PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hotspot atau titik panas masih terdeteksi di Provinsi Riau, Kamis (31/7). Sebanyak 68 titik panas terdeteksi di delapan kabupaten/kota. Yakni di Rokan Hilir 19, Kepulauan Meranti 16, Indragiri Hulu 10, Pelalawan 7, Siak 7, Indragiri Hilir 7, Kampar 1, dan Bengkalis 1.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Elisa JS Kedang mengatakan, tak hanya di Riau, ratusan titik panas juga terdeteksi di provinsi lain di Pulau Sumatera dengan 254. ‘’Di Aceh ada 75, Sumatera Utara 40, Sumatera Selatan 30, Jambi 13, Bangka
Belitung 12, Lampung 9, Kepulauan Riau 4, Bengkulu 2, dan Sumatera Barat 1,” jelasnya.
Di sisi lain untuk prakirakan cuaca di Provinsi Riau, sejak pagi hari terpantau cerah berawan tanpa adanya potensi hujan. Siang hingga sore hari cuaca cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hulu, Pelalawan, dan Indragiri Hilir.
Malam hari cuaca juga diperkirakan cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, Kepulauan Meranti, Indragiri Hulu, Siak, Pelalawan, Bengkalis, Kota Dumai dan Kota Pekanbaru. Dini hari udara kabur berawan.
“Waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Bengkalis, Siak dan Pelalawan pada sore dan malam hari,” jelasnya.
Tebingtinggi Barat Belum Padam, Menyala di Rangsang
Titik api Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti belum padam, bencana karhutla malah melanda Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir. Padahal penanggulangan di Desa Tanjung Peranap sudah memasuki hari kesembilan. Sementara api yang menyala di Deda Sonde berlangsung sejak, Senin (28/7).
Dari data yang diterima Riau Pos melalui BPBD, luasan kawasan terdampak di Desa Tanjung Peranap sudah lebih dari 170 hektare. Bahkan melalui sumber tertentu, data luasan kawasan terdampak sudah tembus 200 hektare, namun data ini dibantah Kalaksa BPBD Kepulauan Meranti M Khardafi.
Menurutnya fokus pemadaman masih berlangsung di lokasi tersebut. Untuk itu hasil koordinasi, Kamis (30/7), BPBD Riau telah menurunkan bantuan water boombing. “Kami terus fokus di lokasi melakukan penanggulangan agar sebaran titik tidak teris meluas. Seperti kemarin itu, hasil dari koordinasi kami, BPBD Riau telah melakukan water boombing,” ujarnya.
Selain bantuan water boombing, bantuan tambahan belasan personel juga berdatangan dari Manggala Agni Daerah Operasional Siak. “Sekarang sudah di lapangan bantuan personel satu regu dari Maggala Agni. Jumlahnya 15 orang turun ikut membantu penanggulangan,” ungkapnya.
Selain itu ia tidak menampik penanganan titik api turut berlangsung di Desa Sonde yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Rangsang Ipda Turnip yang saat ini telah memasuki tahapan pendinginan.
Secara terpisah, Turnip menyebutkan, penanggulangan titik api di Pulau Rangsang itu semula terkendala sumber air. Selain angin yang bertiup cukup kencang, mereka terpaksa menyiram titik api dengan air laut. “Sumber air sulit. Kami tim gabungan dari Polri, BPBD, MPA, Perusahaan HTi dan masyarakat terpaksa menggunakan air laut,” tuturnya.
Udara Bangkinang Tercemar Sedang
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Bangkinang dan sekitarnya Kamis (31/7) pagi tercatat mencapai angka 93. Nilai tersebut tergolong dalam kategori sedang, namun sudah mendekati ambang batas kualitas udara tidak sehat.
Data ini diperoleh dari hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar melalui Stasiun Pemantauan ISPU Bangkinang pada pukul 06.00 WIB. “ISPU di daerah kami, khususnya Kota Bangkinang dan sekitarnya masih cukup tinggi. Dari hasil pemantauan pagi ini (kemarin, red), ercatat di angka 93,” ungkap Kepala DLH Kampar Yuricho Efril.
Yuricho menambahkan, berdasarkan hasil koordinasi DLH dengan Polres Kampar, saat ini belum ditemukan titik api baru di wilayah Kampar. Namun, proses pendinginan masih berlangsung di beberapa titik, khususnya di wilayah Rimbo Panjang.
“Asap yang memengaruhi kualitas udara di Kampar kemungkinan besar berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain. Untuk daerah Tapung, biasanya kualitas udaranya lebih buruk dibandingkan Bangkinang karena banyak areal perkebunan,” jelas Yuricho.
DLH Kampar mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara. Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar untuk meminimalkan paparan polusi udara. “Kami minta masyarakat tetap menjaga kesehatan dan mengikuti imbauan, agar dampak buruk dari kualitas udara yang menurun bisa diminimalisir,” tutur Yuricho.
Polres Pelalawan Tindak Tegas
Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK memastikan pelaku pembakar hutan dan lahan akan ditindak tegas tanpa pandang bulu, baik perorangan maupun korporasi. “Jadi, jika ada yang melakukan pembakaran lahan dan hutan akan kami ditindak tegas sesuai atiran hukum yang berlaku tanpa pandang bulu, baik perorangan maupun korporasi,” terang AKBP John Louis Letedara didampingi Wakapolres Kompol Asep Rahmat SH SIK MM, Kamis (31/7).
Diungkapkannya, pelaku yang tertangkap diproses hukum dan dipenjara hingga 10 tahun dan didenda minimal Rp3 miliar hingga maksimal Rp10 miliar. Dan ini sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
“Kami tidak main-main tentang kathutla ini. Karena ada aturan hukum yang harus dipertanggung jawabkan pelaku karhutla. Dan ini dibuktikan sejak awal tahun hingga akhir Juli 2025 ini, Polres Pelalawan telah berhasil menangkap tiga pelaku karhutla yang kini masih diamankan dalam sel sebelum dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Pelalawan,” paparnya.
Sementara itu, Wakapolres Kompol Asep menjelaskan, pihaknya terus memantau adanya titik panas yang yang terdeteksi melalu Dashboard Lancang Kuning (DLK) Polres Polres Pelalawan.”Kalau ada hotspot yang terpantau langsung kami tindak lanjuti dan turun melakukan mitgas dan pemadaman,’’ ujarnya.
‘’Namun ada juga hotspot yang tidak terdeteksi oleh DLK. Untuk itu, diminta masyarakat proaktif melapor jika melihat api atau asap mencurigakan untuk memberikan informasi dengan segera,’’ tambahnya.
Pihaknya juga memberikan imbauan serius kepada warga agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu karhutla, termasuk membuka lahan dengan cara dibakar dan membuang puntung rokok sembarangan, apalagi di area lahan kering atau dekat hutan.
“Kondisi sekarang sangat kering dan banyak lahan gambut di wilayah Polres Pelalawan. Kalau sedikit api muncul bisa langsung membesar apinya, dan sulit dipadamkan. Karena air sulit ditambah lagi angin kencang,” tuturnya.
Ia mengatakan, dalam penanganan karhutla, perlu dilakukan pencegahan secara maksimal baik preemtif dan preventif. Dengan memerlukan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) untuk bisa efektif dan berkelanjutan. Ini termasuk pemerintah, perusahaan dan masyarakat. (ayi/wir/kom/amn)
Editor : Bayu Saputra