PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir terus meluas di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Kampar, Indragiri Hulu (Inhu), Kuantan Singingi (Kuansing), Pelalawan, dan Kota Pekanbaru. Warga terdampak mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal, flu hingga sesak napas.
Korban banjir di Pekanbaru yang menempati tenda pengungsian sudah mulai mengeluhkan dampak kesehatannya. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru, Ingot Ahmad Hutasuhut, Jumat (7/3).
“Secara umum warga yang terdampak banjir masih sehat. Namun ada juga tim kami di lapangan yang menemukan beberapa anak-anak yang demam, flu, dan batuk. Ada juga yang mengalami gatal-gatal serta sesak. Mereka semua sudah diberikan tindakan medis seperti pemeriksaan kesehatan dan pemberian obatnya,” ujar Ingot.
Ingot menegaskan pihaknya intens memantau daerah yang terdampak banjir. Mereka memberikan pelayanan kesehatan dengan melakukan pemeriksaan bagi warga di tenda pengungsian. Tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan kesehatan warga terdampak banjir yang tetap bertahan di rumah yang tergenang banjir.
Setidaknya ada belasan tim kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan, khususnya terhadap korban banjir tersebut. “Tim tiap hari keliling memberikan pelayanan kesehatan untuk warga yang terdampak banjir. Kami juga memantau perkembangan kesehatan mereka tiap harinya,” tambah Ingot.
Hingga saat ini kondisi banjir di Kecamatan Rumbai ketinggian air berkurang sekitar 5 sentimeter, seperti yang terjadi di Gang Duyung 2, Kelurahan Sri Meranti Pandak, Jumat (7/3). “Memang debit air turun sedikit sekitar 5 sentimeter. Sehari sebenelumnya ketinggian air sedada orang dewasa, sekarang sepusat orang dewasa kalau di tempat kami ini ya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebagian warga di tempat tinggalnya ada yang mengungsi dan ada juga yang bertahan di rumah. ‘’Sebagian ada yang masih tetap bertahan, mereka tak bisa meninggalkan rumahnya dan ada juga yang mengungsi ke tenda-tenda pengungsian. Kalau kami sekeluarga masih tetap bertahan di sini (rumah),” katanya.
Zainal mengatakan, banyak warga yang terdampak mulai kena penyakit gatal-gatal. “Ada masyarakat korban banjir yang kena penyakit gatal-gatal. Untuk bantuan, khususnya di tempat kami ini belum ada yang sampai. Mungkin bantuan baru sampai ke tempat-tempat banjir yang lain. Kami warga di sini yang terdampak banjir juga perlu bantuan,” ujarnya.
Sementara itu, di Jalan Nelayan RW 03, Kelurahan Sri Meranti Pandak, warga terdampak telah mendapat bantuan obat-obatan. “Kami di sini sudah ada menyediakan obat gatal-gatal untuk warga yang terdampak banjir,” ujar Piter, warga RW 03 Kelurahan Sri Meranti Pandak.
12 Kecamatan, 14 Desa, dan 8 Kelurahan Dilanda Banjir
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Riau, hingga saat ini menerima laporan masih ada enam daerah di Riau yang terdampak banjir. Enam daerah tersebut yakni di Kabupaten di Rokan Hulu (Rohul), Kampar, Indragiri Hulu (Inhu), Kuantan Singingi (Kuansing), Pelalawan dan Kota Pekanbaru.
Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, total dampak kejadian bencana hidrometeorologi di Riau hingga saat ini tercatat sebanyak 28 kejadian banjir. “Kalau dihitung data kecamatan, kelurahan, desa terdampak banjir, rinciannya terjadi di 12 kecamatan, dan 14 desa serta 8 kelurahan di Riau,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, sementara itu, kepala keluarga (KK) yang terdampak tercatat dengan total 3.985 KK. Kemudian ada lima fasilitas kesehatan (faskes), 7 fasilitas pendidikan (fasdik), 2 fasilitas kantor (fastor), dan 18 fasiltas umum (fasum). Sedangkan untuk jalan yang terendam akibat banjir sepanjang 11.6 kilometer (km). Kebun 8.630 hektare dan ternak 615 ekor.
Edy menjelaskan daerah yang banjir adalah Rohul (1 kejadian banjir, 1 Kecamatan, 1 desa terdampak 610 KK dan 1 Fasum), Pekanbaru (14 kejadian banjir, 4 kecamatan, 8 kelurahan terdampak 1.319 KK dan Jalan 7 km), Kampar (4 kejadian banjir, 2 kecamatan, 4 desa dan terdampak 1,441 KK, 4 faskes, 3 fasdik, 2 fastor, 13 fasum, jalan 3 Km, kebun 8.280 Ha dan ternak 615 ekor), Inhu (7 kejadian banjir, 4 kecamatan, 7 desa, dan terdampak 584 KK, 1 faskes, 4 fasdik, 4 fasum, jalan 1,6 km dan kebun 350 hektare. Kuansing (2 kejadian banjir, 1 kecamatan, 2 desa, dan terdampak 31 KK.
Khusus Pelalawan, BPBD dan Damkar Riau belum menerima laporan kondisi terkini banjir yang terjadi. Namun, Edy membenarkan sejumlah wilayah di Pelalawan sudah digenangi air akibat luapan air sungai. Selain faktor tingginya curah hujan juga diperparah dampak pembukaan pintu air PLTA Koto Panjang di Kampar. “Petugas kita terus melakukan pemantauan banjir terjadi di sejumlah daerah di Riau,” paparnya.
Salah satunya banjir terjadi di Kecamatan Langgam. Dampak dari luapan sungai telah merendam jalan lintas Kelurahan Langgam ke Desa Lubuk Ogung Kecamatan Bandar Sungai Kijang debit air mencapai 55-120 cm, naik 5 cm dari hari sebelumnya. Akibatnya jalan ini tidak dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat dengan panjang sekitar 890 meter.
“Kemudian, Jalan Pemda Kecamatan Langgam penghubung Jalan Koridor RAPP, ketinggian debit air mencapai 55-125 cm, naik 3 cm dari hari sebelumnya. Kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melintas di sepanjang 550 meter,” ujarnya.
Selanjutnya Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, ketinggian debit air mencapai 60-134 cm, dengan kenaikan 5 cm dari hari sebelumnya. Jalan ini tidak dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat sepanjang 770 meter.
“Sedangkan permukaan Sungai Kampar, debit air tercatat mencapai 385 cm, naik 7 cm dari hari sebelumnya, Jalan Koridor RAPP KM 23 Kel. Langgam Debit air mencapai 30-57 cm, naik 7 cm dari hari sebelumnya. Jalan ini tidak dapat dilalui kendaraan roda dua sepanjang 400 meter,” paparnya.
Banjir juga berdampak pada sejumlah rumah warga di Kecamatan Langgam, antara lain, RT 001 RW 005 Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam 9 unit rumah, RT 001 RW 002 Keluraha Langgam 6 unit rumah, RT 002 RW 002 Kel. Langgam 12 unit rumah dan RT 001 RW 001 Kel. Langgam 8 unit rumah.
Beberapa fasilitas umum di Kecamatan Langgam juga terdampak banjir, antara lain SDN 004 Dusun Muaro Sako Kelurahan Langgam, Pondok Tahviz Kelurahan Langgam, Musholla RT 002 RW 002 Kelurahan Langgam dan Musholla RT 001 RW 001 Kelurahan Langgam.
“Penyeberangan menggunakan pompong tradisional tersedia di dua titik dengan tarif yang berbeda, dari Desa Tambak ke Desa Sotol dikenakan tarif Rp15.000 untuk satu unit kendaraan beserta pengendara. Sedangkan dari Kelurahan Langgam ke Desa Lubuk Ogung dikenakan tarif Rp170.000 untuk satu unit kendaraan beserta pengendara,” paparnya.
Jalintim KM 83 Mulai Tergenang Banjir
Genangan air telah merendam badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Km 83 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras. Kapolres Pelalawan AKBP Afrizal Asri SIK turun langsung, Jumat (7/3). Dalam pengecekan itu, Kapolres didampingi Kasatlantas AKP Enggarani Laufria SIK MSi, Kasi Was AKP Feri Febrianto SH, dan Kasi Humas AKP Edy Haryanto SH MH.
Untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan di sepanjang jalan lintas timur Km 76-83, pihaknya melakukan rekayasa lalu lintas, penjagaan, dan pengaturan. “Saat ini tinggi genangan air berkisar 10-15 cm. Namun, arus lalu lintas masih lancar,’’ ujarnya.
‘’Kami buka dari dua arah baik dari arah Pekanbaru menuju Rengat atau sebaliknya dari arah Rengat menuju Pekanbaru. Sistem buka tutup hingga saat ini belum kita berlakukan. Namun personel Satlantas dan Samapta telah disiagakan di lokasi banjir tersebut,” tambahnya.
Kapolres mengaku turun langsung ke lokasi untuk memastikan seluruh personel telah siaga di lapangan untuk memberikan pelayanan kepada pengguna jalan dan menciptakan situasi kondusif. “Arus lalu lintas terpantau cukup padat. Bila hal ini tidak diurai, kendaraan akan menumpuk dan berpotensi terjadinya kemacetan,’’ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pelalawan Zulfan mengatakan, level air Sungai Kampar 3,90 meter atau naik 5 cm dari hari sebelumnya. Alhasil, banjir mulai menggenangi Km 83 Desa Kemang dengan ketinggian air mencapai 10 cm.
“Namun demikian, sejauh ini jalan lintas provinsi ini masih dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat melalui sistem dua arah tanpa adanya sistem buka tutup jalan. Tapi, diprediksi tinggi air di jalan nasional ini akan kembali naik dalam dua hari ke depan,” jelasnya.
Pintu Pelimpahan Waduk PLTA Dikurangi
Intensitas hujan mulai turun di hulu waduk PLTA Koto Panjang, Kampar. Untuk itu, dilakukan pengurangan bukaan pintu pelimpahan waduk (spillway gate) setinggi 40 cm, Sabtu (8/3) hari ini. Hal ini diungkapkan Manajer PLTA Koto Panjang Dhani Irwansyah.
”Berdasarkan hasil pembahasan Tim Koordinasi Pengoperasian Bendungan PLTA Koto Panjang, maka diinformasikan pengurangan tinggi bukaan lima pintu pelimpahan waduk PLTA Koto,” jelas Dhani Irwansyah, Jumat (7/3).
Dhani Irwansyah menambahkan, Sabtu (8/3) sekitar pukul 10.00 WIB, bukaan lima pintu pelimpahan waduk sebelumnya setinggi 70 cm. Akan dikurangi bukaan lima pintu pelimpahan waduk setinggi 40 cm.
”Maka bukaan lima pintu pelimpahan waduk PLTA Koto setinggi 30 cm. Diperkirakan penurunan permukaan air Sungai Kampar 20 cm sampai 30 cm dari kondisi terakhir,” jelas Dhani Irwansyah.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Kampar Agustar melalui Kepala Pusdalops Adi Candra menjelaskan, banjir masih melanda Desa Lubuk Siam Kecamatan Siak Hulu. Sebanyak 345 unit rumah, 554 KK dan 1.797 jiwa terdampak banjir. Ketinggian air berkisaran lebih kurang 10 cm sampai 25 cm.
‘’Banjir juga masih melanda Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu. Sebanyak 270 unit rumah 519 KK dan 2.076 jiwa yang terdampak banjir. Ketinggian air berkisaran lebih kurang 40 cm sampai 90 cm,’’ jelas Adi Candra.
Adi Candra menambahkan, banjir juga masih melanda Desa Tanjung Balam Kecamatan Siak Hulu. Sebanyak 140 unit rumah, 246 KK, dan 984 jiwa terdampak banjir.
Kuansing Aman Banjir
Baca Juga: Meski Tidak Terdampak Banjir, Pemkab Inhil Ingatkan Masyarakat Selalu Waspada
Debit air Sungai Kuantan, Jumat (7/3) dari Tepian Narosa Teluk Kuantan berangsur-angsur mulai normal. Tak ada rumah warga yang terendam banjir luapan Sungai Kuantan. Masyarakat pun sudah menjalankan aktivitas seperti biasa menyambut Ramadan 1446 H.
Kondisi ini membuat Kuansing aman dari bencana banjir. Namun, pemkab melalui BPBD tetap saja mengingatkan untuk selalu waspada banjir dan masih memberlakukan Status Siaga Bencana Banjir. Sebab, kondisi cuaca sekarang yang masih berubah-ubah.
Menurut BMKG Riau, di Maret 2025 intensitas hujan diperkirakan tinggi dengan cuaca panas dan berangin. “Alhamdulillah, di Kuansing banjir tidak terlalu lama. Air Sungai Kuantan cepat surut. Tapi kewaspadaan tetap dilakukan mengingat cuaca yang masih berubah-ubah,”ungkap Kalaksa BPBD Kuansing H Yukizar.
Meski Kuansing tak lagi dilanda banjir, dalam pertemuan bersama Gubernur Riau Abdul Wahid di Pekanbaru, Pemkab Kuansing tetap meminta dukungan dan bantuan Pemprov Riau bagi masyarakat Kuansing yang beberapa hari lalu terdampak banjir luapan Sungai Kuantan di beberapa kecamatan.
“Ada ribuan KK juga di Kuansing yang terdampak banjir, meski tidak lama dan air tidak terlalu tinggi,” ujarnya. Akibat luapan air Sungai Kuantan pada 1-3 Maret 2025, ribuan KK tidak bisa bekerja. Aktivitas mereka terganggu meski tidak sampai harus dilakukan evakuasi dan tidur di tenda pengungsian.
Dari catatan Riau Pos, banjir luapan Sungai Kuantan yang paling parah sebelumnya terjadi di Kecamatan Inuman. Ada 1.608 KK yang terdampak banjir. Kemudian Kuantan Hilir Seberang sebanyak 770 KK yang terkena dampak banjir. Sedangkan wilayah Kecamatan Kuantan Hilir melandaDesa Pulau Madinah dan Desa Pulau Kijang.
Di Kecamatan Pangean, hampir merata di desa yang berdekatan dengan Sungai Kuantan. Seperti Desa Pauh Angit, Desa Pauh Angit Hulu, Pulau Deras, Padang Kunyit, Pembuatan, Pulau Ronge dan lainnya. Desa-desa yang terkena banjir, sudah disalurkan bantuan oleh pemkab oleh Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby dengan stok yang ada.
Inhu Siaga Darurat
Walaupun di bagian hulu level air Sungai Indragiri mulai surut 10 cm dari sebelumnya, namun di bagian hilir wilayah yang terendam semakin bertambah. Saat ini, sudah ada 53 desa di 10 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Inhu terendam.
Kondisi itu menjadi salah satu dasar peningkatan status keadaan darurat banjir dari tanggap darurat menjadi siaga darurat. Peningkatan status banjir itu ditetapkan melalui rapat bersama yang dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Inhu, Ir H Hendrizal MSi, Jumat (7/3).
Kecamatan yang terendam di antaranya Kecamatan Batang Peranap sebanyak 6 desa, Kecamatan Peranap sebanyak 8 desa, Kecamatan Kelayang sebanyak 6 desa, Kecamatan Rakit Kulim sebanyak 6 desa, Kecamatan Sungai Lala sebanyak 7 desa, Kecamatan Pasir Penyu sebanyak 6 desa, Kecamatan Lirik sebanyak 3 desa, Kecamatan Rengat Barat sebanyak 6 desa, Kecamatan Rengat sebanyak 2 desa dan Kecamatan Kuala Cenaku sebanyak 4 desa.
“Diminta kepada semua pihak untuk bersama-sama menyamakan persepsi membuat rencana kerja serta rencana aksi yang lebih cepat, tepat, terarah, dan terukur dalam upaya penanggulangan bencana hidrometeorologi ini,” ucap Wabup Hendrizal.
Wabup juga meminta kepada KPBD untuk dapat mengkoordinasikan langkah-langkah penanggulangan terhadap bencana hidrometeorologi kepada OPD dan instansi terkait. Selanjutnya kepada para camat, Wabup meminta agar membangun koordinasi dengan kelurahan dan desa bersama-sama menyusun strategi agar semua lini bergerak cepat dalam melakukan penanganan bencana banjir.
Wabup juga berpesan kepada peserta rapat agar memberikan edukasi serta pemahaman kepada masyarakat untuk dapat ikut melakukan pemantauan. Kemudian, jika ada desa terendam banjir segera tangani dan laporkan kepada tim yang dibentuk untuk segera dibantu penanganannya. “Kepada camat agar dapat menyiapkan SDM yang ada di kelurahan dan desa untuk ikut membantu dalam penanganan bencana hidrometeorologi,” bebernya.(dof/ilo/sol/amn/dac/amn/nda/kas)
Editor : Rindra Yasin