PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi 11 titik panas tersebar di lima daerah di Provinsi Riau, Selasa (15/7). Jumlah ini menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera.
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Bella R Adelia memaparkan, titik panas di Pulau Sumatera terdeteksi sebanyak 34. Selain 11 di Riau, juga terpantau di Sumatera Utara 9, Sumatera Selatan 6, Jambi 4, Sumatera Barat 3, dan Lampung 1.
“Untuk wilayah Riau terbanyak ada di Rokan Hilir yakni 6 titik panas. Sisanya di Pelalawan 2 serta Kampar, Kota Dumai , dan Rokan Hulu masing-masing terpantau 1 titik panas,” ujarnya kepada Riau Pos, Selasa (15/7).
Untuk prakiraan cuaca, di Provinsi Riau sejak pagi hingga siang hari cuaca terpantau cerah berawan. Namun sore hingga malam hari cuaca diperkirakan cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Kampar, Pelalawan, Siak, Rokan Hilir, Bengkalis, dan Kota Pekanbaru.
“Dini hari udara kabur berawan, suhu udara berkisar 23.0–34.0 °C, kelembapan udara 55–99 persen, arah angin dari Tenggara–Barat/10–30 km/jam, perkiraan tinggi gelombang di Wilayah Perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.5–1.25 meter (rendah),” tegasnya.
Lagi, Karhutla di Desa Rimbo Panjang
Sekitar 7 hektare lahan milik masyarakat terbakar di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Selasa (15/7). Namun, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar Agustar melalui Kasi Logistik Edison menjelaskan, api sudah berhasil dipadamkan tetapi lokasinya masih berasap.
’’Satgas gabungan kesulitan memadamkan lahan yang terbakar karena lahannya gambut. Selain itu, karena musim kemarau sulit mencari sumber air di lokasi. Belum diketahui penyebab kebakaran,’’ jelas Edison kepada Riau Pos, Selasa (15/7).
’’Karena saat ini musim kemarau, kami mengimbau masyarakat kalau membuka lahan tidak dengan cara membakar. Hampir setiap hari terjadi kebakaran lahan di Kabupaten Kampar,’’ tambahnya.
Dua Pekan Pelalawan Nihil Karhutla
Meski hujan mengguyur Kabupaten Pelalawan sejak dua pekan terakhir sangat minim, namun hingga saat ini Negeri Seiya Sekata ini masih nihil titik panas (hotspot) dan titik api (firespot) yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
‘’Alhamdulillah, sejak dua pekan terakhir, Pelalawan nihil karhutla meski curah hujan sangat minim,” terang Kalaksa BPBD Kabupaten Pelalawan Zulfan MSi kepada Riau Pos, Selasa (15/7).
Mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan ini menambahkan, nihilnya kasus karhutla karena telah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membuka lahan tanpa bakar. Begitu juga dengan pihak perusahaan yang telah mempersiapkan dan melengkapi sarana dan prasarana dalam mengantisipasi karhutla secara dini di areal konsesi.
“Dan dengan kondisi ini, kita juga tentunya akan terus berkomitmen untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh pihak agar dapat melakukan upaya pencegahan karhutla di Pelalawan,” paparnya.
Selain itu, komitmen aparat penegak hukum yang menangkap para pelaku pembakaran lahan ini juga memberikan pengaruh besar. “Penegakan hukum ini menjadi efek jera dan menimbulkan ketakutan bagi oknum-oknum pemilik lahan yang menggunakan cara membakar,” ujarnya.
Ditambahkan Zulfan titik api terakhir muncul di Pelalawan pada 30 Juni lalu di Desa Sorek Dua, Kecamatan Pangkalan Kuras. Api membakar lahan kosong milik masyarakat yang menjalar ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dan membuat karhutla sulit dipadamkan.
Alhasil, tim gabungan dari berbagai instansi pun berjibaku di lapangan hingga api dan asap berhasil dihilangkan dalam jangka waktu tiga hari. “Untuk itu, kita akan terus bekerja maksimal agar karhutla di Pelalawan dapat dicegah dan diantisipasi,’’ ujarnya.
‘’Salah satunya dengan terus meningkatkan patroli rutin di daerah yang rawan terbakar. Serta tetap terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan yang telah dibagi rayonisasinya. Kami berharap dengan upaya ini maka kedepannya Pelalawan bisa zero karhutla,” tambahnya.(ayi/amn/kom)
Editor : Arif Oktafian