PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Mengingat kembali perjalanan penggalian sumur minyak pertama di Riau dilakukan di Minas pada Maret tahun 1941 silam. Pengeboran dimulai pada 10 Desember 1943 dan selesai pada 4 Desember 1944 dengan kedalaman 2.624 feet atau setara dengan 800 meter.
Sejarah eksplorasi minyak dari masa ke masa itu bisa dijumpai disalah satu Laboratorium Geologi milik Pertamina Hulu Rokan (PHR). Didalam laboratorium ini menyimpan Ribuan sample inti (core) batuan dari perut bumi hasil eksplorasi yang dilakukan.
Senior Biostratigrapher PHR, Satia Graha, mengatakan seperti diketahui jenis-jenis batuan ada tiga macam, diantaranya batuan beku, batuan sedimen, metamore, kalau di minyak banyak dengan batuan sedimen.
“Core sample yang ada di lab ini umumnya merupakan batuan sedimen dimana Setiap lapisan itulah yang akan dianalisis alurnya mulai dari warna, tekstur yang meliputi ukuran, bentuk, hingga keseragaman butirannya, juga kandungan mineral dan sifat kimianya serta anomali atau struktur struktur sedimen. Hal ini untuk memperoleh data geologi yang terkandung dalam batuan tersebut” jelasnya kepada Riau Pos, Kamis (17/10/2024).
Menurutnya, Sumur-sumur eksplorasi ini sangat membutuhkan core dikarenakan aktifitas didalam ekspolorasi ini merupakan padat resiko, padat karya, padat modal (modal sangat besar), padat teknologi.
“Oleh karena itu kita butuh data yang lengkap, biasanya dibutuhkan analisa yang banyak. kenapa perlu data umur, sehingga hasilnya bisa maksimal,” ungkapnya.
“Dari 17 ribu titik sumur, hanya sekitar 10 persennya yang memiliki core sample. Sisanya hanya memiliki cutting (sampel gerusan batuan yang terjadi selama proses pengeboran) serta sidewall core atau sampel yang diambil dari dinding lubang sumur,” tambahnya.
Untuk diketahui, Core merupakan sampel atau contoh batuan yang diambil dari bawah permukaan dengan suatu metode tertentu. Core umumnya diambil pada kedalaman tertentu yang prospektif oleh perusahaan minyak atau tambang untuk keperluan lebih lanjut.
Data Core merupakan data yang paling baik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan, tapi karena panjangnya terbatas, maka dituntut untuk mengambil data-data yang ada secara maksimal.
Cutting merupakan serbuk bor berupa hancuran dari batuan yang ditembus oleh mata bor (bit), serbuk bor ini diangkat dari dasar lubang bor ke permukaan oleh gerakan lumpur pemboran yang digunakan untuk mengebor pada waktu kegiatan pemboran berlangsung.
Dijelaskannya, selain menghasilkan informasi tentang kandungan minyak di satu titik sumur, para ahli juga dapat memberikan informasi lain seperti bagaimana langkah yang paling tepat untuk tindakan yang bisa dilakukan saat bagian eksplorasi mengalami kendala di lapangan.
“Dengan mempelajari core sample yang diambil dari sumur tersebut, kita bisa tahu jenis batuannya, usianya dan perlakuan yang tepat untuk mengatasinya,” katanya.
Dengan melakukan penelitian terhadap sample core ini para ahli bisa lebih maksimal dalam melakukan eksplorasi sehingga saat eksploitasi bisa mendapatkan hasil lebih sempurna.
“Ini merupakan dapur nya perusahaan minyak, karena dengan mendeskripsikan batuan yang ada, menganalisa batuannya kita bisa dapat kemana arah penyebaran minyak, dimana minyaknya, berapa besar cadangannya, dan setelah diambil barulah bisa mendapatkan profit dari minyak tersebut,” tutupnya. (van)