PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Akibat harga jual kelapa tua yang mulai mengalami kenaikan, banyak pedagang santan yang memilih tidak berjualan kelapa parut ataupun santan selama beberapa hari terakhir. Hal ini lantaran para pedagang merasa tidak sanggup dengan harga jual kelapa tua yang hampir mencapai Rp10.000/buahnya dari harga sebelumnya yang hanya sekitar Rp1.000 hingga Rp3.000/buahnya.
Salah seorang pedagang santan dan kelapa parut di Jalan Tengku Bey Kecamatan Bukit Raya, Putra Hadi (36), Sabtu (19/4) mengaku sudah beberapa hari terakhir tidak lagi berjualan santan ataupun kelapa parut. Pasalnya, dia tidak sanggup membeli kelapa tua yang kini dijual distributor sekitar Rp9.800 hingga Rp10.000/buahnya. Sedangkan harga jualan kelapa parut saat ini bisa berkisar Rp13.000/buah, santan kelapa campur Rp16.000/kilogram dan santan murni Rp35.000/kg.
“Tak sanggup kami jualan. Harga kelapa saja dari distributor sudah mahal. Mau jual berapa lagi kami. Kalau dulu modal kecil kami pun bisa dapat untung walaupun sedikit. Kalau sekarang biarlah tutup dulu,” katanya.
Menurutnya bukan hanya dari distributor kelapa yang ada di Sumatera Barat maupun Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang mengalami kenaikan harga jual, tetapi juga dari pasokan petani yang tidak melakukan pemanenan kelapa lantaran kelapa yang cukup lamban untuk berbuah.
Hal ini juga yang membuat banyak perusahaan santan dan juga kelapa di Provinsi Riau yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya karena pasokan santan yang ada di dalam negeri tujuannya tidak banyak. Sedangkan yang lainnya malah dijual di luar negeri.
“Banyak faktornya. Ada dari kelapa yang sudah sulit berbuah. Jadi petani nggak mau memanen cepat, ada juga harga dari distributor yang cukup tinggi. Bahkan sampai banyak PHK massal di perusahaan santan karena pasokannya tidak ada,” katanya.
Dirinya berharap harga buah kelapa tua di Pekanbaru dan Indonesia bisa kembali normal seperti sediakala, agar pedagang maupun masyarakat bisa sama-sama menikmati harga jual kelapa tua yang terjangkau. Pasalnya banyak menu olahan, khususnya masakan dan minuman di Riau yang diolah khusus menggunakan santan dan kelapa tua, sehingga sangat disayangkan jika harganya terus melilit kantong masyarakat.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang masyarakat yang juga pembeli santan Masrinah (52). Dirinya harus berkeliling mencari santan karena banyak pedagang yang tidak berjualan. Jikapun ada, harga santan dan kelapa di pasar tradisional maupun pedagang kaki lima harganya juga sudah mengalami kenaikan, sehingga dirinya harus membeli meksipun mengurangi jumlah pembelian.
“Susah sekali sekarang cari santan atau kelapa parut. Semuanya mahal. Tak dibeli, kita perlu untuk masak. Dibeli uangnya kebanyakan. Tidak cukup karena harganya yang mahal. Mau sampai kapan tanah yang banyak kelapa malah cari kelapa susah dan harganya pun mahal,” ujarnya.
Pati Santan Nomor Dua Jadi Pilihan
Naiknya harga kelapa di sejumlah pasaran di wilayah Kota Dumai yang mencapai antara Rp15 ribu per butir hingga Rp20 ribu perbutir ternyata di sisi lainnya telah memberikan dampak. Salah satu di antaranya pati santan nomor dua jadi pilihan alternatif bagi sebagian masyarakat yang ada di Kota Dumai.
Salah seorang warga Rimba Sekampung, Sania (55) yang baru saja selesai berbelanja di pasar tradisional Bunda Sri Mersing di Jalan Sultan Hasanuddin mengakui tentang kondisi harga kelapa masih bertahan. ‘’Harga kelapa masih bertahan. Sekitar Rp 20 ribu per butir,’’ kata Sania.
Lantaran harga kelapa yang dinilai masih cukup tinggi, tambah Sania, membeli pati santan menjadi pilihan. ‘’Kalau membeli pati santan nomor satu, jelas tidak mungkin. Karena, untuk takaran satu kilogram, harga pati santan nomor satu itu harganya mencapai sekitar Rp40 ribu,’’ kata Sania.
Mengingat pati santan nomor satu dinilai cukup tinggi, lanjut Sania, maka Pati santan nomor dua jadi pilihan. Malahan, sejak harga kelapa naik, pati santan nomor dua jadi pilihan. Lantaran harganya sangat terjangkau.
‘’Kalau pati santan nomor dua itu agak encer dan harganya antara Rp12 ribu per kilogram hingga Rp15 ribu per kilogram,’’ kata Sania.
Salah seorang pedagang kelapa, Ratmi menjelaskan, permintaan kelapa maupun pati santan masih standar. ‘’Permintaan kelapa maupun pati santan untuk saat ini boleh dikatakan masih normal saja,’’ Ratmi.
Dan kelapa yang dijual ini, lanjut Ratmi, didatangkan dari luar daerah. Seperti dari Padang dan Tembilahan. ‘’Kenapa harga naik, kita tidak tahu persis. Kalau naik, ya otomatis kita juga ikut naik,’’ kata Ratmi.
Harga Kelapa dan Santan di Rohul Masih Stabil
Sementara itu, harga jual kelapa dan santan kelapa segar di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) masih dalam kondisi stabil. Hingga pekan ketiga April 2025, tidak terlihat adanya lonjakan harga signifikan di sejumlah pasar tradisional maupun warung.
Berdasarkan pantauan di Pasar Modern Kampung Padang, Kecamatan Rambah, harga kelapa utuh berkisar antara Rp10.000 hingga Rp11.000 per butir, tergantung ukuran dan kualitas. Sementara itu, harga santan kelapa segar dijual dengan harga bervariasi, yaitu sekitar Rp14.000 hingga Rp16.000 per kilogram. Sedangkan pati santan dibanderol Rp40.000 per kilogram.
Salah seorang pedagang santan di Pasirpengaraian, Nirwana (47), kepada Riau Pos, Sabtu (19/4), menyebutkan harga jual kelapa utuh dan santan kelapa segar masih tergolong normal dan stabil. Ia mengatakan, meskipun ada sedikit kenaikan pada kelapa lokal, namun belum ada kenaikan harga dari pemasok utama.
“Suplai kelapa di Pasirpengaraian masih normal, harga jual masih stabil. Memang ada sedikit kenaikan harga kelapa lokal per butir, tapi belum ada perubahan dari pemasok. Rata-rata kelapa yang dijual pedagang di pasar tradisional maupun warung berasal dari Mandailing Natal (Sumut), Pariaman (Sumbar), serta dari petani lokal,” ujarnya.
Nirwana menambahkan, kelapa yang dipasok dari Mandailing Natal masih stabil, sementara kelapa dari Sumatera Barat mengalami sedikit kenaikan akibat berkurangnya hasil panen di wilayah tersebut.
Hal senada disampaikan Firman, pedagang kelapa dan santan segar di Pasar Modern Kampung Padang kepada Riau Pos, Jumat (18/4). Dia mengaku, kelapa dan santan yang dijualnya sebagian besar dipasok dari Pariaman, Sumbar, serta sebagian dari petani kelapa lokal.
“Harga kelapa per butir dan santan segar masih normal, Pak. Memang ada sedikit kenaikan dari harga modal yang kami beli dari pemasok Sumbar. Tapi kami masih menjual santan segar dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram, tergantung ukuran kelapa,” sebutnya.
Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Rohul Drs H Ibnu Ulya MSi saat dikonfirmasi Riau Pos, Sabtu (19/4), menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga bahan pokok, termasuk kelapa dan produk turunannya, guna menjaga stabilitas harga di pasar.
Ia mengakui, pasokan kelapa ke pedagang di Rohul berasal dari Sumut, Sumbar, dan juga dari petani lokal. “Dari hasil pemantauan petugas di lapangan, harga kelapa bulat dan santan segar masih relatif normal di pasar tradisional di Kecamatan Rambah. Jika pun ada kenaikan, masih dalam kategori wajar,” sebutnya.
Dengan pasokan yang lancar, Asisten II Setda Rohul itu berharap harga jual kelapa dan santan oleh pedagang di pasar tradisional di Rohul tetap stabil dan tidak mengalami lonjakan seperti yang terjadi di beberapa daerah lain.(ayi/sah/epp)
Editor : Arif Oktafian