Poltekkes Kemenkes Riau merupakan salah satu perguruan tinggi negeri di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuat inovasi snack sehat dan bergizi ”Kue Sopik: Produk Tinggi Kalsium melalui Penambahan Tepung Ikan”.
Kue sopik dengan penambahan tepung ikan dibuat oleh mahasiswa dan alumni Diploma III Gizi Poltekkes Kemenkes Riau secara profesional di bawah pengawasan, arahan dan bimbingan dosen atau guru besar/Profesor Gizi Masyarakat Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Riau Prof Dr Aslis Wirda Hayati SP MSi dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Pekanbaru. Mahasiswa dan alumni adalah Aslis Wirda Hayati, Roziana, Husnan dan Miftah Fathi El Ghina.
wBaca Juga: Menkes Budi Gunadi Pastikan Kesiapan SDM Kesehatan Poltekkes Kemenkes Riau untuk Rumah Sakit Vertikal
Selain di atas, maka bertujuan juga untuk mencetak wirausahawan baru dari kampus sebagai tenaga profesional yang kompeten di bidang gizi. Mahasiswa dan alumni melakukan perencanaan, produksi dan komersialisasi kue sopik. Mereka mendapatkan pelatihan teknik produksi yang baik dari BPOM Kota Pekanbaru. Izin edar dari BPOM nomor 17122401149790000000. Pemasaran produk pada Penitipan Anak (TPA), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kelompok Bermain (KB), Sekolah Dasar (SD) dan area Car Free Day di Propinsi Riau dan Sumatera Barat. Sudah ada pesanan dari PAUD sebanyak 300 bungkus kue sopik setiap bulannya. Kue ini tinggi kalsium untuk mencegah stunting perlu terus dikembangkan. Kemasan, rasa, bentuk dan pemasaran perlu ditingkatkan. Pengembangan kue sopik ini agar dilakukan oleh berbagai kalangan tidak terbatas pada mahasiswa, alumni, dosen dan BPOM saja.
Inovasi kue sopik tepung ikan adalah snack sehat yang mendukung pertumbuhan tulang dan kesehatan jangka panjang. Bisa menjadi peluang wirausaha baru di bidang gizi sehingga mampu meningkatkan nilai perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data Survey Status Gizi Indonesia tahun 2024 melalui Kementerian Kesehatan RI 2025 prevalensi stunting di Indonesia yaitu sebesar 19,8 persen. Stunting sebagai gangguan pertumbuhan linier salah satunya disebabkan oleh kekurangan nutrisi kronis termasuk kalsium yang penting untuk pembentukan tulang.
Anak stunting memiliki asupan yang signifikan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Memastikan asupan kalsium yang diperoleh melalui diet merupakan strategi penting dalam upaya pencegaha stunting. Asupan kalsium yang kurang dari kebutuhan memiliki risiko 35 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang tidak terpenuhi asupan kalsiumnya.
Tantangan penurunan stunting yaitu stunting terjadi dalam waktu yang relatif lama dan waktu pemulihannya juga memerlukan waktu yang lama. Sementara itu orang tua anak balita atau pengasuhnya menganggap bahwa stunting bukan merupakan masalah kesehatan sehingga anak yang stunting cenderung dibiarkan. Penurunan prevalensi stunting berjalan lamban dan tidak signifikan dari tahun ke tahun.(nto/c)
Editor : Arif Oktafian