PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) semakin tebal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul pun secara resmi meliburkan sekolah di tujuh kecamatan terhitung mulai Jumat (25/7) hari ini hingga Sabtu (26/7) besok.
Dari tujuh kecamatan tersebut, empat di antaranya yakni Rambah, Bangun Purba, Rambah Samo, dan Rokan IV Koto telah meliburkan satuan pendidikan dari TK, SD/MI, hingga SMP/MTs baik negeri maupun swasta pada 23-24 Juli lalu. Sedangkan sisanya yakni Ujungbatu, Pagaran Tapah Darussalam, dan Bonai Darussalam baru dimulai hari ini.
Keputusan pemberitahuan libur sekolah akibat kabut asap ini tertuang dalam Surat Nomor 400.3/DISDIKPORA-Set/2540 tertanggal 24 Juli 2025 yang ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Rohul H Damri Poti SSos MAP.
‘’Sesuai instruksi Pak Bupati dengan mempertimbangkan kondisi kabut asap tebal dan masih terjadinya karhutla di sejumlah kecamatan, maka libur sekolah yang semula hanya empat kecamatan terhitung 23-24 Juli, diperpanjang dua hari ke depan yakni 25-26 Juli mendatang di 7 kecamatan. Ada penambahan tiga kecamatan yang kita liburkan. Untuk sementara waktu aktivitas proses belajar mengajar tatap muka di sekolah dihentikan,’’ ujar Kadisdikpora Rohul H Damri Poti SSos MSi saat dikonfirmasi Riau Pos, Kamis (24/7).
Keputusan ini sebagai langkah antisipasi agar peserta didik tidak terpapar risiko penyakit Infeksi Saluran Penapasan Akut (ISPA). Damri menyebutkan, satuan pendidikan negeri dan swasta di tujuh kecamatan yang diliburkan tersebut berjumlah 353 sekolah, yang terdiri dari 123 TK, 165 SD, dan 65 SMP. ‘’Selama libur, kami sampaikan kepada kepala sekolah agar kegiatan belajar sementara dialihkan ke sistem pembelajaran daring dari rumah,’’ ujarnya.
Damri mengimbau para orang tua untuk membatasi anak melakukan aktivitas di luar rumah. Kalaupun mereka ke luar rumah, tetap menggunakan masker serta memastikan peserta didik tetap belajar serta beristirahat di rumah.
Sementara itu, untuk sekolah-sekolah di kecamatan lain yang tidak terdampak kabut asap, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Dengan harapan pihak sekolah untuk mengurangi aktivitas peserta didik di luar sekolah demi menjaga kesehatan anak agar tidak terpapar penyakit ISPA.
16 Kecamatan Salat Istisqa
Dalam tiga hari terakhir hingga Kamis (24/7), seluruh 16 kecamatan di Rohul telah melaksanakan Salat Istisqa dan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar dan memohon kepada Allah SWT menurunkan hujan.
Salat Istisqa diinisiasi Pemkab Rohul ini diawali di tingkat kabupaten yang dipusatkan di Pelataran Masjid Agung Islamic Center (MAIC) Pasirpengaraian, Selasa (22/7) lalu. Salat diikuti Wabup Rohul H Syafaruddin Poti, ratusan aparatur sipil negara (ASN), tenaga honorer, tokoh agama, pelajar, serta masyarakat umum.
Kemudian Rabu (23/7) hingga Kamis (24/7) di 16 kecamatan telah melaksanakan Salat Istisqa dan doa bersama yang diinisiasi oleh Camat se-Rohul dengan melibatkan kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat. Bupati Rohul Anton ST MM melalui Kabag Tapem Setda Rohul Adi Irawan SSTP MIp menyebutkan, pelaksanaan Salat Istisqa ini atas instruksi langsung Bupati Rohul.
‘’Hari ini (Kamis, red), kita sudah menerima laporan dari camat se-Rohul, doa bersama minta diturunkan hujan melalui Salat Istisqa telah dilaksanakan secara serentak. Melibatkan seluruh ASN, perangkat desa dan komponen masyarakat. Kita berharap Allah SWT segera menurunkan hujan dan titik-titik api akibat karhutla bisa segera padam di Rohul,” ujarnya.
“Ini adalah bentuk ikhtiar dan upaya bersama dengan mengetuk pintu langit. Semoga Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya dan menyelamatkan Rohul dari bencana kabut asap akibat karhutla yang saat ini masih terjadi di sejumlah kecamatan,” tambahnya.
Ribuan Warga Rohul Terpapar ISPA
Tak hanya berdampak pada kegiatan belajar mengajar, masyarakat juga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan, khususnya ISPA. Data Dinas Kesehatan (Diskes) Rohul mencatat, sejak Juni hingga 23 Juli 2025, warga yang terserang ISPA telah mencapai 1.598 orang. Namun, dari kasus tersebut, Diskes menyatakan hingga kini belum terjadi lonjakan yang signifikan.
Plt Kepala Diskes Rohul drg Hj Septien Asmarwati MKes, menjelaskan tren kasus ISPA sejauh ini masih dalam angka yang stabil sejak adanya kabut asap akibat terjadinya karhutla. “Dari data dan laporan yang masuk, belum ada peningkatan signifikan kasus ISPA di Rohul,” jelasnya, Kamis (24/7).
Dia merincikan, pada Juni 2025 tercatat 825 kasus ISPA, yang terdiri dari 474 orang dewasa, 153 anak-anak, 111 remaja, dan 91 lansia. Sementara periode 1-23 Juli 2025 tercatat 773 kasus, dengan rincian 242 dewasa, 87 lansia, 114 balita, dan 103 anak-anak.
Meski belum terjadi lonjakan, Sekretaris Diskes Rohul itu mengatakan pihaknya bersama jajaran puskesmas se-Rohul melakukan langkah antisipasi dan pemantauan di lapangan dan telah mendistribusikan ribuan masker gratis kepada warga di wilayah terdampak karhutla melalui puskesmas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Jika harus ke luar rumah, maka wajib menggunakan masker untuk menghindari terhirup udara yang bercampur butiran asap,” ujarnya.
Septien menambahkan, Diskes Rohul telah menginstruksikan seluruh fasilitas layanan kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu, dan poskesdes di daerah terdampak karhutla untuk bersiaga dan memberikan pelayanan penanganan ISPA secara cepat.
DLH Rohil Sebut Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat
Kabut asap juga masih tertahan di sebagian besar wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Pantauan di lapangan, pemandangan kabut asap ini dirasakan terjadi pada pagi hari, yang selanjutnya berkurang pada siang yang diperkirakan terjadi karena pengaruh angin dan terik panas.
Kondisi kabut asap ini membuat sebagian warga mengaku mulai merasa terganggu. Pj Penghulu Rantau Panjang Kiri, Kecamatan Kubu menyebutkan, kabut asap sangat menganggu jarak pandang. “Kalau kondisi sekarang, tentu menganggu jarak pandang yang membuat pandangan terhalang dengan jarak yang pendek,” katanya.
Sementara salah seorang warga Bagansiapiapi, Chandra (32) mengaku khawatir melihat fenomena kabut asap yang terjadi karena karhutla di Rohil kali ini. “Terutama bagi anak-anak, apalagi mereka kan pada saat pagi itu mulai sekolah, sementara sejak pagi itulah kabut asap nampak lebih tebal,” ujarnya.
Ia mengaku sudah meliburkan anaknya dalam dua hari terakhir dari bersekolah. Kendati pihak sekolah masih belum memutuskan untuk meliburkan anak-anak dari kegiatan belajar di sekolah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rohil Suwandi SSos membenarkan saat ini kualitas udara, khususnya di Kecamatan Bangko dalam skala tidak sehat. “Dari alat pemantau udara, untuk di Kecamatan Bangko dalam tiga hari terakhir sangat tidak sehat,” kata Suwandi, Kamis (24/7).
Suwandi menerangkan, pemantauan kualitas udara itu khususnya dalam rentang tiga hari belakangan, Senin (20/7) sampai Rabu (23/7) lalu. Untuk partikel udaranya lanjut Suwandi, di atas batas sehingga pihaknya telah mengusulkan kepada bupati, khususnya terkait dengan kegiatan kependidikan di sekolah untuk dapat diliburkan jika kondisi kualitas udara sangat tidak sehat tersebut masih terjadi ke depannya.
“Kami sarankan diliburkan saja untuk tiga hari ke depan, sambil terus dipantau kualitas udara yang ada khususnya dalam hal ini di Kecamatan Bangko, bahkan mungkin juga di seluruh kecamatan se-Rohil,” katanya. Menurutnya keadaan kualitas udara itu, khususnya di Kecamatan Bangko merupakan indikasi penting yang mengambarkan kualitas udara di sebagian besar wilayah Rohil.
Jika di Kecamatan Bangko yang kejadian karhutla sedikit telah mengakibatkan kualitas udara seperti sekarang, Suwandi mengatakan, apalagi di kecamatan-kecamatan yang terdapat kejadian karhutla cukup besar.
Untuk pemantauan kualitas udara tambahnya dilakukan setiap hari selama 24 jam tanpa henti mengunakan perangkat teknologi yang ada Menyikapi kondisi saat ini Suwandi menyarankan agar masyarakat mengurangi melakukan aktivitas di luar rumah.
“Kalaupun ke luar rumah sebaiknya memakai masker karena indeks ISPU itu PM-nya 2,5, artinya mengandung partikel debu yang sulit diurai, meskipun tak bisa dilihat kasat mata namun berdampak bisa menimbulkan sesak napas dan gangguan pernapasan,” kata Suwandi.
Kualitas Udara Pekanbaru Buruk
Kabut asap tebal masih menyelimuti Kota Pekanbaru dan membuat kualitas udara menjadi buruk dan tidak sehat bagi masyarakat rentan, Kamis (24/7). Pantauan Riau Pos, di aplikasi data website pengukur indeks kualitas udara iqair.com terlihat kualitas udara tidak sehat dengan indeks di angka 118.
Angka tersebut tercatat cukup tinggi yang menunjukkan kualitas udara di Pekanbaru sedang tidak sehat, khususnya untuk kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Adapun polutan utama pencemaran udara, yakni particulate matter (PM) 2.5, yang merupakan partikel halus berukuran 2.5 mikrometer atau kurang dalam diameter. Ini merupakan jenis polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Aplikasi tersebut juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi agar mengurangi aktivitas outdoor atau di luar ruangan, menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara liar yang kotor, menyalakan penyaring udara, serta menggunakan masker jika tetap ingin berkegiatan di luar, khususnya bagi kelompok sensitif.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Gita Dewi S menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru dan daerah Riau lainnya disebabkan karhutla, baik di Riau maupun provinsi lainnya di Pulau Sumatera.
Berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru, titik panas wilayah Sumatera kembali mengalami peningkatan, Kamis (24/7) yakni menjadi 621 titik. Riau terbanyak dengan 207 titik. Diikuti Aceh 68 , Jambi 49, Sumatera Selatan 46, Sumatera Barat 27, Bangka Belitung 18, Lampung 8, , Bengkulu 7, dan Kepulauan Riau 3. “Di Riau sendiri titik panas terbanyak ada di Kabupaten Rokan Hilir 110, Rokan Hulu 63, Pelalawan 20, Bengkalis 6, Siak 6, dan Kampar 2,” jelasnya.
Sementara itu, prakirakan cuaca di Riau, sejak pagi hari cuaca terpantau udara kabur cerah berawan tanpa adanya potensi hujan. Namun siang hingga sore hari cuaca cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kampar dan Rokan Hulu.
Malam hingga dini hari udara kabur cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Siak, Pelalawan, Kota Pekanbaru, dan Kota Dumai. ‘’Suhu udara di Riau diperkirakan berkisar 23.0-35.0 °C,’’ ujarnya.(epp/ayi/fad/das)
Editor : Bayu Saputra