Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diskusi “Cerpen Riau: Hari Ini dan Esok” Membangun Kesadaran Kolektif dan Kolaborasi

Hary B Koriun • Minggu, 11 Mei 2025 | 14:35 WIB

 

Pembicara dan peserta diskusi “Cerpen Riau: Hari Ini dan Esok” foto bersama seusai acara di Pekanbaru, Ahad (4/5/2025).
Pembicara dan peserta diskusi “Cerpen Riau: Hari Ini dan Esok” foto bersama seusai acara di Pekanbaru, Ahad (4/5/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DUNIA penulisan cerita pendek (cerpen) di Riau, saat ini, dianggap tidak sedang baik-baik saja. Meskipun terus melahirkan penulis, tetapi perkembangannya tak signifikan. Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Ini jika dibandingkan dengan dua provinsi tetangga seperti Sumatra Barat (Sumbar) atau Sumatra Utara (Sumut). Dua daerah itu, hari ini, memiliki penulis-penulis cerpen yang sangat diperhitungkan secara luas. Salah satu barometernya, cerpen-cerpen mereka mampu menembus media arus utama nasional, memenangkan lomba tingkat nasional, dan diperbincangkan dalam dunia sastra secara luas.

Barometer yang dipakai ini, sebenarnya, sudah dipakai sejak dulu. Cerpenis Riau seperti Soeman Hs, BM Syamsudin, Taufik Ikram Jamil, Hasan Junus (banyak menerjemahkan cerpen asing), Ediruslan PE Amanriza, Abel Tasman, Fakhrunas MA Jabbar, Marhalim Zaini, Olyrinson, dll, juga dikenal luas karena menyiarkan cerpen-cerpennya di media massa. Dari sana namanya kemudian banyak dibicarakan, karyanya banyak ditulis kritikus, dan diundang ke berbagai kegiatan sastra. Ketika itu media massa cetak (surat kabar dan majalah) adalah satu-satunya media untuk menyiarkan karya. Tentu tidak mudah, karena ketatnya persaingan dengan kurasi yang baik dari para redaktur media. Ini berbeda dengan zaman internet dan media sosial seperti sekarang yang siapa pun boleh mengaku sebagai cerpenis meski jarang menembus media arus utama.

Berangkat dari fenomena dunia cerpen Riau terkini, Komunitas Paragraf bersama Kelompok Diskusi Arengkaisme menyelenggarakan diskusi “Cerpen Riau: Hari Ini dan Esok” di Pekanbaru, Ahad (4/5/2025). Dipandu cerpenis WS Djambak, dosen FIB Universitas Lancang Kuning (Unilak), Alvi Puspita SPd MA menjadi pembicara tunggal dalam diskusi tersebut. Dengan kertas kerja berjudul ini “Cerpen Riau Kini dan Esok: Di simpang Produktivitas dan Kedangkalan”, Alvi menyoroti beberapa fenomena tentang dunia cerpen Riau hari ini sambil merefleksikan kondisi di masa lalu. Beberapa hal yang ditekankannya antara lain mulai surutnya karya cerpen Riau yang (relatif) berkualitas, masalah lokalitas yang sering hanya menjadi tempelan, dan persoalan lainnya yang membuat dunia cerpen Riau tertinggal dibanding daerah lain.

Alvi mencoba menarik benang merah bagaimana wajah cerpen Riau sejak awal zaman Soeman HS yang dikenal sebagai Bapak Cerpen Indonesia itu, hingga generasi sekarang. Menurut Alvi, dari segi kuantitas, penulis cerpen Riau tidak pernah berhenti tumbuh, namun dia mempertanyakan unsur kedalaman karya mereka.

Hadir dalam diskusi ini beberapa penulis dan peminat sasra seperti akademis Dr M Badri (UIN Suska), aktivis mahasiswa Pramudia Pangestu (Tikum Buku), penyair Murparsaulian, Sugiarti (FLP Riau), Husin (NonBlok), penyair dan pegiat lingkungann Budy Utamy, aktivis literasi anak Siti Salmah (Escewe), pendidik Bambang Kariyawan (FLP), cerpenis Rio Rozalmi (FLP), penulis Efry Husin Juani (Tapung, Kampar), penulis prosa Nandik Sufaryono, aktivis lingkungan Wahyudin (Hutan Biru), Prayogi Hadi Santosa (Suku Seni), Sinta Saraswati (Pekanbaru Bookparty), Helsi Ramadhani (Unri), Muhamad Rafi (Kalistra), pegiat literasi Putra Arif, Delfianty Martin, dan yang lainnya.

Dari Komunitas Paragraf sendiri hadir WS Djambak yang menjadi moderator, Redo van Jamil (pewara) serta Anton WP dan Andreas Mazland. Diskusi yang berlangsung selama hampir 3 jam dan 3 sesi itu berlangsung panas dan bernas karena para penanya maupun penanggap banyak yang saling kritik, termasuk pernyataan Alvi tersebut.

Alvi mengkritisi banyak cerpenis Riau sekarang yang menjadikan lokalitas kemelayuan sebagai tempelan dalam cerita, bukan sebagai inti kekuatan utama dalam cerita. Sebab, jika hanya menjadi sebuah tempelan, maka cerpen yang ditulis tidak mendalam dan struktur bangunannya tidak terlalu kuat. Ini terjadi karena banyak lomba menulis cerpen di Riau yang memaksakan tema lokalitas yang sempit.

“Tema lokalitas ini menjerat dan memaksakan penulis yang ikut lomba sehingga tanpa riset yang baik dan mendalam, mereka akhirnya menjadikan lokalitas hanya sebegai tempelan dalam cerita,” ujar Alvi.

Lebih lanjut Alvi menjelaskan, di masa lalu, banyak cerpenis Riau yang menjadikan lokalitas Melayu sebagai kekuatan inti dari cerpen yang ditulisnya. Selain memang mengalami langsung dan menjadi keseharian, mereka juga banyak memberikan nuansa perlawanan budaya atau sosial. Seperti diketahui, di masa lalu Riau adalah negeri kaya yang dipinggirkan dalam proses pembangunan di Indonesia, terutama masa Orde Baru (Orba). Padahal, Riau penghasil devisa tertinggi, dan menyumbangkan bahasa Melayu sebagai dasar dari bahasa resmi negara.

“Itu salah satu mengapa karya-karya Ediruslan PE Amanriza, Hasan Junus, Rustam S Abrus, BM Syamsudin, Taufik Ikram Jamil, atau Abel Tasman, Olyrinson, atau Marhalim Zaini, sangat dihargai di tingkat lokal maupun nasional. Karena mereka benar-benar menjadikan lokalitas sebagai kekuatan,” ujar alumnus Ilmu Sastra FIB Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Menurut Alvi lagi, di masa kini, tak banyak cerpenis Riau yang muncul dan “terlihat” secara luas, termasuk di tingkat nasional. Alvi menyebut beberapa nama seperti WS Djambak, Joni Hendri, Redovan Jamil, Depri Ajopan, Ahmad Ijazi, Nafi’ah al Ma’rab, Rian Harahap, dan yang lainnya. Dari nama-nama tersebut, belum terlihat yang benar-benar tunak dan mendapat tempat secara baik dalam belantara dan persaingan dunia cerpen dan prosa secara luas secara nasional. Dia berharap mereka terus belajar dan mengembangkan diri dan suatu saat akan menjadi kekuatan kesusasteraan Riau, terkhusus cerpen, seperti para penulis Riau sebelumnya.

Penyair yang lama tinggal di Eropa, Murparasaulian, setuju dengan pendapat Alvi. Menurutnya, di masa lalu, para cerpenis seperti BM Syamsudin, misalnya –juga yang lainnya—menjadikan lokalitas sebagai amunisi yang kuat dalam karya. Bukan hanya lokalitas dalam hal budaya (kemelayuan), tetapi juga dalam ranah sosial. Mereka melawan dengan karya karena Riau yang notabene daerah kaya dan memberikan devisa besar kepada negara, di masa Orba, dipinggirkan dan dipandang sebelah mata. Ini terlihat dalam cerpen-cerpen BM Syamsudin, Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, dan yang lainnya.

“Bukan hanya lokalitas budaya yang dikembangkan mereka dalam cerpen, tetapi juga kondisi sosial. Mereka menjadikan cerpen sebagai alat perlawanan dan kritik. Mereka menyuarakan ketidakadilan terhadap tanah Melayu. Itu yang membuat para redaktur media ketika itu tak bisa menolak cerpen-cerpen mereka. Para kritikus sastra dan akademisi juga mengkaji karya mereka. Dibicarakan secara luas,” jelas Mur.

Aktivis FLP, Bambang Kariyawan, berpendapat, sekolah dan komunita punya peran penting dalam menumbukan minat penulisan cerpen di Riau. Menurutnya, hal itu perlu terus dirawat. Dia juga menekankan pentingnya menumbuhkan minat pada sastra anak. Sebab, kata dia, jika sastra anak ditumbuhkan, ke depan pasti akan banyak lahir penulis satra di Riau, tak terkecuali cerpen.

“Menurut saya, sastra anak ini penting untuk terus didengungkan,” Bambang.

Prosais Sugiarti atau Nafi’ah al Ma’rab, punya pandangan lain. Dia bercerita, suatu saat dia diundang oleh Badan Bahasa dalam sebuah acara workshop tentang sastra anak. Dia ngobrol dengan beberapa instruktur yang merupakan sastrawan nasional. Setelah membaca rancangan karya yang dibuatnya, sang sastrawan kemudian bertanya kepadanya tentang mengapa banyak penulis yang sudah menggunakan lokalitas dalam karyanya, tetapi sulit menembus media massa besar.
“Kata sang instruktur tersebut, jawabannya adalah karena lokalitas yang disampaikan, termasuk lokalitas Melayu, tidak disampaikan secara universal. Kata mereka, persoalan lokal di Riau sangat banyak. Mulai dari masalah lingkungan atau sosial, yang jika dikembangkan dan dipadupadankan dengan lokalitas budaya atau tradisi, akan lebih kuat,” ujar Sugiarti.

Pada kesempatan lain, Pramudia Pangestu yang mengaku bukan orang satra tetapi sebagai pembaca buku, menyampaikan, perlunya jejaring para penulis di Riau atau komunitas sastra untuk membahas karya para penulis Riau bersama-sama. Menurutnya itu adalah salah satu cara mengkritisi karya, termasuk cerpen. Selain untuk menumbuhkan minat menulis bagi yang lain, juga untuk meningkatkan kualitas karya.

“Jika itu masif dilakukan dan terus-menerus, saya yakin karya teman-teman akan terus relatif meningkat kualitasnya,” ujar mahasiswa FISIP Unri ini.

Pegiat literasi yang juga Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR), Siti Salmah, berusaha menjawab kritik Alvi soal lokalitas. Katanya, ketika DKR beberapa tahun lalu mengadakan lomba menulis cerpen dengan tema rempah, sebenarnya itu hal yang biasa karena banyak lomba yang melakukan serupa. Soal rempah, yang saat itu menjadi tema besar secara nasional, juga komoditi lokal masyarakat lokalitas Melayu sejak dulu. Tujuan dari tema itu adalah menumbuhkan ingatan sejarah bahwa masyarakat Melayu punya tradisi rempah.

“Jika kemudian peserta lomba menjadikan tema itu sebagai tempelan dalam cerpennya, itu di luar kuasa kami. Yang kami lakukan adalah membangun kesadaran lokalitas masyarakat dan ingatan sejarah kita,” jelas pendiri Salmah Cretive Writing (Escewe) ini.

Di bagian lain, pegiat teater, Husin, berpendapat, untuk memperbaiki kualitas, kolaborasi dengan bidang lain perlu dilakukan. Perkembangan ilmu saat ini sudah lintas bidang. Misalnya, dalam dunia seni rupa, banyak dari mereka yang malah sudah berkolaborasi dengan ilmu sain. Beberapa karya seni rupa sudah “terkontaminasi” dengan sain. Sastra mestinya juga begitu, termasuk dunia cerpen. Dia ingat, salah satu yang sekarang membuat dunia perkopian dan kedai kopi berkembang pesat di Indonesia, salah satunya terinspirasi dari karya sastra dan film. Yakni, misalnya, dari cerpen Dee Lestari, “Filosofi Kopi” yang diangkat jadi beberapa film.

“Di Riau, kolaborasi itu harus terus dilakukan. Salah satu cara merawat sastra, termasuk cerpen, adalah terus melakukan diskusi berkolaborasi lintas bidang,” ujar lulusan S-2 ISI Padangpanjang ini.

Menanggapi diskusi yang berkembang, Alvi sangat setuju dengan pendapat Murparsaulian dan Sugiarti soal lokalitas. Menurutnya, lokalitas mestinya adalah cara pandang yang terlihat dalam karya. Soal sastra anak, Alvi justru mempertanyakan, apakah sebelum masifnya gerakan sastra anak seperti yang dilakukan Badan Bahasa dengan hadiah yang besar, apakah ada yang menulis sastra anak? Menurutnya, sastra anak, termasuk cerita rakyat, adalah genre yang yang sejak dulu sudah ditulis oleh banyak sastrawan Riau seperti BM Syamsudin atau Abel Tasman tanpa ada gerakan dan pendanaan dari pemerintah.

“Bagusnya sastra anak ini dikembangkan berdasarkan kesadaran dari diri pengarang sendiri, bukan digerakkan oleh negara baru menulis. Jika begitu, kasihan genre sastra lain yang tidak digerakkan secara masif oleh lembaga negara,” ujar Alvi mengkritisi.

Alvi juga mengkritisi belum banyaknya ruang diskusi jaringan yang membuat ekosistem sastra di Riau seperti jalan di tempat. Dia setuju dengan Husin dan Pramudia, bahwa membangun kolaborasi, baik antarkomunitas/individu bidang sastra atau dengan komunitas atau bidang yang lain. Misalnya dengan komunitas film, taman bacaan, teater, dan yang lainnya. Dalam hal ini, dia meminta peran DKR agar lebih kuat lagi dalam ikut membangun dunia seni, termasuk sastra, di Riau.

Sebab DKR punya kekuasaan dan dana yang dihibahkan oleh Pemprov Riau, termasuk menentukan tema-tema lomba atau kegiatan yang lebih lokal-universal.***

Editor : Bayu Saputra
#penulis #penulis riau #cerpen