Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

23 Gajah Mati di TNTN sejak 2015

Hendrawan Kariman • Sabtu, 28 Juni 2025 | 12:54 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi


PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Penertiban dan pemulihan kembali kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) memang sangat mendesak. Kerusakannya mengancam eksistensi satwa dilindungi di dalamnya. Kematian satwa dilindungi seperti gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) cukup mengkhawatirkan, terutama jika dilihat dari kacamata konservas
i.

Berdasarkan catatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, sejak 2015 hingga kini, hampir selalu ada gajah mati akibat konflik dengan manusia pada kawasan konservasi tersebut.

Sekadar informasi, formasi dan luas kawasan TNTN saat ini merupakan hasil dari penetapan SK terakhirnya, yaitu Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.6588/ MenhutVII/KUH/2014, Tanggal 28 Oktober 2014. BBKSDA Riau sejak saat itu mencatat ada 23 gajah mati.

Kepala BBKSDA Riau Supartono mengatakan, angka kematian satwa dilindungi dan terancam punah itu dihitung sejak gajah pertama kali mati pasca SK terakhir, yaitu 2015 hingga kasus kematian terakhir pada tahun ini.

Supartono merinci, ada delapan gajah mati pada 2015, dua ekor pada 2016, dua ekor pada 2018, satu ekor pada 2019.

Lalu pada 2020 ada tiga kematian, pada 2023 ada tiga kematian, pada 2024 ada dua kematian gajah, dan tahun ini ada 1 kasus kematian.

Supartono yang pernah menjabat Kepala Balai TNTN ini menyebutkan, memang banyak pemicu kematian gajah di TNTN 10 tahun terakhir.

Mulai dari keracunan, jerat pemburu, hingga penyakit. Namun kebanyakan memang akibat konflik dengan manusia.

Seperti kasus Januari 2024 lalu seekor gajah jinak bernama Rahman ditemukan mati akibat diracun. Petugas menemukan satu gading gajah itu hilang yang diduga kuat diambil pemburu.

‘’Penyebab utama karena rusaknya habitat gajah. Lebih dari 40 ribu hektare hutan TNTN telah berubah menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman liar. Hilangnya habitat alami menyebabkan gajah makin sering berkonflik dengan manusia,’’ jelas Supartono, Jumat (27/6).

 

Menurut Supartono, BBKSDA Riau telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk menyelamatkan populasi gajah di TNTN.

Pihaknya juga melakukan pemasangan GPS Collar, termasuk melakukan pelestarian dan pengayaan habitat alami yang tersisa.

Selain terus melakukan sosialisasi dan berbagai langkah strategis, BBKSDA Riau menyambut baik kehadiran Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kawasan Hutan (PKH).

Penyitaan lahan dan pemindahan masyarakat dari kawasan TNTN, menurut Supartono, merupakan langkah maju upaya konservasi gajah.(end)

Editor : Arif Oktafian
#tntn #gajah sumatera #Gajah tntn #habitat gajah #tesso nilo #riau #Gajah sumatera di riau #taman nasional tesso nilo #23 Gajah Mati di TNTN sejak 2015 #gajah mati #taman nasional tesso nilo riau #gajah sumatera mati #Habitat gajah di riau