Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Diyakini Rezeki Banyak di Laut Festival Bakar Tongkang Wujudkan Kebersamaan

Zulfadli • Jumat, 13 Juni 2025 | 11:15 WIB

Tiang utama yang terbakar tumbang ke arah laut dan diyakini masyarakat Tionghoa tahun ini kerja yang mendatangkan banyak rezeki adalah usaha berkaitan dengan aktivitas di laut atau perairan.
Tiang utama yang terbakar tumbang ke arah laut dan diyakini masyarakat Tionghoa tahun ini kerja yang mendatangkan banyak rezeki adalah usaha berkaitan dengan aktivitas di laut atau perairan.

BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) – Festival Bakar Tongkang 2025 digelar dengan semarak di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Gubernur Riau (Gubri) Abdul Wahid hadir langsung di perhelatan budaya tahunan yang telah menjadi ikon pariwisata nasional tersebut, Kamis (12/6).

Acara tahun ini sedikit berbeda dibandingkan biasanya. Untuk arak-arakan replika tongkang kali ini baru dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Iringan tersebut disertai dengan ribuan peserta yang turut mengantarkan replika tongkang tersebut.

Terlihat rombongan berbagai komunitas, marga mengikuti prosesi tersebut. Begitu juga dari klenteng dan berbagai unsur. Sementara untuk rute yang dilalui mulai dari depan klenteng ke Jalan Perdagangan, Jalan Peniagaan, dan membelok ke lokasi bakar tongkang di Jalan Perniagaan, Bagansiapiapi.

Replika tongkang baru sampai di lokasi untuk dibakar pada sore, sekitar pukul 17.00 WIB. Kegiatan arak-arakan ini terkesan lebih lama dibandingkan biasanya, mengingat biasanya replika tongkang sudah mulai diarak sekitar pukul 14.00 WIB.

Begitu replika tongkang diletakkan di posisi sedikit ujung dari lapangan tersebut, dilakukan pemasangan tiang layar oleh panitia. Terdapat dua tiang yang berdiri di bagian tengah replika tongkang, yang merupakan tiang utama dan sebuah tiang berukuran lebih pendek.

Setelah tiang terpasang, seperti tradisi yang biasa dilakukan, replika tongkang kemudian dinaiki bersama para pihak yang hadir. Nampak di antaranya Bupati Rohil H Bistamam, Wakil Bupati (Wabup) Jhony Charles, Plh Sekdaprov Riau M Job Kurniawan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, tokoh masyarakat Sugiato, dan sejumlah tokoh lainnya.

Setelah rombongan pejabat tersebut turun, replika tongkang tersebut dibakar. Api menjalar dengan cepat, memakan bagian-bagian replika tongkang yang terbuat dari kayu dan kertas tersebut.

Dalam waktu singkat api membesar. Sementara para peserta terus berdoa, mengacungkan-acungkan hio, dan ada melempar hio yang sejak awal dibawa ke dalam tumpukan kertas sembayang di bawah replika. Sekitar jam 17.35 WIB, tiang replika tongkang yang terbakar nampak tumbang.

Diawali dari tiang kecil kemudian tiang utama, di mana kedua-duanya tumbang ke arah barat. Yang jika dilihat dari kondisi geografis wilayah di Bagansiapiapi tersebut, maka arah tiang jatuh tersebut dimaknai sebagai tumbang ke arah laut.

Salah seorang warga bernama A Yau menjelaskan, arah tumbangnya tiang bagi masyarakat Tionghoa diyakini memberikan petunjuk, bahwa dalam tahun yang berjalan untuk usaha, kerja yang mendatangkan banyak rezeki adalah usaha yang berkaitan dengan aktivitas di laut/perairan.

“Biasanya seperti itu, kalau tumbang ke laut, bagus usaha di laut,” katanya. Namun terangnya, hal itu sebagai petunjuk dan terlepas dari itu apapun kegiatan atau usaha yang dilakukan yang penting dijalani dengan sungguh-sungguh.

Dalam kesempatan tersebut, Gubri Abdul Wahid turut mengikuti arak-arakan budaya dari kediaman Bupati Rohil menuju Klenteng utama dengan menggunakan kendaraan hias (odong-odong) dan disambut antusias oleh masyarakat dan tokoh lintas etnis.

Gubernur Riau menyebutkan bahwa Bakar Tongkang bukan sekadar prosesi tahunan, melainkan bagian dari warisan budaya hidup yang memperkuat rasa kebersamaan, toleransi, dan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Riau.

“Festival ini telah menjadi simbol kekuatan budaya yang menyatukan. Dari sebuah tradisi, kita belajar arti solidaritas, persatuan, dan kehormatan terhadap warisan leluhur,” ujar Abdul Wahid.

Ia juga menyoroti bahwa festival ini memiliki nilai yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar atraksi wisata. Menurutnya, budaya adalah bagian dari identitas dan harga diri daerah yang harus terus dilestarikan secara kolektif.

Gubernur berharap agar masyarakat dan pemerintah daerah terus menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan berkembang, tidak hanya sebagai atraksi wisata, tetapi sebagai pengikat nilai-nilai luhur bangsa. “Mari jadikan Festival Bakar Tongkang sebagai lambang persaudaraan lintas etnis, simbol persatuan dalam keberagaman, dan bukti bahwa dari Riau, harmoni itu nyata,” tuturnya.

Wisatawan Antusias

Acara yang sarat makna ini dibuka dengan serangkaian kegiatan budaya dan atraksi tradisional, seperti Festival Ekonomi Kreatif, Bazar UMKM, dan pertunjukan Tatung yang digelar di sepanjang Jalan Klenteng hingga Jalan Perniagaan. Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi kegiatan sejak pagi hari.

Sementara itu, salah seorang wisatawan, Asmi mengaku antusias untuk datang ke Bagansiapiapi guna menyaksikan Festival Bakar Tongkang ini. “Ini baru pertama saya datang, di mana informasi mengenai acara ini diberitahu teman. Saya melihat festival ini luar biasa sekali,” kata wanita berkaca mata ini.

Ia menilai dari festival ini sangat terlihat jelas bagaimana masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi sungguh-sungguh serius menjaga nilai yang sudah mereka jalani selama ini. Selain itu, ia menilai kekompakan dari masyarakat, antarberbagai suku yang ada sangat baik. Sehingga semua pihak saling bekerjasama menyukseksan iven tersebut.

Pendapat senada diungkapkan Dara Riau 2024, Andhia Putri mengaku sangat terkejut melihat antusiasme pelaksanaan Bakar Tongkang. “Ini pertama kalinya, dan ternyata seseru itu. Apalagi Bakar Tongkang ini sudah masuk dalam Kharisma Even Nusantara (KEN) dan pas melihat lansung ternyata seseru ini. Semoga bisa terus berlanjut dan masyarakat Riau memberikan perhatian terhadap festival ini,” katanya.

Menurutnya terdapat berbagai potensi wisata di Riau yang juga perlu diperhatikan agar bisa mendapatkan pengakuan secara nasional yakni masuk dalam KEN dari Kementerian Pariwisata. Salah satunya menurutnya adalah Perang Air di Meranti.

Bujang Riau, Iwan, turut menilai Festival Bakar Tongkang sangat mengagumkan. “Kami merinding melihatnya dan semoga ini menjadi perhatian agar ke depannya lebih ditingkatkan. Keren sekali,” kata Iwan.

Tokoh nasional, Yasril Ananta Baharuddin berbaur dengan ribuan masyarakat yang hadir. Dirinya mengaku sangat terkesan. “Saya melihat bagaimana adat, kebudayaan masyarakat. Sangat terkesan. Bagaimana masyarakat di sini menunjukkan kesan yang sangat guyub, penuh kebersamaan, dan gotong royong. Hal itu yang perlu dipertahankan di Indonesia ini,” katanya.

Pria yang pernah menjadi Ketua Komisi I DPR RI ini menegaskan agar kesan kebersamaan itu dapat terus dipertahankan di tengah tantangan zaman dan sikap hidup hedon yang terkesan memuakkan. “Kebersamaan ini lah yang perlu didukung, membangun Indonesia itu harus sama-sama berdiri tegar, tidak terpecah belah oleh orang dari luar,” katanya.

Lebih lanjut dirinya menegaskan bahwa apa yang terlihat dari Bakar Tongkang merupakan sesuatu yang sejalan dengan prinsip hidup, yang mendorong lestarinya kebersamaan, gotong royong dan saling peduli. “Inilah perwujudan Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila,” ujarnya.

Diperlukan Evaluasi

Plt Kadisparpora Rohil Rahmatul Zamri menyebutkan serangkaian kegiatan telah digelar. Dimulai dari rapat persiapan sekitar dua bulan lalu dan berlanjut dengan pembentukan panitia.

“Semuanya berjalan dengan lancar dan sejak tanggal 10 masuk pada kegiatan ritual di klenteng, sampai pada ritual arak-arakan dari tempat pembuatan Tongkang melalui Jalan Aman, Merdeka, Jalan Sentosa, dan kembali ke klenteng,” ujarnya.

Ia menilai suasana yang ada lebih meriah dibandingkan tahun lalu. Kemeriahan itu tampak dari semakin banyaknya lampion di perkotaan Bagansiapiapi, lebih kurang 5.000 lampion. Ia menyebutkan hal itu jauh lebih banyak dibandingkan tahun lalu sekitar 2.000 lampion.

Selain itu ia menilai tingkat kunjungan juga lebih banyak, serta ada kegiatan lainnya yang digelar seperti keberadaan bazar UMKM di Bagansiapiapi. Hal iu terangnya tentu memberikan dampak positif untuk mengangkat ekonomi masyarakat setempat.

Terkait dengan jumlah kunjungan, ia menaksirkan bisa menembus angka lebih dari 60 ribu wisatawan. “Baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri atau mancanegara,” ujarnya.

Bupati Rohil H Bistamam mengatakan pemkab mendukung penuh kegiatan ini. Itu mengingat tersebut merupakan salah satu yang diakui di tingkat nasional, dari Riau khususnya Rohil.  Ia menegaskan bahwa acara yang digelar bukan seremoni saja melainkan representasi nyata dari semangat gotong royong dan identitas kultural masyarakat.

“Saya, selaku Bupati Rohil, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh masyarakat yang hadir. Tradisi istimewa ini tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga merupakan refleksi mendalam atas kekuatan kebersamaan dan komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya,” katanya.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kesuksesan kegiatan ini terutama kepada para sponsor, pegiat seni, serta tokoh masyarakat Tionghoa yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam melestarikan nilai-nilai budaya,” tambahnya.

Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus melestarikan warisan budaya ini secara berkesinambungan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang. Ia berharap bahwa semangat kolaboratif yang telah terbangun dapat terus ditingkatkan sehingga Festival Bakar Tongkang di masa mendatang dapat berlangsung lebih semarak, inklusif, dan berkelas internasional.

Ditemui usai acara, Plh Sekdaprov Riau M Job Kurniawan MSi mengungkapkan syukur acara berjalan dengan baik dan lancar. “Ini merupakan salah satu acara kebanggaan di Rohil. Mudah-mudahan, selain dari Bakar Tongkang, juga bermunculan iven lainnya nanti,” kata Job.

Ia menilai untuk mendukung pariwisata yang ada di daerah memang diperlukan dukungan dari berbagai pihak dan baik dari pusat, propinsi maupun kabupaten bersangkutan. Selanjutnya diperlukan upaya mengemas agar, festival ataupun kegiatan kebudayaan itu bisa dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas dan pada gilirannya mendapatkan pengakuan yang baik.

“Tentu ada evaluasi juga terhadap Bakar Tongkang ini, salah satunya bagaimana mengemas agar waktunya lebih panjang. Mungkin ada malam hiburan sehingga yang datang lebih lama menetap di Bagansiapiapi,” katanya.

Dengan keberadaan wisatawan yang banyak maka diyakini akan memberikan dampak bagi masyarakat terutama yang melakukan usaha-usaha barang, jasa dan lain-lain. Menurutnya juga tak kalah penting adalah bagaimana pihak swasta turut memberikan dukungan sehingga kegiatan yang berjalan lebih terasa maksimal dilaksanakan.(fad)

Editor : Bayu Saputra
#iven pariwisata bakar tongkang #Bakar tongkang 2025 #pesona bakar tongkang #ritual bakar tongkang #festival bakar tongkang 2025 #bakar tongkang di palika #Ritual Bakar Tongkang di Riau