PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tokoh Batak yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR), Dr Arifin Bantu (AB) Purba SH MH meluncurkan buku autobiografinya di Ballroom Novotel Hotel Pekanbaru, Sabtu (14/6/2025).
AB Purba terisak ketika menyampaikan bahwa sang ibu tak bisa hadir bersamanya karena sudah tak mampu naik bus lagi sebab faktor usia. Pengacara senior ini mengingat dan menyebutkan satu per satu orang yang berjasa dalam perjalanan hidup dan kariernya.
AB Purba menceritakan, buku itu ia tulis sendiri. Buku yang sudah ia cita-citakan sejak 3 tahun lalu, baru setahun terakhir bisa ditulis. Ia punya hobi menulis yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai pengacara.
Sesuai judul, AB Purba memang anak petani. Ayahnya seorang petani di Simamora Nabolak, sebuah desa di daerah Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Bahkan, jika ayahnya tidak membujuknya sekolah di Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) agar menjadi seorang guru, ia sudah jadi petani.
''Ayah saya petani beranak 12, hidup sulit karena banyak anak. Jadi saya ketika SMP sudah bisa nanam kol 5 ribu bibit. Tapi ayah saya berkehendak lain, agar saya jadi guru, sesuatu yang tak pernah saya cita-citakan,'' kata dia mengulik isi buku tersebut.
Namun bagi AB Purba, tidak ada dalam kamusnya melawan kepada orang tua. Sebagai sosok yang relijius, menurutnya, itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Maka ia mengiayakan bujukan sang ayah dan masuk sekolah guru.
Hanya saja, pekerjaan menjadi guru pada masa itu pada 1973, di Siborongborong sebagai salah satu kota besar di Tapanuli Utara, tidak mudah dicari. Akhirnya ia bulatkan bertekad merantau ke Pekanbaru sejak saat itu.
Ia naik bus ALS ke Bukittinggi, lalu nyambung naik bus Kurnia ke Pekanbaru pada tahun itu. Sampai ke Pekanbaru ia menumpang di rumah itoknya, seorang kakak sepupu yang bersuamikan seorang polisi berpangkat rendah.
Mereka menjalani pahit hidup bersama selama awal-awal masa perantuan. AB Purba tidak pernah melupakan jasa itoknya dan juga beberapa bapak angkat dan saudaranya yang lain selama merantau.
Bukannya jadi guru, AB Purba muda yang masih lajang malah berangkat ke Siak bekerja sebagai buruh perminyakan di pedalaman hutan. Kembali ke rumah itoknya selepas habis kontrak, ia disarankan sang itok kerja bangunan.
''Saya ngacau semen pada proyek pembangunan rumah sakit. Di sana saya bertemu orang baik bernama M Siboro asal Minas. Lalu saya diajak ke Minas untuk jadi satpam di perusahaan minyak, di hutan juga,'' kata dia.
Di sinilah, seiring berjalannya waktu, AB Purba teringat punya ijazah PGSLP. Dari kerja sebagai satpam, ia akhirnya mencoba jadi guru sesuai saran sang ayah.
''Saya mendaftar 1975 tanpa beking. Ternyata di Riau saat itu kekurangan guru, saya langsung diterima. SK CPNS saya keluar tapi ditugaskan ke Tembilahan,'' ujarnya.
Baca Juga: Dinakhodai Budhi Firmansyah, Pengurus IKMRK RAPP Periode 2025-2028 Resmi Diantik
Sudah telanjur, ia kemudian menguatkan tekad berangkat dua hari dua malam perjalanan dari Pekanbaru ke Tembilahan. Dua tahun mengajar keluar SK PNS, ternyata saat itu gajinya kecil, lebih besar gaji satpam.
Kondisi ini bertentangan dengan keinginannya untuk berkuliah. Sebagai seorang yang terkenal ulet, pandai bergaul dan banyak akal, AB Purba putar otak.
''Kalau begini saya tak jadi kuliah dan sarjana. Akhirnya saya temui P dan K (Dinas Pendidikan, red), urus pindah tanpa beking. Saya minta ke SMP 4 Pekanbaru,'' cerita dia.
Baca Juga: Eks Lapangan Cabor Panahan Sport Center, Dipilih Jadi Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat
Dari sini bakat sebagai seorang pengacara andal AB Purba sudah terpancar jelas. Pada masa itu, PNS yang sudah 10 atau bahkan 15 tahun pun bertugas, sulit mengajukan pindah tugas bila tanpa beking. Ia berhasil meyakinkan pihak dinas dan iapun pindah.
''Akhirnya dapat pindah ke SMP 4 Pekanbaru. Dari sana saya kuliah di UIR, uang tidak ada, jadi preman di pelabuhan, bahkan pernah ambil barang secara ilegal ke Singapura, barang tekstil, semua saya lakukan demi sarjana,'' kata dia.
Selesai kuliah, AB Purba mengajukan berhenti dari pekerjaan guru. Ia mengorbakan PNS demi menjadi seorang pengacara.
''Selesai kuliah, saya minta berhenti dan daftar jadi pengacara. Setelah itu saya berkiprah di organisasi dan bertemu Pak Chaidir (Mantan Ketua DPRD Riau, red) dan masuk politik,'' ujar pria kelahuran Dolok Saribu, Tapanuli Utara 72 tahun silam ini.
''Manusia tidak bisa hidup sendiri, harus bergandegan tangan. Tak ada yang jatuh dari langit, bekerja dan berusahalah dengan keras, untuk keluarga, negara dan untuk Tuhan. Perjuangan itu adalah hidup, tak berjuang anda tidak hidup. Tidak ada yang mustahil,'' ucap AB Purba.
Buku autobiografi itu kini bisa dibaca siapapun yang ditulis secara terbuka khas AB Purba. AB Purba mendedikasikan buKu setebal 151 halaman itu untuk menginspirasi anak muda.
''Ambillah yang baik-baiknya, lupakan yang buruk-buruknya,'' AB Purba berpesan.
Turut hadir pada peluncuran buku itu, selain keluarga besar AB Purba, turut hadir Kepala Kesbangpol Riau Jenri Salmon Ginting, drH Chaidiri dan sejumlah tokoh lintas etnis dan suku di Provinsi Riau.(end)
Editor : Edwar Yaman