Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Produksi Menurun Jadi Faktor Kenaikan Harga Kelapa

Tim Redaksi • Sabtu, 19 April 2025 | 11:37 WIB
Ilustrasi: Dalam enam bulan ke depan, produksi kelapa di Kabupaten Indagiri Hilir diprediksi mengalami penurunan akibat perubahan cuaca.
Ilustrasi: Dalam enam bulan ke depan, produksi kelapa di Kabupaten Indagiri Hilir diprediksi mengalami penurunan akibat perubahan cuaca.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Harga kelapa di Riau melambung tinggi saat ini. Kepala Dinas Perkebunan Riau Syahrial Abdi mengatakan, salah satu faktor kenaikan harga kelapa saat ini juga terjadi akibat turunnya produksi kelapa.

Turunnya produksi tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Saat ini produksi buah kelapa memang sedang menurun signifikan. Beberapa faktor nya yakni memang secara alamiah, jenis-jenis palma itu sedang mengalami masa trek,” katanya, Jumat (18/4).

Kemudian, penyebab lainnya yakni faktor cuaca sehingga proses pembuahan tidak maksimal. Selanjutnya umur kelapa yang sudah tua juga menjadi faktor turunnya produksi kelapa. “Dari sisi perkebunan, itu beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya produksi kelapa. Terutama di Kabupaten Indragiri Hilir dan juga Kepulauan Meranti,” sebutnya.

Sementara itu, terkait faktor ekspor, menurutnya juga berpengaruh namun tidak terlalu signifikan. Pasalnya, kegiatan ekspor juga memerlukan biaya tambahan seperti biaya transportasi dan untuk pengepul.

Namun hal itu dilakukan karena perusahaan lokal membeli kelapa dengan harga yang tidak kompetitif. “Kenapa perusahaan dalam negeri hanya bisa membeli buah kelapa masyarakat dengan harga Rp2.000 hingga Rp5.000. Padahal orang luar kebun bisa membeli sampai harga Rp7.000,’’ ujarnya.

‘’Makanya kami kaakan saat rapat dengan kementerian pertanian melalui Ditjen Perkebunan untuk dipertimbangkan dan kaji kembali secara komprehensif, apakah penerapan moratorium ekspor kelapa ini tepat? Karena yang terdampak langsung adalah petani,” sebutnya.

Untuk melakukan peningkatan produksi kelapa di Riau, saat ini pihaknya juga sedang mempersiapkan program replanting kebun kelapa masyarakat yang tua. “Program repaling kebun kelapa masyarakat saat ini sedang disiapkan agar produksi kelapa bisa kembali meningkat,” ujarnya.

Pantau Harga Secara Kontinu

Tingginya harga komoditi buah kelapa di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) sejak bulan Ramadan lalu menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuansing. Lewat Dinas Kopdagrin, pemkab akan terus melakukan pemantauan harga jual di pasaran. 

Saat ini harga kelapa ukuran besar di Pasaran di Telukkuantan dan sekitarnya dijual Rp18.000 per buah. Naik dari sebelumnya dijual Rp12.000 per buah. Sedangkan kelapa ukuran kecil yang sebelumnya Rp7.000 per buah, sekarang sudah Rp12.000 per buah.

Kepala Dinas Kopdagrin Kuansing Delis Martoni melalui Kabid Perdagangan Yean Asnudi, Jumat (18/4) mengatakan, harga santan kelapa masih sama seperti Kamis (17/4) lalu. Yakni Rp25 ribu per kilogram (kg) dan Rp13 ribu per 1/2 kg. “Senin 21 April, akan kita tinjau kembali di pasaran,” ujarnya.

Dari para penjual kelapa dan santan yang ditemui kemaren, kata Yean Asnud, memang pasokan buah kelapa yang jauh berkurang. Di mana sejak bulan lalu, pasokan kelapa dari Tembilahan tidak masuk lagi ke Kuansing. 

Saat ini, pasokan kelapa di Kuansing berasal dari Sumbar dan lokal yang belum memenuhi kebutuhan. Para pedagang biasanya memesan dua kali dalam satu pekan, yakni Selasa untuk hari pasar Rabu dan Sabtu untuk hari pasar Sabtu. 

Rata-rata pedagang memesan langsung pada pemasok, baik Sumbar atau lokal. “Ada yang memesan 500 kg sampai satu ton. Cukup untuk empat-lima hari. Supaya buah kelapa yang dipesan tidak busuk,” papar Yean Asnudi. 

Ke depan, Kuansing perlu melakukan pemetaan untuk pengembangan komoditi kelapa sehingga bisa memenuhi kebutuhan sendiri.  Salah seorang ibu rumah tangga di Telukkuantan, Yuli pun mengeluhkan tingginya harga kelapa dan santan yang dijual di pasaran dalam dua bulan terakhir.

Namun sebagai ibu rumah tangga, dia tidak punya pilihan ketika membutuhkan kelapa atau santan kelapa untuk bahan membuat menu masakan bagi rumah tangganya. ‘’Semoga ada solusi segera dari pemerintah,’’ ujarnya.

Di Bengkalis Mencapai Rp12 Ribu per Kg

Dalam tiga bulan terakhir, harga jual kelapa di pasar tradisional Pulau Bengkalis juga masih sangat tinggi. Bahkan pedagang kelapa maupun pengepul perlu waktu dua hari untuk mendapatkan kelapa untuk dijual di pasar tradisional maupun tempat penjualan santan kelapa.

“Sekarang harganya masih tinggi. Kita beli kelapa bukan per biji, melainkan per kilogram dengan harga Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan kalau sudah jadi santan harganya mencapai Rp45 ribu per kilogram,” ujar Anto, salah seorang pedagang kelapa di Pasar Terubuk Bengkalis.

Ia menyebutkan, untuk mendapatkan kelapa dari pengumpul kelapa juga sangat susah. Ini harus dipesan tiga sampai empat hari lamanya. Karena para pengumpul harus mencari ke kampung-kampung, seperti di daerah Teluk Pambang, Desa Sukamaju dan Desa Kembung Luar.

“Tapi dapatnya tak banyak. Karena sulit dapat maka harganya pun tinggi. Sekarang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan masih kurang,” ujarnya.

Sedangkan Sani, salah seorang pembeli kelapa dari masyarakat juga mengaku harga kelapa masih sangat tinggi. Makanya para petani kelapa sangat diuntungkan dengan harga kelapa yang sangat tinggi.

“Biasanya satu hari kami bisa mengantar ribuan kelapa ke pelanggan yang ada di Kota Bengkalis. Tapi sekarang memenuhi kebutuhan pelanggan saja masih sulit karena kelapa sedang trek alias masih kurang buahnya,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, kondisi buah kelapa saat ini juga dipengaruhi oleh petani yang mengalih fungsikan lahan kelapa mereka ke lahan sawit. Sehingga dalam waktu bersamaan mereka menebang batang kelapa untuk dijual buat kebutuhan kegiatan proyek pemerintah.

“Jadi sekarang mulai dirasakan dampaknya. Di saat harga kelapa tinggi, tapi produksi kelapanya menurun, maka lama kelamaan buah kelapa sulit didapatkan di Pulau Bengkalis dan akhirnya dipasok dari luar,” jelasnya.

Sani yang tinggal di Desa Bantan Timur mengaku, daerah pesisir Pulau Bengkalis dulunya penghasil kelapa terbesar. Juga produksi kelapanya dijual ke Malaysia. Namun saat ini untuk memenuhi permintaan lokal masih sulit.

“Memang masih banyak yang pesan kelapa bulat buat di jual ke Malaysia. Karena sejak dulu pun para petani menjual kelapanya keluar negeri, ketika harga kelapa lokal murah,” jelasnya.

Terkait harga beli dari petani, Sani mengaku, jika enam bulan lalu membeli dengan harga Rp2.500 per buah sampai Rp4.500 per buah. ‘’Tapi sekarang harga yang kita beli dari petani Rp700 per per kilogram dan nanti dijual lagi ke pasar dengan harga Rp9 ribu per kilogram sampai Rp10 ribu per kilogram,’’ ujarnya.

Penjual Makanan Mengeluh

Harga santan di Bangkinang Kota tembus Rp40 ribu per kg. Naiknya harga santan ini membuat para pedagang makanan mengeluh. Seperti diungkapkan Uni Eti yang berjualan makanan di Jalan DI Panjaitan Kota Bangkinang.

’’Semenjak buka jualan sarapan habis Idulfitri kedua, harga santan murni sudah tembus Rp40 per kilogram. Untuk santan tidak murni mencapai Rp20 ribu per kilogram.  Harga santan naik juga berpengaruh terhadap penjualan. Sementara kelapa mencapai Rp13 ribu per buah. Tetapi biasanya kalau belanja di Pasar Inpres Bangkinang hanya membeli santan,’’ jelasnya.

Uni Eti menambahkan, karena harga santan ini naik terpaksa porsi jualan yang dikurangi. ’’Kalau menaikan harga makanan untuk sarapan belum. Karena kalau harga dinaikkan para pelanggan nanti komplain. Lebih baik porsinya saja yang dikurangi,’’ kata Uni Eti.

Eti menambahkan, walaupun harga santan cukup tinggi tetapi tetap tersedia dan tidak langka. ’’Berharap harga santan ini kembali stabil karena sangat berpengaruh kepada pedagang. Terutama pedagang makanan seperti saya ini,’’ ungkap Uni Eti.

Pemkab Inhu Belum Lakukan Kajian

Pemkab Indragiri Hulu (Inhu) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) belum membuat kajian tentang melonjaknya harga kelapa sejak sepekan terakhir. Sebab, sejauh ini kenaikan harga kelapa masih tergolong normal dan langka di pasaran.

Demikian disampaikan Kepala Disperindag Inhu Ergusfian melalui Disperindag Kabid Pengembangan Perdagangan Nurizal Murza Indra. “Kelapa tidak masuk dalam barang pokok, makanya selama ini harga kelapa tidak terlalu terpantau,” ujar Nurizal Murza Indra, Jumat (18/4).

Kenaikan harga kelapa sebutnya, masih tergolong normal. Di mana, sebelumnya harga kelapa di Pasar Rakyat Kota hanya Rp 7 ribu per buah dan naik menjadi Rp9 ribu per buah hingga Rp10 ribu per buah.

Artinya sambung Nurizal Murza Indra, kenaikan harga kelapa belum mencapai 50 persen. “Kenaikan harga masih tergolong normal akibat berkurangnya pasokan dari daerah asal,” ungkapnya.

Untuk itu harapnya, pengecer kelapa hendaknya tidak melakukan spekulasi. “Jika memang yang bermain-main dengan kondisi ini, kami tetap akan tindak,” tegasnya.(sol/dac/ksm/kom/kas)

Editor : Rindra Yasin
#kelapa #Harga Kelapa Melambung #pasar tradisional #riau #penurunan produksi