Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 Mahkota Kesultanan Siak Jadi Daya Tarik dan Kebanggaan

Soleh Saputra • Minggu, 17 Agustus 2025 | 11:27 WIB
Mahkota Kerajaan Siak dijaga ketat oleh polisi saat dipamerkan dalam Pekan Budaya Melayu Serumpun di Pekanbaru bersempana HUT Ke-68 Provinsi Riau, Sabtu (9/8/2025).
Mahkota Kerajaan Siak dijaga ketat oleh polisi saat dipamerkan dalam Pekan Budaya Melayu Serumpun di Pekanbaru bersempana HUT Ke-68 Provinsi Riau, Sabtu (9/8/2025).

Pekan Budaya Melayu Serumpun yang dilaksanakan bersempena Hari Jadi Ke-68 Provinsi Riau tahun 2025, terasa lebih spesial. Tidak hanya menampilkan kegiatan yang kental dengan nuansa kebudayaan Melayu, kehadiran Mahkota Kesultanan Siak yang selama ini disimpan di Museum Nasional, menjadi daya tarik utama.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DENGAN pengawalan ketat aparat kepolisian, Mahkota Kesultanan Siak yang sebelumnya diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada 1945 silam ditempatkan di ruangan kaca. Bagi masyarakat yang hendak melihatnya, harus memasuki ruangan yang berada di belakang tenda utama pelaksanaan Pekan Budaya Melayu Serumpun di Jalan Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.

Mahkota Kesultanan Siak merupakan salah satu artefak Kerajaan Melayu yang paling megah di Indonesia. Dibuat pada abad ke-19, mahkota ini terbuat dari emas, berlian, rubi, zamrud, dan mutiara. Mahkota tersebut memiliki berat 1.803,3 gram, diameter 33 sentimeter, dan tinggi 27 sentimeter.

Ani Asmawati, pengunjung asal Pekanbaru, mengaku senang bisa melihat langsung mahkota kesultanan Siak tersebut. Selama ini ia hanya mendengar cerita saja tentang Kesultanan Siak, namun kali ini bisa langsung menyaksikan benda peninggalannya.

“Senang sekali bisa langsung melihat mahkota dan benda peninggalan sultan Siak. Saya juga suka sejarah, jadi begitu ada pameran ini langsung datang,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Jihan. Pelajar SMPN 1 Pekanbaru ini juga mengaku terkesan dengan pameran tersebut. Ia juga banyak mendapatkan pengetahuan baru terkait Kesultanan Siak. “Senang bisa melihat langsung mahkotanya, jadi dapat pengetahuan baru juga,” sebutnya.

Selain pameran mahkota, permainan tradisional menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari rimau, yeye, hingga enggrang, semua tersaji untuk mengajak pengunjung bernostalgia dan mencoba langsung keseruan permainan tempo dulu. Di panggung utama, rangkaian atraksi budaya terus menghidupkan suasana. Penampilan Omok Siak yang memadukan gerak tradisional dengan narasi sejarah membuka acara. Disusul kolaborasi syair dan sastra lisan yang membawa pendengar hanyut dalam cerita-cerita rakyat Melayu.

Alunan musik Gambang Kromong kemudian menambah warna, memadukan kekayaan budaya Betawi dan Melayu. Lalu, panggung semakin semarak saat penari lokal beraksi disusul adanya penampilan pesona wastra Riau.

Kepala Dinas Pariwisata Riau Roni Rakhmat mengatakan, bahwa kehadiran mahkota asli Kesultanan Siak menjadi daya tarik utama pameran tahun ini. “Pameran tahun ini sangat luar biasa karena untuk pertama kalinya mahkota, pin, dan pedang Sultan Siak kembali ke Riau setelah sekian lama,” ujarnya.

Pihak Museum Nasional Indonesia telah memberikan izin peminjaman benda-benda pusaka ini dengan prosedur keamanan yang ketat. Mahkota Siak dibawa ke Jakarta pada tahun 1945 saat Sultan Syarif Kasim II menyerahkan simbol-simbol kebesaran kerajaan kepada Pemerintah Republik Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan. Selain mahkota, sang sultan juga menyumbangkan dana sebesar 13 juta gulden untuk perjuangan negara yang baru merdeka.

Roni menjelaskan, tujuan penyelenggaran kegiatan ini tentu saja wadah memperkenalkan kembali tradisi dan sejarah Riau kepada generasi muda. Dari permainan rakyat hingga pameran pusaka, semua mengajak masyarakat untuk mencintai warisan daerahnya sendiri.

“Kami menghadirkan beragam atraksi seni, kuliner, dan berbagai budaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga upaya memperkuat identitas Melayu dan menjadikannya daya tarik wisata unggulan Riau. Sehingga, kami harap momentum HUT Ke-68 Provinsi Riau ini menjadi ajang silaturahmi budaya dan sekaligus mendukung ekonomi kreatif daerah,”tuturnya.

Momen Bersejarah

Gubernur Riau Datuk Seri Setia Amanah Abdul Wahid menyebutkan, kehadiran Mahkota Kerajaan Siak di Pekanbaru sebagai momen bersejarah yang sarat makna. Ia menegaskan bahwa mahkota bukan sekadar benda pusaka, tetapi simbol kemuliaan dan perjuangan bangsa Melayu untuk Republik Indonesia.

“Alhamdulillah, dalam rangka Hari Jadi Ke-68 Provinsi Riau, kita bisa membawa Mahkota Kerajaan Siak kembali ke Riau untuk dipamerkan dan bisa dilihat oleh seluruh masyarakat yang rindu akan Mahkota Kerajaan Siak,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa mahkota tersebut merepresentasikan lebih dari sekadar lambang kekuasaan. Mahkota itu merupakan simbol keikhlasan dan komitmen besar Sultan Syarif Kasim II terhadap kemerdekaan Indonesia. “Yang diserahkan kepada Republik Indonesia bukan hanya kekuasaan, tetapi juga kemuliaan, keikhlasan, dan perjuangan. Bahkan Sultan Syarif Kasim II menyumbangkan 13 juta gulden untuk kemerdekaan bangsa ini,” katanya.

Gubernur menekankan pentingnya kehadiran pusaka ini sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Ia ingin agar anak-anak muda Riau mengenal jati diri sejarahnya, serta memahami bahwa bangsa Melayu adalah bangsa besar, berdaulat, dan beradab.

“Kita ingin generasi muda tidak merasa asing dengan sejarahnya sendiri. Kita ingin mereka bangga, bahwa leluhurnya bukan hanya berbudaya tinggi, tapi juga rela berkorban demi persatuan bangsa,” ucapnya.

Gubri Abdul Wahid juga mengatakan pentingnya pelestarian adat dan budaya Melayu sebagai identitas serta jati diri masyarakat Riau. “Sebagaimana tunjuk ajar Melayu berkata, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, adat dijaga marwah disanjung. Oleh karena itu, di ulang tahun ke-68 Provinsi Riau, kami mengambil tema Merawat Tuah Menjaga Marwah, Takkan Melayu Hilang di Bumi,” katanya.

Ia menjelaskan, kebudayaan dan peradaban Riau dibangun dari empat sungai besar, yakni Sungai Indragiri, Sungai Kampar, Sungai Rokan, dan Sungai Siak. Keempat aliran sungai tersebut menjadi pusat tumbuh kembangnya masyarakat sekaligus membentuk peradaban Melayu yang kokoh. “Di keempat sungai inilah peradaban itu terbangun dan masyarakat tumbuh bersama-sama,” jelasnya.

Diterangkannya, Pekan Budaya Melayu Serumpun bukan sekadar pesta seni atau hiburan. Menurutnya, kegiatan ini adalah upaya untuk mengingatkan dunia bahwa di Tanah Melayu Riau pernah berdiri sebuah peradaban besar yang menyusuri kawasan Selat Malaka.

“Peradaban tersebut membentuk jati diri masyarakat hingga kini. Masyarakat Riau sangat terbuka sehingga semua yang datang ke sini kami anggap saudara,” terangnya.

Abdul Wahid juga menyoroti akar sejarah peradaban Melayu yang kuat dan jejaring persaudaraan yang melintas batas negara serumpun. Ia menambahkan, melalui Pekan Budaya Melayu Serumpun, nilai-nilai luhur dapat menjadi kebanggaan yang menguatkan identitas masyarakat Riau. “Konsep Riau rumah rumpun Melayu adalah cita-cita besar untuk menjaga kesatuan budaya, mempererat hubungan serumpun, dan mewariskannya kepada generasi penerus,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Abdul Wahid turut menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, yang hadir secara langsung. Baginya, kehadiran tersebut menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian budaya, khususnya Melayu Riau.

“Kami mengucapkan terima kasih dan selamat datang untuk Bapak Menteri Kebudayaan di Provinsi Riau. Kehadiran Menteri Kebudayaan di tengah-tengah kami malam ini adalah bukti perhatian dan komitmen pemerintah pusat dalam menjaga, merawat, dan memajukan kebudayaan, terutama kebudayaan Melayu di Provinsi Riau,” tuturnya di panggung utama, Sabtu (9/8/2025).

Dibuat di Siak

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil juga mengatakan, Mahkota Kerajaan Siak Sri Indrapura yang kini diakui sebagai salah satu benda pusaka paling sakral dalam sejarah Kerajaan Melayu, ternyata dibuat langsung di Siak atas perintah Sultan Syarif Kasim I.

Menurut Taufik, pembuatan mahkota tersebut tercatat dalam penelusuran sejarah yang dilakukan oleh sejarawan dan budayawan Dadang Irham. Disebutkan, Sultan Syarif Kasim I memerintahkan pembuatan mahkota kerajaan sekitar akhir abad ke-19, dengan mendatangkan seorang ahli perhiasan dari Jawa bernama Raden Mas Singo Sarwali. Di lingkungan istana, pengrajin ini dikenal dengan nama Pangeran Ali.

“Pangeran Ali termasuk golongan Hamba Raja Dalam yang diberi kepercayaan tinggi oleh sultan. Ia kemudian dibantu anak-anaknya seperti Karto dan Saribun dalam proses pembuatan mahkota,” ujar Taufik.

Mahkota dibuat dari emas seberat sekitar dua kilogram dan dihiasi dengan taburan batu mulia berupa intan dan rubi. Proses pembuatannya dilakukan di lingkungan Istana Siak sendiri, menjadikan mahkota ini sebagai karya lokal yang memiliki nilai budaya tinggi. Selain sebagai simbol kekuasaan, mahkota tersebut juga mengandung makna spiritual dan simbolis yang mendalam.

“Dalam naskah kuno Ingatan Jabatan yang ditemukan oleh peneliti Universitas Nasional Singapura, Timothy P. Barnard, Mahkota Kerajaan Siak bahkan menempati posisi pertama dalam daftar 17 harta utama kerajaan. Naskah yang merupakan turunan dari Bab al-Quwaid tahun 1901 ini juga mencatat bahwa mahkota terbuat dari emas dan berhiaskan satu butir intan utama,” sebutnya.

Datuk Seri Taufik menyebut, kitab Ingatan Jabatan menjadi dokumen penting bukan hanya karena memuat daftar kekayaan kerajaan, tetapi juga karena mencatat sistem kerja dan administrasi kerajaan yang lebih terperinci daripada Bab al-Quwaid. Kitab ini kini diketahui hanya tersimpan di salah satu perpustakaan di Malaysia.

“Sultan Syarif Kasim I yang memerintah sejak tahun 1864 dikenal sebagai tokoh pembaharu di Siak. Selain membuat mahkota, ia juga memerintahkan pembuatan kursi emas untuk keperluan istana. Ketika wafat, beliau dianugerahi gelar kehormatan Marhum Mahkota sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya terhadap kerajaan, termasuk dalam pembuatan mahkota yang kini menjadi simbol kebesaran Kerajaan Siak,” jelasnya lagi.

Kebudayaan sebagai Pondasi Bangsa

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, juga hadir langsung pada kegiatan ini. Ia mengatakan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni melainkan ruang memperkuat silaturahmi antarbangsa serumpun. Ia menambahkan, pentingnya kebudayaan sebagai pondasi bangsa.

“Pekan Budaya Melayu Serumpun ini akan jadi kenangan dalam silaturahmi yang makin lekat. Mari bersatu jalin harmoni. Ini artinya perhatian kepada kebudayaan semakin tinggi dan semakin besar. Karena budaya kita ini adalah fondasi untuk membangun karakter, jati diri, serta identitas kita,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat dapat memaknai tema perhelatan tahun ini. Karena, hal itu berguna sebagai pengingat bahwa budaya Melayu adalah akar yang menyatukan. “Riau Rumah Rumpun Melayu, Merawat Tuah Menjaga Marwah. Ini adalah cermin semangat kebersamaan yang tumbuh dari akar sejarah, bahasa, dan nilai luhur Melayu,” katanya.

Dijelaskannya, Riau bukan hanya wilayah administratif, melainkan jantung peradaban Melayu yang telah berkembang sejak berabad-abad lalu. Dengan begitu, perhatian terhadap kebudayaan harus terus ditingkatkan ke generasi yang akan datang.

“Riau bukan hanya sebuah wilayah di peta Indonesia tapi jantung peradaban Melayu yang telah berdenyut sejak berabad-abad lalu. Dan di sini bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa pemersatu bangsa. Kemudian melahirkan bahasa Indonesia,” jelasnya.

Fadli Zon, mengapresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Pekan Budaya Melayu Serumpun tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki peran penting dalam upaya pelestarian dan promosi kebudayaan Melayu, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Saya apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan pelaku budaya yang terlibat dalam acara ini. Pekan Budaya Melayu Serumpun adalah iven pelestarian budaya,” katanya.

Dijelaskannya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Hal itu terlihat dari beragam pertunjukan seni yang ditampilkan dalam Pekan Budaya Melayu Serumpun. Sehingga, kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini tidak tertandingi di dunia.

“Kita mempunyai kekayaan budaya yang luar biasa. Saya selalu mengatakan di berbagai tempat, tidak ada kekayaan budaya di dunia ini yang lebih hebat, lebih kaya, dan lebih beragam daripada kebudayaan di Indonesia. Termasuk budaya Melayu adalah budaya yang sangat penting,” jelas politikus Partai Gerindra ini.

Diungkapkannya, bahwa keberagaman budaya tersebut merupakan kekuatan identitas bangsa yang harus dijaga dan diwariskan. Oleh karena itu, kegiatan seperti Pekan Budaya Melayu Serumpun mampu menjadi ruang pertemuan lintas generasi, di mana nilai-nilai luhur dapat terus hidup dalam kehidupan masyarakat. “Diharapkan ini menjadi ajang promosi budaya Melayu untuk lebih dikenal oleh generasi muda. Sehingga, dikenal juga oleh masyarakat luas dan bahkan dunia,” ungkapnya.

Selain itu, Menbud mengingatkan kembali peran penting Riau dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Ia menambahkan, bahasa Melayu yang tumbuh dan berkembang di Riau memiliki peran sentral dalam pembentukan identitas nasional.

Dalam malam puncak Pekan Budaya Melayu Serumpun, selain digelar berbagai atraksi dan hiburan, juga pembacaan puisi yang dilakukan beberapa penyair Riau seperti Marhalim Zaini, Jefry al Malay, Kunni Masrohanti, Fedli Aziz, dan yang lainnya.***

Editor : Bayu Saputra
#HUT Riau 68 #Mahkota Siak #lamr