TELUKKUANTAN dan JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kabupaten Kuansing mendapatkan kado dan penghormatan yang besar pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Anak si Tukang Tari Jalur Tuah Khogi Dubalang Ghajo Desa Pintu Gobang Kari Kecamatan Kuantan Tengah, Rayyan Arkan Dikha dan kawan-kawannya mendapat penghormatan tampil untuk memeriahkan HUT RI di Istana Negara Jakarta.
Perayaan HUT RI itu, langsung dihadiri Presiden H Prabowo Subianto, Wapres Gibran Rakabuming Raka serta pejabat negara dan undangan lainnya.
Perayaan HUT RI yang disiarkan berbagai stasiun TV itu terlihat Presiden RI H Prabowo Subianto melihat langsung tarian Togak Luan Si Tukang Tari Rayyan Arkan Dikha bersama sembilan anak si Tukang Tari Jalur lainnya yang diiringi puluhan penari dan musik jalur khas Kuansing.
Presiden RI H Prabowo Subianto yang terlihat menggunakan peci dan stelan krem berkacamata hitam itu, terlihat tersenyum gembira dan memberikan tepuk tangan. Bahkan usai penampilan jalur yang memukau itu, menerima anak-anak si Tukang Tari Jalur dari Kabupaten Kuansing sambil menyalaminya.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kita semua. Bahwa, tradisi dan budaya kebanggaan kita ini sudah menjadi saat nasional, aset negara yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar Bupati Kuansing Suhardiman Amby usai peringatan HUT RI di Kabupaten Kuansing.
Makanya, tradisi dan budaya pacu jalur yang sudah viral mendunia itu, lewat Kementerian Kebudayaan RI diusulkan ke lembanga UNESCO. Sehingga suatu saat mendapat pengakuan dunia sebagai aset Kabupaten Kuansing, Riau dan Indonesia.
Viralnya pacu jalur sekarang, semua komponen masyarakat yang terlibat. Dari pemerintah daerah, kalangan media, jurnalis, konten kreatif, maupun masyarakat Kuansing lainnya hingga ke desa. Termasuk anak-anak Si Tukang Tari.
Istana Merdeka Gempita
Indonesia telah memasuki usia 80 tahun. Di tahun ini, Presiden Prabowo Subianto untuk pertama kalinya memimpin upacara. Berbagai hal baru terlihat dalam upacara pengibaran Merah Putih kemarin (17/8) di halaman Istana Merdeka. Gempita!
Matahari tidak malu-malu menyinari langit Jakarta ketika Kepala Negara yang mengenakan pakaian melayu berwarna krem menyerahkan bendera pusaka kepada Bianca Alessia yang bertugas membawa baki. Setelah bendera pusaka itu diserahkan ke Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) perwakilan dari Sulawesi Utara itu, Prabowo langsung mencium bendera tersebut.
Paskibraka Tim Indonesia Berdaulat mengantarkan sang saka Merah Putih dengan formasi baru. Jika dilihat dari atas, formasi itu membentuk angka 8 dan 0, tanda usia Nusantara yang mencapai 80 tahun. Tepuk tangan peserta upacara pun berkumandang meski sebentar dan langsung khidmat ketika El Rayyi Mujahid Faqih, Farrel Argantha Irawan, dan Arka Bintang akan menaikan bendera.
Formasi yang membentuk angka ini baru. Pada upacara bendera di tahun-tahun sebelumnya tidak ada. Selain itu, pada upacara kali ini, presiden duduk sendiri. Pada 2024 saat upacara bendera dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN), Presiden ke-7 Joko Widodo duduk bersama Prabowo yang kala itu baru terpilih menjadi presiden ke-8. Pada upacara di tahun-tahun sebelumnya, presiden biasanya berdampingan dengan wakil presiden.
Sebelum bendera pusaka sampai ke Istana Merdeka, kirab dilakukan. Memang dalam tradisi, adanya kirab untuk membawa bendera dari Monas ke Istana Merdeka. Kali ini yang berbeda adalah adanya 145 kuda ikut mengiringi kirab tersebut. Letkol Kavaleri Chandra Alit Saputra, Komandan Batalyon Kavaleri Berkuda 1 Sembrani, mengungkapkan persiapan telah dilakukan selama dua bulan dengan penuh dedikasi. Dia berharap tradisi kavaleri terus menjadi bagian penting dalam perayaan HUT kemerdekaan mendatang. “Tantangannya adalah satuan kavaleri berkuda itu bisa berhasil apabila peduli dan sayang terhadap kudanya. Itulah tantangan kami,” tuturnya.
Suasana semakin semarak ketika peserta upacara dibolehkan untuk turun ke halaman. Bukan untuk ikut baris, tapi joget. Lagu Tabola Bale membuat semua peserta upacara berjoget. Bahkan Prabowo pun sempat turun dari kursinya. Pejabat dan beberapa artis yang datang juga tidak malu bergoyang. Bahkan, Paskibraka yang sebelumnya bertugas dengan kompak berjoget. Prajurit dari TNI dan Kepolisian tak kalah kompak. Masyarakat yang memakai baju adat juga tumpah di halaman Istana Merdeka. Meriah. Gembira. Bahkan sampai MC beberapa kali mengingatkan peserta kembali ke kursi setelah lagu itu dua kali dinyanyikan karena rangkaian upacara belum selesai.
Usai upacara, masyarakat disuguhi makanan UMKM. Halaman tengah Istana Merdeka yang biasanya eksklusif, kemarin boleh diakses oleh masyarakat peserta upacara. Panggung rakyat pun tersedia. Ndarboy Genk, grup musik asal Bantul, membuat semarak. Membuat tamu bingung antara makan dulu, atau ikut joget depan panggung.
Dewi Leba yang datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengapresiasi ini. Acara ini menurutnya dapat membantu roda ekonomi para pelaku usaha yang terlibat. “Jadi selain ada pesta kemeriahannya dapat, roda ekonomi di tempat ini juga berputar dan membantu para pelaku usaha, makanan dan lain-lain,” ucapnya.
JPG sempat mewawancarai Imam Soleh yang membawa tiga gerobak bakso malang ke Istana Negara. Pria asli Malang ini mengatakan bahwa sudah dua kali dipanggil untuk acara Istana. “Saya sehari-hari jualan di belakang Mal Sarinah,” katanya.
Rasa bangga tak bisa dipungkiri. Dia tidak menyangka bahwa ada kesempatan makanannya sampai di icip tamu negara di perhelatan akbar kemarin. “Tidak semua orang bisa masuk istana, apalagi jualan bakso,” ungkapnya.
Di hari Kemerdekaan kemarin, pria yang akrab disapa Imam Jadul itu berharap bahwa Indonesia semakin maju dan ekonominya tambah kuat. Menurutnya ini penting sebagai pedagang. “Biar masyarakatnya semakin bahagia,” tuturnya.
Yang membuat tamu undangan juga senang adalah souvenir yang didapat. Resti dan Devi, dua sahabat dari Bekasi, rela menginap di hotel dekat Istana Merdeka. Mereka kompak memakai baju adat Sulawesi selatan. Di depan Jawa Pos, Devi membuka souvenir yang didapatnya. “Ada kaos, handuk, tumbler, dan bukunya Pak Prabowo,” ucapnya.(ose)
Editor : Arif Oktafian