PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa daerah di Provinsi Riau mulai berdampak. Senin (30/6), kabut asap akibat karhutla sudah mulai terlihat di Pekanbaru sejak pukul 05.00 WIB hingga 09.00 WIB.
Kabut asap di Pekanbaru dirasakan oleh masyarakat sejak pagi hari yang membuat banyak pengendara motor dan pejalan kaki merasakan udara tidak sehat dan gangguan jarak pandang bagi pengendara.
Salah seorang pengendara motor Syafrizal (39) mengaku sempat kaget melihat kondisi Kota Pekanbaru yang sudah lama tak dikepung asap tebal akibat karhutla, kini kembali dirasa cukup pekat di pagi hari.
Ia bahkan terpaksa menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan karena bau asap pembakaran yang cukup pekat terasa sesak di saluran pernapasan.
“Tadi pagi (Senin, red) sekitar pukul 08.00 WIB-08.30 WIB kabut asap terasa pekat dari arah HR Soebrantas, SM Amin, dan Tuanku Tambusai. Bau asap jelas menyengat ke hidung. Jarak pandang juga berkurang hanya sekitar 100 meter. Tapi menjelang pukul 09.00 WIB ke atas menghilang. Namun masih terasa ada bau-bau asap pembakaran. Menipis karena matahari sudah naik,” jelasnya.
Ia berharap kabut asap yang terjadi di akhir bulan Juni ini tidak menjadi awal karhutla parah yang sempat dirasakan masyarakat Pekanbaru beberapa tahun sebelumnya.
Pasalnya, bukan hanya membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat, dampaknya juga melumpuhkan perekonomian Pekanbaru.
“Semoga tidak terjadi karhutla parah seperti tahun 2019 lalu. Khawatir juga kalau kejadian lagi. Padahal beberapa tahun belakangan ini Pekanbaru sudah mulai terbebas dari kabud asap akibat karhutla,” ucapnya.
Hal senada dikeluhkan Veri (52), salah seorang pengendara motor yang melintas di Jalan Tuanku Tambusai ujung yang juga merasakan bau asap cukup pekat dan mengurangi jarak pandang serta mengganggu aktivitas masyarakat.
“Napas mulai terasa sesak. Mata juga perih akibat paparan asap yang terus-menerus. Semoga ini tidak berlangsung lama. Kasihan masyarakat rentan kalau terpapar asap yang kian tebal,” ucapnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau menduga kabut asap ini akibat karhutla di Kampar.
“Karhutla masih terjadi di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Mungkin asapnya itu yang sampai ke Pekanbaru karena lokasinya berdekatan dengan Kota Pekanbaru,” ujar Kepala BPBD dan Damkar Riau M Edy Afrizal, Senin (30/6).
Baca Juga: Luas Karhutla di Riau Sudah Capai 174 Hektare Lebih, Paling Parah di Kabupaten Ini
Dilanjutkannya, karhutla di Tapung tersebut sudah terjadi dalam tiga hari terakhir. Lokasinya yang berada di lahan gambut juga membuat proses pemadaman memakan waktu.
“Lokasi karhutla di Tapung itu lahan gambut jadi cukup lama bisa dipadamkan. Sudah tiga hari,” sebutnya.
Untuk penanganan karhutla di Tapung tersebut, BPBD dan Damkar Riau sudah mengirimkan helikopter water bombing.
Namun karena saat ini baru ada satu helikopter water bombing, maka pemadaman lewat udara belum bisa maksimal.
“Saat ini kami juga sedang mengusulkan tambahan helikopter lagi,” ujarnya.
Disebutkannya, saat ini di Riau baru terdapat dua unit helikopter. Yakni satu helikopter patroli dan satu helikopter water bombing.
Sejak awal juga sudah diusulkan bantuan helikopter water bombing, namun memang perlu waktu yang lama untuk pengiriman bantuan tersebut.
“Helikopter water bombing yang ada saat ini dikirim dari Australia. Jadi memang prosesnya cukup lama,” sebutnya.
Saat ini, karhutla sudah terjadi di seluruh daerah di Riau. Pemerintah 12 kabupaten/kota juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla.
Langkah ini diambil untuk memperkuat kesiapsiagaan serta mempercepat respons dalam penanganan apabila terjadi kebakaran lahan di wilayah tersebut.
Lebih lanjut dikatakannya, penetapan status ini, merupakan bagian dari strategi antisipatif agar penanganan karhutla bisa dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi, sebelum dampak yang lebih besar terjadi.
“Ini meliputi penguatan koordinasi, mobilitas sumber daya, logistik, dan anggaran, serta memastikan kesiapan peralatan, perlengkapan, dan personel,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penetapan Status Siaga Darurat memberikan dasar hukum dan keleluasaan bagi pemerintah daerah untuk bergerak lebih cepat dalam menghadapi potensi karhutla.
“Dengan status ini, pengiriman personel, logistik, dan dukungan teknis bisa dilakukan lebih cepat. Selain itu, koordinasi antar instansi seperti BPBD, TNI, Polri, hingga perusahaan-perusahaan yang memiliki lahan juga bisa dilakukan lebih efektif,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Irwansyah Nasution menjelaskan, berdasarkan pantauan satelit BMKG Pekanbaru pada pukul 16.00 WIB, titik panas terdeteksi di wilayah Riau berkisar 4 yang tersebar di Bengkalis 1, Dumai 1, dan Rokan Hilir 2.
Sedangkan titik panas wilayah Sumatera berjumlah 26 titik yang tersebar di Sumatera Utara 9 titik, Aceh 5, Sumatera Selatan 5, Jambi 3, dan Riau 4 titik.
Jarak pandang di Pekanbaru berkisar 10 km, Rengat 8 km, Pelalawan 10 km, dan Tambang 10 km.
“Dari pantauan satelit titik panas yang terdeteksi sebagian besar di wilayah Rokan Hulu dan Rokan Hilir dengan tingkat kepercayaan rendah,” katanya. Namun untuk asap, BMKG Pekanbaru tidak bisa memastikan karena dari satelit tidak terdeteksi adanya titik panas di Kampar dan Pekanbaru.
“Dari foto yang dilampirkan bisa jadi itu asap. Kemungkinan besar dekat daerah tersebut ada bekas kebakaran dengan skala kecil sehingga tidak terdeteksi oleh satelit,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Kampar Agustar melalui Kepala Pusdalops Adi Candra Lukita menjelaskan, lahan yang terbakar berupa semak belukar, kebun sawit, dan pakis sekitar 2 hektare terjadi di Desa Karya, Tapung merupakan milik masyarakat.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Satgas TRC Pusdalops-PB BPBD Kampar bersama satgas gabungan melakukan penyekatan, pemadaman dan pendinginan di lokasi kejadian,” jelas Adi Candra.
“Tim gabungan berjibaku dari pagi memadamkan api. Hasilnya api sudah padam, namun masih terdapat titik asap,” jelas Adi Candra.(sol/ayi/kom)
Editor : Arif Oktafian