Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dikti Tetapkan Unri sebagai Pusat Unggulan Iptek Gambut dan Kebencanaan, Peneliti: Integrasi Membingkai Ekonomi Hijau

Redaksi • Rabu, 7 Agustus 2024 | 08:49 WIB

Kegiatan penelitian PUI Gambut dan Kebencanaan LPPM Unri tentang bencana abrasi pesisir gambut di Pulau Bengkalis, Riau, beberapa waktu lalu.
Kegiatan penelitian PUI Gambut dan Kebencanaan LPPM Unri tentang bencana abrasi pesisir gambut di Pulau Bengkalis, Riau, beberapa waktu lalu.


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Riau memiliki lahan gambut yang sangat luas, yaitu kurang-lebih 4,9 juta ha atau sekitar 62 persen dari luas wilayah daratannya. Lahan gambut merupakan suatu bentuk lahan basah yang memiliki keunikan tersendiri, mengingat gambut merupakan material organik. Apabila lahan gambut dikeringkan dan di atasnya dilakukan pembakaran, maka gambutnya bisa ikut terbakar. Hal inilah yang menyebabkan kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan.

Masyarakat Riau sudah lama tercekam dampak buruk kebakaran lahan dan hutan, termasuk kebakaran lahan gambut. Selama kurun waktu sekurang-kurangnya 20 tahun, yaitu antara 1998 hingga 2018, hampir setiap tahun terjadi kebakaran lahan gambut. 

Hal ini menimbulkan bencana kabut asap yang membuat berbagai sektor kehidupan terdampak, terutama sektor kesehatan masyarakat.

Peristiwa bencana beruntun tersebut mendorong Universitas Riau (Unri) untuk membentuk Pusat Studi Bencana (PSB) pada tahun 2015 lalu. PS yang bernaung di bawah LPPM Unri ini diberi amanah untuk mengkaji dan menemukan solusi bagi pencegahan atau setidaknya meminimalkan dampak negatif dari bencana yang ditimbulkan. 
 
Baca Juga: Jika 4 Hewan Ini Melintas di Depan Anda, Itu Pertanda akan Terjadi Sesuatu yang Baik
 
Melalui kerjasama dengan berbagai pihak, antara lain BRG, KLHK, Universitas Kyoto, Universitas Yamaguchi, RIHN dan CIFOR,  para dosen yang tergabung sebagai peneliti PSB bergiat mengkaji karakteristik ekosistem gambut dan perubahan-perubahan yang dipicu oleh deforestasi serta konversi dan drainasi lahan.
 
Mengingat gambut tidak bisa dipisahkan dari air, maka banyak kajian-kajian para  peneliti PSB berhubungan dengan tema ini. Hasil-hasil riset PSB sudah banyak yang diperkenalkan, baik sebagai presentasi di berbagai forum nasional maupun internasional, maupun sebagai artikel jurnal ilmiah. 
 
Baca Juga: Bantah Susu UHT Bikin Diabetes, Ketua IDAI: Banyak Remaja Kena Diabetes karena Pola Hidup Tidak Sehat
 
Hasil-hasil riset ini sebagian bahkan sudah diserap oleh BRG (atau BRGM) untuk diterapkan dalam pengelolaan lahan gambut, terutama dalam upaya penjagaan kebasahan  atau pembasahan ulang gambut. Hal ini selain menjadi strategi jitu untuk menekan kerentanan terbakarnya gambut, juga sekaligus mengurangi emisi karbon, yang diyakini sebagai pemicu perubahan iklim dunia.
 
Pada tahun 2023 lalu Unri mengubah PSB menjadi PS Gambut dan Kebencanaan untuk lebih memfokuskan karakteristik wilayahnya beserta fenomena kebencanaan yang terkait. Bahkan kemudian PS ini dipromosikan sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI Gambut dan Kebencanaan).
 
Setelah melakukan evaluasi yang cukup panjang pada tahun 2024 ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, memperoleh dasar yang meyakinkan untuk memberikan pengakuan terhadap kelayakan PS Gambut dan Kebencanaan sebagai sebuah Pusat Unggulan Iptek (PUI) atau Center of Excellence (CoE) di bidangnya. 
 
Baca Juga: Sipalaga BRG: Waspadai Kekeringan Lahan Gambut
 
Dengan demikian, Unri secara resmi menjadi rujukan dalam isu-isu yang berkaitan dengan gambut dan kebencancanaan.
 
Menurut Dr Sigit Sutikno, koordinator PS Gambut dan Kebencanaan, penetapan PS ini sebagai PUI oleh Dikti tentu saja sangat menggembirakan. 
 
"Hal ini bermakna Dikti siap memberikan dukungan dana bagi pengembangan penelitian dan kelembagaan lebih lanjut hingga tiga tahun ke depan. Tentu juga bermakna adanya tuntutan yang semakin berat untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas PUI," beber Dr Sigit.
 
Baca Juga: BRG Sosialisasi Kelola Lahan Gambut tanpa Bakar
 
Dr Haris Gunawan, salah satu pendiri sekaligus pernah menjadi koordinator PSB (2015-2016) dan salah satu Deputi BRG (2016-2021), menambahkan bahwa PUI ini berupaya mengembangkan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan. 
 
"Dalam hal ini, dikotomi antara lingkungan dan ekonomi harus diubah menjadi integrasi antara keduanya dalam bingkai ekonomi hijau," ujar Dr Haris.
 
Haris menambahkan, potensi jasa-jasa lingkungan yang dimiliki ekosistem gambut sangat menjanjikan.
 
Baca Juga: Ini 5 Cara Menghadapi Kritikan Orang
 
"Sebagai contoh, terdapat peluang besar untuk menawarkan jasa ekosistem gambut sebagai penyimpan karbon dalam perdagangan karbon dunia," beber Haris.
 
Prof Dr Mubarak, Ketua LPPM Unri, secara terpisah menjelaskan arti penting dari pengakuan DIKTI terhadap apa yang telah dicapai melalui penelitian-penelitian yang cukup panjang oleh civitas academica universitas ini. 

Baca Juga: LPPM Unri Kembangkan Pupuk Organik
 
"Pengakuan ini akan membantu meningkatkan peringkat Unri di antara universitas-universitas lain yang ada di negara ini," pungkas Dr Mubarak.
Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

Editor : RP Eka Gusmadi Putra
#Diktiristek #Ekonomi Hijau #lppm unri #Unri #Luas lahan gambut riau #Pusat unggulan iptek