RIAUPOS.CO - Di balik sosoknya yang ramah dan lemah lembut, tersimpan semangat, kekuatan dan keberanian yang besar. Berkat semangat tersebut, ia mampu mengemban berbagai tanggung jawab secara bersamaan tanpa merasa terbebani.
Ia adalah Sulastri. Sosok wanita dengan sejuta pengalaman dan perjuangan. Saat ini, orang-orang mungkin banyak mengenalnya sebagai sosok istri dari Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho. Namun, di balik itu, Sulastri juga memiliki kiprah dan pencapaian yang membuatnya layak menjadi inspirasi bagi para wanita.
Siapa sangka, Sulastri dulunya adalah seorang wanita yang lahir dan besar di daerah terpencil. Jauh dari hiruk pikuk kota dan kemajuan. Kepada Riau Pos dia bercerita bahwa ia berasal dari Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, Indragiri Hilir.
Daerah tersebut sangat jauh dari kota dan sangat terpencil. “Saya berasal dari desa yang jauh banget. Saya di situ dari SD sampai SMA,” jelasnya yang melanjutkan S1 di Unilak dan S2 di Unri ini.
Meski berasal dari daerah terpecil, bukan berarti membuatnya Sulastri pasrah pada hidup. Hal itu justru dijadikannya motivasi untuk berjuang menjadi sosok wanita mandiri dan memiliki karier cemerlang.
Perjuangan untuk mewujudkan impiannya itu juga sudah ia mulai sejak kecil. Bibit-bibit sosok pejuang dan pantang menyerah sudah terlihat sejak dulu. Sulastri kecil adalah gadis yang aktif dan tidak bisa diam. Ia hobi menari, ikut paskibra dan OSIS hingga menjadi ketua kelas semasa sekolah.
Hingga akhirnya, dengan bekal tersebut ia dipercaya menjadi Ketua Perempuan Golkar Inhil, Ketua KNPI Inhil, anggota DPRD Inhil dan anggota DPRD Riau selama dua periode.
“Kenapa saya termotivasi ingin menjadi perempuan sibuk berkarier, tadinya karena memang saya dari daerah yang jauh yakni di kecamatan. Jadi ingin bagaimana menjadi perempuan maju juga. Tapi pastinya, karena dari daerah yang jauh, perjuangan harus lebih keras lagi. Karena kami juga latar belakangnya tidak dari orang birokrat ataupun intelektual sebenarnya. Kami dari keluarga petani dan orang biasa-biasa saja,” paparnya.
Meski tanpa privilege, Sulastri nyatanya mampu mewujudkan impiannya. Katanya semua berkat perjuangan dan terbiasa berjuang.
Akhirnya, karena terbiasa berjuang, ia pun terbiasa dengan tantangan dan menghadapi berbagai permasalahan. Itulah yang membuatnya mampu menjadi sosok pendamping orang nomor satu di Pekanbaru, yakni Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho.
Ia juga bercerita bagaimana akhirnya sang suami, Agung memutuskan untuk maju menjadi Pekanbaru 1. Perannya dalam hal itu begitu kuat. Bukan hanya menjadi pendukung terdepan, ia juga total dalam memberikan waktu dan pemikirannya bagi sang suami.
“Dulu kami sama-sama berjalan (menjadi anggota DPRD, red). Waktu saya jadi anggota dewan di Provinsi Riau periode pertama, beliau yang support. Di periode kedua, kami sama-sama maju. Akhirnya sama-sama, beliau maju di Pekanbaru saya di Inhil. Terakhir kami pikir kalau memang ada rezeki, bisa maju untuk wali kota, biar saya yang support. Saya totalitas dukung beliau biar beliau bisa maju untuk Pekanbaru,” ceritanya.
Menurutnya, sebenarnya bisa saja ia tetap fokus berkarier. Namun, nyatanya menjadi pendamping suami jauh lebih membahagiakan bagi dirinya.
“Kalau dulu kami pikir, bisa sebenarnya sama-sama fokus berkarier. Misal saya fokus di Inhil terus, Pak Agung di sini. Tapi saya pikir kita perlu sinergi, perlu sama-sama biar saling menguatkan. Jadi memang harus ada satu yang mundur dan harus fokus. Dan Alhamdulillah, saya sudah sampai di posisi saya happy men-support suami,” ungkapnya.
Kini, menurutnya yang terpenting adalah bersama. Terlebih ia tahu bahwa saat ini, sebagai kepala daerah, sang suami sangat membutuhkan dirinya untuk selalu berada di samping. Menemani sekaligus mendukung.
Menurutnya, setiap hari, ia dan sang suami selalu berdiskusi dan sharing tentang segala permasalahan yang dihadapi. Sebagai perempuan, yang berasal dari daerah terpencil, dan terbiasa turun ke masyarakat, Sulastri memiliki sudut pandang dan pengalaman yang banyak dalam menghadapi persoalan.
Hal itu yang selalu coba ia sampaikan kepada sang suami. Agar bisa menjadi masukan dalam menghadapi permasalahan. “Alhamdulillah karena basicnya dari daerah, jadi tahu kondisi masyarakat bawah, kesusahan mereka seperti apa. Kami sering berdiskusi terkat berbagai permasalahan, lawan politik, dan memberikan semangat agar kesabaran menghadapi semua itu,” terangnya.
Berdayakan Perempuan melalui Program PKK
Sebagai istri Wali Kota Pekanbaru, Sulastri tentunya juga mengemban amanah sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Pekanbaru. Jabatan tersebut membuatnya makin dekat dengan masyarakat, khususnya ibu-ibu.
Melalui PKK ini, ia menularkan semangat berjuang dan keaktifan kepada para wanita. Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang akan dijalankan, yang melibatkan peran wanita-wanita di Pekanbaru.
“Lagi-lagi saya tekankan PKK hari ini, setiap programnya harus sejalan dengan program kepala daerah. Bukan bikin kegiatan tandingan, tapi membantu meringankan. Misalnya masalah sampah, pengangguran, UMKM, majlis taklim ini harus kita dukung, tentunya tak lepas dari support ibu-ibu semua,” sambungnya.
Ia juga melihat karakteristik perempuan di Pekanbaru, khususnya para ibu-ibu, suka berkegiatan. “Saya baru tahu ternyata ibu-ibu di Pekanbaru suka diajak berkegiatan. Mereka happy kalau kita bikin acara. Mereka merasa berharga dan berperan, bukan hanya sekadar ibu rumah tangga saja,” lanjutnya.
Melihat hal tersebut, ke depan pihaknya juga sudah menyiapkan berbagai program agar ibu-ibu bisa semakin termotivasi dan semangat menjalani hari mereka.
Program tersebut disiapkan untuk seluruh lapisan masyarakat yang mungkin tidak tersentuh selama ini. Namun, untuk itu, ia juga ingin perempuan saat ini bisa tetap berjuang layaknya Kartini.
Artinya, agar bisa menjadi perempuan yang berperan penting, perempuan menurutnya juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman. “Di masa sekarang serba digital, perjuangan ibu-ibu harus mampu bersaing menyesuaikan diri dengan hari ini, mau belajar, mau bersosialisasi dan tentunya di lingkungan,” pesannya.
Ia juga berpesan kepada para wanita-wanita di Pekanbaru, yang mungkin sedang mengalami masa-masa sulit, untuk terus melanjutkan perjuangan mereka. “Support untuk perempuan. Karena perempuan itu ditakdirkan harus sempurna walaupun dengan semua kekurangan. Di satu sisi harus menata diri sendiri, emosional, menempatkan diri, di sisi lain harus membahagiankan kelaurga. Namun yang terpenting adalah bahagiakan diri sendiri dulu. Dengan rasa bersyukur dan happy akan mengeluarkan energi positif bagi yang lain,” sambungnya. “Pokoknya jangan ada kata menyerah. Kalau misalnya kita lagi down, kita ingat lagi apa yang sudah Allah berikan yang perlu ktia syukuri. Jangan terlalu memikirkan pikiran orang. Tetap berbuat baik kepada semua orang,” katanya.(adv)
Editor : Rindra Yasin