PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kejadian naas serangan harimau terhadap Panji (24), warga Kampung Sungai Tengah, Kecamatan Sabak Auh di Sungai Rawa bukan yang pertama di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Itu merupakan konflik ketiga pada tahun ini.
Berdasarkan catatan Riau Pos, sebelumnya ada dua serangan lainnya terjadi di kawasan ini. Yaitu serangan terhadap Yosania (43) pada 16 Juni 2024 di Kampung Penyengat, masih di dekat Sungai Rawa dan korban ditemukan tewas.
Lalu berselang beberapa bulan setelah itu, tepatnya pada September 2024, Jon Heri (40) diterkam harimau pada bagian kepala di Kampung Sungai Rawa. Namun korban selamat dari maut.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan mitigasi, Jumat (29/11). Namun, Tim BBKSDA Riau tidak langsung bisa turun ke lokasi kejadian naas menimpa Panji, Kamis (28/11). Pasalnya, saat itu hujan deras hingga lokasi sulit ditempuh.
Kepala Bidang (Kabid) Teknis BBKSDA Ujang Holisidin menjelaskan, tim di lapangan langsung menjenguk korban. ‘’Lokasi hujan lebat dan tim baru membesuk korban. Hari ini (kemarin, red) ke lokasi,’’ sebut Ujang.
Lokasi kejadian serangan harimau yang menurut saksi mencapai tinggi 120 cm tersebut, cukup jauh dari permukiman. Hal ini juga dipastikan Kabid KSDA Wilayah II BBKSDA Riau Mustafa Imran Lubis. ‘’Jaraknya dari permukiman sekitar 1 km,’’ sebutnya yang mengawasi mitigasi konflik harimau-manusia ini, Jumat (29/11).
Meski jarak 1 km dari permukiman terdekat, lokasi medan ditempuh lumayan sulit usai hujan dan jarak yang cukup jauh. Kawasan itu sendiri sudah dipastikan merupakan habitat harimau sumatera kantong Semenanjung Kampar.
Diberitakan sebelumnya, Panji bersama delapan rekannya yang sebagian besar sudah berkeluarga sepakat pergi memancing usai memberikan hak pilihnya dalam Pilkada Serentak 2024, Rabu (27/11) lalu. Mereka berangkat sekitar pukul 17.00 WIB menuju Kampung Sungai Rawa. Itulah perjalanan pertama Panji ke kampung itu, dan pertama kali juga memancing sampai beda kecamatan.
Awalnya Panji memancing di salah satu spot. Namun karena tidak ada yang mendapatkan ikan, Panji dan rekan-rekannya pindah spot mancing di wilayah Sungai Rawa itu. Sebenarnya tidak terlalu semak, ada kebun sawit dan pohon karet di sekitar anak sungai tempat Panji dan rekan-rekannya memancing. “Sekitar pukul 22.00 WIB, kami sudah berkumpul. Kami siap-siap hendak pulang karena meski sudah pindah titik memancing, tetap tidak ada ikan yang dapat,” terang Panji.
Namun, tiba-tiba temannya Gogon yang hendak mengambil pancingnya, mendapatkan ikan. Hal itu tentu saja membawa semangat baru, lalu mereka kembali lagi meletakkan pancing dengan mencari posisi terbaik. Panji menempati titik yang ditinggalkan Gogon karena temannya itu pindah posisi lebih ke atas.
Tak berselang lama, hanya sekitar belasan menit, dua kaki depan harimau mencengkeram bahu Panji dan mulut harimau menggigit tengkuk atau leher sebelah kanan. “Kaget dan bukan main sakitnya. Saya gerak cepat melakukan perlawanan dengan menarik dua kaki harimau dan mulut harimau saya tarik bagian atas dan bawahnya, hingga gigitannya terlepas,” terangnya.
Panji pun bergumul dengan harimau sambil berteriak minta tolong. Dalam hitungan menit, teman Panji bernama Basori (59) tiba. Menghalau harimau dengan menggunakan kayu. Harimau berjalan santai sekitar 4-5 meter dari keduanya, lalu duduk menghadap keduanya.
Dalam situasi itu, teman Panji lainnya tiba, dan mereka bersembilan menyaksikan harimau berjalan masuk ke dalam semak dan menghilang di kegelapan malam. Saat itu juga mereka bergegas keluar membawa Panji ke puskesmas pembantu terdekat, kemudian dirujuk ke Puskesmas Sungai Apit.
‘’Besar telapak kaki harimaunya, tingginya sekitar 120 meter,” ucap Panji yang meminta rekan-rekannya agar tak memberi tahu ayah dan ibunya karena anak ketiga dari lima bersaudara ini tak ingin orang tua khawatir.(end)
Editor : Rindra Yasin