ditempuh dengan berjalan jalan kaki,” ujarnya.

Bahkan kata Edi, dengan kondisi kemarau panjang ini, yang dikhawatirkan adalah masalah kebakaran. Kalau lahan maupun hutan yang kering ini ada tersulut api, maka dengan sekejap hangus terbakar.

Edi menyebutkan, Kawasan Danau Bagan Beneo ini merupakan kawasan Giam Siak Kecil yang seharusnya dijaga oleh pemerintah. Makanya masyarakat setempat meminta ada perhatian pemerintah terhadap desanya yang masih terisolir.

Edi yang juga ketua RT setempat meminta agar jalan menuju ke Danau Bagan Beneo ini dilakukan normalisasi sepanjang 3 km. Karena akses masyarakat menuju ke danau untuk bepergian keluar dari kampung sangat sulit.

“Ya, sekarang ini kan jalannya susah dilewati, karena banyak kayu-kayunya. Makanya kami minta dibuat kanal dengan lebar 4 meter sampai menuju danau. Sehingga saat hujan atau banjir, jalannya masih bisa dilewati. Tidak seperti sekarang, malah kering seperti ini sudah bisa dilewati, karena biasanya warga menggunakan sampan untuk bepergian,” ujarnya.

Kualitas Udara Masih Aman

Kualitas udara di Kota Pekanbaru dan sekitarnya mulai mengalami penurunan dari kategori baik. Sampai Selasa (30/7) pukul 15.30 WIB, kualitas udara masuk dalam kategori sedang. Artinya, meski kualitas udara mengalami penurunan dari kategori baik menjadi sedang, namun kualitas udara masih aman dan dapat diterima oleh kesehatan makhluk hidup serta manusia.

Pantauan Riau Pos, berdasarkan data grafik ISPU yang ditampilkan pada aplikasi ISPU NET, kondisi kualitas udara masuk kategori sedang. Indeks Standar Pencemaran Udara (IPSU) berada di ring 59 dengan PM 2,5. Artinya kualitas udara masih aman untuk manusia.

Masyarakat Kota Pekanbaru turut memantau kualitas udara melalui aplikasi tersebut. Mereka ingin melihat perubahan kualitas udara di musim kemarau sekarang ini. “Yang paling tinggi PM 2,5 tetapi statusnya masih sedang. Tingkat kualitas udara masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan,” ujar Irvan, salah seorang warga Jalan Cipta Karya Pekanbaru.

Hal senada disampaikan Doni warga Pekanbaru lainnya. Ia melihat kualitas udara pada aplikasi tersebut dan berharap kondisi udara berstatus baik. “Semoga kualitas udara tidak terus memburuk dan cepat bisa berada di ring baik,” tambahnya.

Kualitas udara dipengaruhi dengan kondisi arah angin yang berhembus. Perubahan IPSU dapat berubah-ubah setiap saat sesuai dengan arah angin setiap saatnya. Diketahui, dalam proses mendapatkan data ISPU harian Kota Pekanbaru, prosesnya dimulai dari pengukuran oleh analyzer di tiga stasiun permanen (fixed station) di Kulim, Sukajadi, dan Tampan.

Terhitung sejak 25 April 2016, Server di Laboratorium Udara (Regional Center) berlokasi Kompleks MPP Kota Pekanbaru mengalami kerusakan. Menurut analisa DLHK Pekanbaru ini disebabkan oleh faktor usianya yang sudah tua. Sehingga sejak itu, proses komunikasi data dan analisa data tidak lagi bisa dilakukan secara otomatis namun secara manual.

Titik Panas Kedua Terbanyak di Sumatera 

Provinsi Riau masih menjadi provinsi kedua setelah Bangka Belitung yang ikut menyumbang titik panas di Pulau Sumatera. Berdasarkan data dari Badan Meteoreologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Selasa (30/7), titik panas di Riau tercatat 42 titik yang tersebar di 10 daerah.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pekanbaru Irwansyah Nasution mengatakan, secara keseluruhan saat ini Provinsi Riau sudah memasuki musim kemarau dan hal ini yang membuat titik panas di Provinsi Riau ikut mengalami peningkatan.

‘’Titik panas tersebut tersebar di  Kabupaten Bengkalis  3 titik, Kepulauan Meranti 4 titik, Kampar  1 titik, Kota Dumai  5 titik, Pelalawan 4 titik, Rokan Hilir 6 titik, Rokan Hulu  4 titik, Siak  5 titik, Indragiri Hilir  7 titik, dan  Indragiri Hulu 3 titik,’’ ujarnya.

Sementara itu, wilayah Pulau Sumatera terdata ada 250 titik panas yang tersebar di Aceh  1 titik, Bengkulu 8 titik, Jambi 28 titik, Lampung  22 titik, Sumatera Barat 23 titik, Sumatera Selatan 27 titik, Sumatera Utara 30 titik, Kepulauan Riau  8 titik,  dan Bangka Belitung  61 titik.

Kampar Siaga Karhutla

Dalam rangka cepat tanggap kemarau terjadi kebakaran, Pj Bupati Kampar  Hambali menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Penetapan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Balai Bupati Kampar, Bangkinang, Selasa (30/7).

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kampar Agustar menjelaskan, berdasarkan imbauan BMKG terkait fenomena El Nino atau pemanasan suhu musim kemarau di Riau, maka perlu langkah konkrit di Kampar untuk melakukan strategi pencegahan karhutla.

“Hal ini (karhutla, red) tentu saja memberikan efek buruk bagi lingkungan, bahkan masyarakat. Menurut data, saat ini ada 11 kecamatan yang rawan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kampar dengan status siaga,” ungkap Agustar.

Menanggapi hal tersebut, Pj Bupati Kampar Hambali menjelaskan komitmen dalam melakukan pencegahan karhutla di Kampar. “Ini merupakan sinergi bersama dalam kesiapsiagaan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kampar dapat teratasi. Sehingga tidak terjadi dampak buruk bagi masyarakat,” jelasnya.

Hambali menyampaikan, beberapa kasus karhutla yang terjadi di Kabupaten Kampar bukan hanya dipengaruhi oleh fenomena El Nino, melainkan ada faktor kelalaian dari manusia dalam membuka lahan dengan cara membakar.

“Bersama TNI/Polri dan forkopimda lainnya, kami akan menindak tegas pelaku yang  sengaja  yang membakar lahan tersebut. Saya perintahkan seluruh OPD terkait untuk melakukan imbauan dan sosialisasikan kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan  dengan cara membakar,” ungkap Hambali.

Sementara itu, Kapolres Kampar Ronald Sumaja menyebutkan, Polri selalu berkolaborasi dengan Babinsa dan Babinkamtibmas untuk selalu komitmen dalam pencegahan karhutla di Kampar. “Kemarin ada 8 titik sudah melakukan pemadaman di Kecamatan Tapung,’’ ujarnya.

‘’Kami berpedoman untuk mengedepankan pencegahan. Tentunya untuk pemerintah daerah perlu pendataan pemilik lahan karena memang faktor kebakaran ini merupakan kesengajaan manusia,” tambahnya.

Jika Kampar sudah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla, Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ) Kota Pekanbaru hingga kini belum menetapkan status tersebut. Kalaksa BPBD Kota Pekanbaru Zarman Chandra mengatakan, kebakaran yang terjadi masih bisa ditanggulangi.

“Sampai saat ini, kami memang belum mengusulkan Status Siaga Darurat Karhutla untuk Kota Pekanbaru. Pasalnya, walaupun sudah ada kejadian kebakaran, tapi hal tersebut masih bisa kami tanggulangi bersama tim lainnya di lapangan,” katanya.

Lanjut Zarman, terhitung sejak Januari hingga Juli 2024 ini, karhutla yang terjadi di Kota Pekanbaru sudah 13 kali yang berada di 6 kecamatan dengan luas mencapai 2,7 hektare. Sementara untuk 6 kecamatan yang menjadi lokasi kebakaran berada di Kecamatan Rumbai, Rumbai Barat, Marpoyan Damai, Payung Sekaki dan Binawidya dan Tenayan Raya.

Tak hanya itu, Zarman Chandra juga menjelaskan jika saat ini OPD-nya sudah terintegrasi dengan layanan darurat tunggal atau call center 112. Sehingga, bila terjadi bencana kebakaran lahan, banjir, dan sebagainya, masyarakat cukup menekan 112 untuk mendapatkan pertolongan.

Tersangka Terancam 10 Tahun Penjara

Sementara itu, SS (28), pelaku pembakaran lahan di kawasan Rumbai Bukit terancam hukuman 10 tahun penjara. Hal ini disampaikan Kanit Tipiter Satreskrim Polresta Pekanbaru Iptu Budi Winarko. Menurut Iptu Budi, SS dijerat dengan pasal berlapis.

Pertama, Pasal Perlindungan dan atau Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kemudian terkait unsur sengaja menyebabkan kebakaran dan membahayakan. ‘’Tersangka SS kita jerat Pasal 108 Jo Pasal 69 Ayat (1) Huruf a UU RI No 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan atau Pengolahan Lingkungan Hidup atau Pasal 187 KUHP,’’ ujarnya.

Atas dua pasal tersebut, SS, sebut Iptu Budi terancam pidana penjara selama 10 tahun. Apalagi belakangan diketahui yang dibakar  bukan lahannya sendiri. Melainkan objek vital nasional. Lahan yang dibakar merupakan lahan di bawah pengelolaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Rangkul Perusahaan

Hingga saat ini, karhutla yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Pelalawan semakin parah dan kian mengkhawatirkan. Guna mengantisipasi dan meminimalisir bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan segera memperkuat tim penanganan bencana dengan merangkul perusahaan yang beroperasi di Negeri Bono ini.

“Ya, saat ini kami hanya memiliki Tim Penanganan Darurat Bencana (TPDB) dari Badan Penanggulangan Bencana  Daerah yang dibantu oleh Dinas Pemadam Kebakaran Daerah, Satpol PP, TNI/Polri dengan segala keterbatasan yang ada. Sementara itu, kondisi karhutla semakin bertambah parah,’’ ujar Bupati Pelalawan, H Zukri SE, Selasa (30/7).

“Untuk itu, guna mengantisipasi dan meminimalisir bencana karhutla ini, maka kita memperkuat tim dengan merangkul pihak perusahaan untuk dapat ikut terlibat dan membantu masalah bencana dengan turun langsung ke lapangan memantau perkembangan dan pemadaman karhutla ini,” terang.

Dijelaskan Bupati, selama ini setiap terjadinya masalah karhutla, pihak perusahaan yang beroperasi di Negeri Seiya Sekata ini dinilai terkesan hanya jaga gawang. Artinya, setiap ada masalah karhutla, pihak perusahaan hanya stand by di lokasi areal perusahaannya masing-masing agar lahan perusahaan tidak ikut terbakar.

Sementara itu, karhutla yang terjadi di luar areal perusahaan, maka perusahaan terkesan enggan membantu pemerintah dan warga dalam memadamkan api akibat karhutla tersebut. “Tidak ada alasan lagi bagi perusahaan untuk tidak ikut membantu pemerintah dan warga dalam memadamkan karhutla tersebut,’’ ujarnya.(amn/kom/ilo/ayi/ksm)

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

Editor : RP Arif Oktafian
#suhu udara #musim kemarau #cuaca di riau #cuaca panas #bmkg pekanbaru #pekanbaru #35 derajat celcius