TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) - Kelurahan Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, berhasil menekan angka stunting di wilayahnya menjadi satu digit kepala keluarga.
Dari pendataan yang dilakukan, jumlah angka stunting di wilayah Kelurahan Sungai Jering per Agustus 2024, tinggal 7 KK. Hal ini selaras dengan target penurunan angka stunting di Provinsi Riau maupun di Kabupaten Kuansing yang sudah dicanangkan beberapa waktu lalu.
"Kalau per Agustus 2024 data yang saya terima dari Kepala Puskesmas Kari, angka stunting di Kelurahan Sungai Jering tinggal 7 KK. Dan kami bersama tim kesehatan Puskesmas dan Posyandu yang ada, terus berupaya memberi penyuluhan pada masyarakat," ungkap Lurah Sungai Jering Eka Putra SSos MSi dan Pimpinan BLUD Puskesmas Kari, Gusria Ningsih SKM kepada Riaupos.co, Selasa (3/9/2024) di Telukkuantan.
Kelurahan Sungai Jering, terang Eka Putra, memiliki kurang lebih 1.900 kepala keluarga dengan wilayah yang cukup luas. Memiliki Puskesmas Kari dan dua Posyandu yang didukung hanya dua orang bidan dan sarana yang kurang memadai.
Namun itu, tidak menyurutkan langkah Kelurahan Sungai Jering bersama tenaga kesehatan Puskesmas Kari dan dua Posyandu untuk terus memberikan penyuluhan pada masyarakat soal isu stunting yang menjadi salah satu program prioritas.
Hanya saja, dalam memerangi kasus stunting di daerahnya, kelurahan tidak memiliki APBDes seperti desa yang teranggarkan dalam APBDesnya. Makanya saat dia belum lama menjadi lurah, menyuarakan kalau kelurahan ke depan bisa mendapatkan alokasi sama seperti desa di Kuansing.
"Tapi itu tidak menyulutkan langkah kami," ujar Eka.
Bahkan, secara rutin pegawai di lingkungan Kelurahan Sungai Jering dan Puskesmas melakukan sosialisasi ke rumah-rumah warga. Terutama ibu hamil, pasangan usia subur untuk rutin melakukan cek kesehatan, makan makanan bergizi. Sebab, pencegahan stunting harus dilakukan sedari dini.
"Kami selalu menganjurkan pada pasangan usia subur, calon pengantin, remaja, ibu hamil, menyusui, anak-anak balita agar selalu menjaga kesehatan mereka. Karena dari situlah stunting dapat di cegah, " Pimpinan BLUD UPTD Puskesmas Kari, Gusria Ningsih SKM.
Kemudian, pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT) lokal dengan sasaran anak balita dan balita stunting yang segera dilakukan. Mengingatkan jadwal bulan timbang bayi dan balita.
Lalu, aksi bergizi ke sekolah SMP dan SMA, germas, sarapan pagi di sekolaH. Pemberian tablet tambah darah pada Ibu hamil dan calon penganten, pemberian makanan tambahan lokal untuk anak gizi kurang. Untuk keluarga beresiko stunting karna penyebab ekonomi ini perlu bantuan ke lintas sektor, seperti Baznas dan perangkat desa/kelurahan setempat dan beberapa langkah lain untuk memerangi stunting.
Laporan: Desriandi Candra (Telukkuantan)
Editor : RP Edwir Sulaiman