PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dari Muara Fajar, Rumbai, Pekanbaru menuju Desa Karya Indah, Tapung Kampar bisa dilewati selama kurang 18 menit. Hal ini dapat terwujud, jika Jalan Tol Lingkar Pekanbaru sepanjang 30,57 kilometer (km) selesai dikerjakan, sesuai target pada Maret 2026.
Namun, menyambung jalan bebas hambatan menembus Sungai Siak ini juga memiliki beragam tantangan. Berdasarkan data terbaru yang didapatkan Riau Pos, Ahad (6/7), proyek pembangunan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru progres fisiknya baru menyentuh angka 57 persen.
Menurut Site Engineering Manager (SEM) Tol Lingkar Pekanbaru Redy Trispada Putra menyebutkan, progres konstruksi sangat bergantung pada proses pembebasan lahan yang saat ini menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Semakin cepat lahan, semakin cepat kami bisa bekerja. Saat ini, lahan yang dilintasi tol terdiri dari kawasan hutan, tanah milik masyarakat, dan lahan perusahaan,” ujarnya, Ahad (6/7).
Selain kendala lahan, dijelaskannya salah satu zona yang menjadi perhatian adalah Zona II, khususnya di wilayah Karya Indah, Tapung, Kampar di mana sebagian besar trase tol masuk ke kawasan hutan. Jika proses pembebasan berjalan lambat, hal itu berpotensi menghambat progres konstruksi secara keseluruhan.
Selain persoalan lahan, tantangan teknis juga muncul dari kondisi geografis jalur. Proyek ini harus melintasi sungai, bukit, dan lembah, khususnya di kawasan Muara Fajar dan Sungai Siak.
Di beberapa titik bahkan mengalami longsor selama proses pembangunan. Namun menurut Redy, hal tersebut justru memberi kesempatan bagi tim teknis untuk segera melakukan penanganan sebelum tol dioperasikan.
Salah satu pekerjaan besar dalam proyek ini adalah pembangunan jembatan Sungai Siak. Redy menyebutkan, jembatan ini menjadi tantangan tersendiri karena panjang bentangnya lebih besar dibanding proyek sebelumnya yang hanya berupa hambatan pendek.
“Pembangunan jembatan beton di atas Sungai Siak memerlukan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang lebih lama. Tapi ini menjadi pengalaman penting bagi kami,” jelasnya.
Sementara itu, Site Cost Commercial Manager (SCCM) HKI untuk proyek Jalan Tol Lingkar Pekanbaru Anditya Surya Arif Dinata mengatakan, tol ini merupakan bagian dari jaringan besar Jalan Tol Pekanbaru–Rengat. Tol ini juga akan tersambung dengan Tol Pekanbaru-Dumai serta Tol Pekanbaru-Bangkinang-XIII Koto Kampar, bagian dari ruas Jalan Tol Pekanbaru-Padang.
Tol Lingkar Pekanbaru dibangun sepanjang 30,57 kilometer, lebar 3,6 meter per jalur, dan memiliki dua lajur. “Desain kecepatan maksimal mencapai 100 km per jam dan akan dilengkapi dengan rest area Tipe A untuk mendukung kenyamanan pengguna jalan,” katanya kepada Riau Pos, baru-baru ini.
Dengan demikian, jika kendaraan melaju pada kecepatan 100 km per jam maka dari gerbang tol di Muara Fajar menuju Gerbang Tol Karya Indah, pengendara hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 15-18 menit.
Jalan Tol Lingkar Pekanbaru ini nantinya akan memiliki tiga akses masuk dan keluar, yakni pintu gerbang di Rimbo Panjang, di Jalan Siak, dan Muara Fajar. Salah satu infrastruktur penting dalam ruas ini adalah jembatan utama sepanjang 97,5 meter dengan total panjang jembatan mencapai 200 meter yang melintasi Sungai Siak.
“Tol Lingkar Pekanbaru ini akan melintasi sejumlah wilayah strategis di dua kabupaten/kota, Pekanbaru dan Kampar,” ujarnya. Di Pekanbaru, tol ini akan melintasi kawasan Muara Fajar, Rumbai Bukit, Agrowisata, Palas, dan Sri Meranti. Sementara di Kabupaten Kampar, ruas tol melewati Rimbo Panjang, Tarai Bangun, Kualu, dan Karya Indah.
Terpisah, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Adjib Al Hakim menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi sosial ekonomi melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
“Kami memahami bahwa setiap proyek infrastruktur yang kami bangun memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Jalan tol ini bukan hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menghubungkan harapan masyarakat dengan peluang ekonomi yang lebih baik,” ujar Adjib dalam keterangan resmi yang diterima Riau Pos.
Lebih lanjut Adjib menjelaskan proyek Jalan Tol Lingkar Pekanbaru (Junction Pekanbaru-BypassPekanbaru)merupakan bagian integral dari jaringan Jalan Tol Pekanbaru-Rengat yang akan tersambung dengan Tol Pekanbaru-Dumai dan Tol Pekanbaru-Bangkinang-XIII Koto Kampar.
Integrasi ini menciptakan ekosistem transportasi yang memungkinkan distribusi barang dan jasa menjadi lebih efisien, sekaligus membuka isolasi geografis yang selama ini menjadi tantangan bagi masyarakat di daerah terpencil.
Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum Wilan Oktavian, menyatakan pentingnya integrasi koridor ini dalam ekosistem transportasi nasional. “Nantinya ruas Tol Pekanbaru-Dumai yang merupakan koridor utama Jalan Tol Trans Sumatera akan tersambung dengan koridor pendukungnya, yakni ruas Tol Pekanbaru-Padang,” ungkapnya saat mendampingi kunjungan kerja Komisi V DPR RI di Riau, Juni 2025.
HK mengatakan, kehadiran proyek ini juga mendorong tumbuhnya usaha-usaha pendukung seperti warung makan, bengkel, dan toko material bangunan yang melayani kebutuhan pekerja konstruksi. Efek berganda ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Dalam keterangannya, HK juga merespons masukan dari masyarakat Desa Karya Indah terhadap akses jalan lokal, di mana pihaknya berkomitmen melakukan perbaikan infrastruktur yang terdampak. Selain itu juga, saat ini sedang disusun solusi efektif untuk memastikan akses Jalan Pemuda tetap optimal, termasuk pembangunan jalan alternatif dan perbaikan sistem drainase.
Koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat terus dilakukan untuk mencari solusi terbaik yang mengakomodasi kepentingan semua pihak. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, Hutama Karya akan rutin mengadakan dialog dengan masyarakat setiap bulan untuk memastikan aspirasi warga tertampung dengan baik.
Hutama Karya menyadari bahwa setiap proyek infrastruktur memiliki tantangan tersendiri, termasuk dalam hal pembebasan lahan dan koordinasi dengan masyarakat. Perusahaan berkomitmen untuk menyelesaikan setiap tantangan melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat lokal.
“Kami terus berupaya untuk menyelesaikan proyek ini tepat waktu dengan tetap memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Setiap keputusan yang kami ambil selalu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat,” tambah Adjib Al Hakim.
Penyelesaian proyek ini diproyeksikan akan mengubah lanskap ekonomi Riau secara fundamental, serta menjadi katalis bagi pengembangan kawasan industri dan pariwisata di sepanjang koridor, menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun JTTS sepanjang sekitar 1.235 km, termasuk ruas yang beroperasi maupun dalam tahap konstruksi. Ruas tol yang telah beroperasi penuh antara lain Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (140 km), Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (189 km), Tol Palembang-Indralaya (22 km), Tol Indralaya-Prabumulih (64 Km), Tol Betung-Jambi Seksi 3 Bayung Lencir-Tempino (33,6 Km), Tol Bengkulu-Taba Penanjung (16,725 km), Tol Pekanbaru-Dumai (132 km), Tol Medan-Binjai (17 km) Tol Binjai-Langsa Seksi Binjai-Pangkalan Brandan (58 km), Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar (55,4 Km), Tol Padang-Sicincin (35,45 Km), Tol Indrapura-Kisaran (48 km), Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Sinaksak (91 km), dan Tol Sigli Banda Aceh Seksi 2-6 (49 km).(egp)
Editor : Arif Oktafian