PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Meskipun sempat mengalami penurunan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram (kg), awal pekan ini cabai merah Bukittinggi di Pekanbaru masih tinggi yakni dijual Rp100 ribu per kg.
Pantauan Riau Pos, Senin (22/9) di Pasar Pagi Arengka, terlihat cabai merah dijual Rp95 ribu hingga Rp100 ribu perk kg. Sebagian besar pedagang juga mulai mengeluhkan stok cabai merah yang kembali berkurang.
Salah seorang pedagang cabai di Pasar Pagi Arengka Bernama Sardi mengatakan, harga cabai merah Bukittinggi yang masih dijual Rp100 ribu per kg disebabkan stok yang semakin sulit didapat oleh pedagang.
‘’Harga dari distributor juga ikut mengalami kenaikan yang membuat kami pedagang harus tetap menyesuaikan harga jual agar bisa mendapatkan keuntungan walaupun sedikit,’’ ujarnya.
Dikatakannya, kenaikan harga yang terjadi selama hampir tiga pekan terakhir dipicu oleh faktor alam atau cuaca karena musim hujan yang melanda sentra produksi membuat pasokan cabai menurun.
“Tadinya sudah mulai turun harganya. Tapi sekarang naik lagi. Karena stok itu yang sudah kami dapatkan, jadi mau tidak mau harga pun masih naik. Belum lagi kabar longsor di Sumbar juga salah satu faktor tambahan sehingga harga naik lagi,” jelasnya.
Sementara itu, pembeli cabai di Pasar Arengka, Ardianti (41) mengatakan, masyarakat sedikit merasa senang harga cabai sempat murah. “Tadi beli cabai merah Rp85 ribu satu kilogram. Itu pun sudah mulai layu. Kalau yang bagusnya Rp100 ribu,’’ ujarnya.
‘’Bingung sekarang ini, mau beli bahan pangan semuanya mahal. Kalau bisa harganya distabilkan lagi karena sudah jelang akhir tahun,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala DKP Pekanbaru M Jamil mengatakan, lonjakan harga yang terjadi lantaran berkurangnya pasokan dari daerah penghasil. “Jadi memang kalau pasokan berkurang dari daerah penghasil, tentu bisa memicu terjadinya lonjakan harga,’’ ujarnya.
‘’Kemarin cabai dari Medan tidak masuk, Lampung juga tidak masuk, hanya mengandalkan dari cabai dari Bukittinggi. Itu yang membuat ada kenaikan harga,” tamnbahnya.
Untuk memastikan harga pangan di Pekanbaru kembali stabil, pihaknya selalu melakukan pemantauan di sejumlah pasar tradisional dan mengoperasikan mobil Pak AMAN serta rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di 15 kecamatan di wilayah setempat.
“Akhir pekan lalu DKP baru saja memulai GPM di Kecamatan Tenayan Raya. Insyaallah pemerintah akan selalu hadir membantu warga mendapatkan bahan pangan murah dan berkualitas dan GPM akan kami laksanakan lagi di beberapa kecamatan,” ungkapnya.
Di Inhu Juga Masih Rp100 Ribu per Kg
Sempat bertahan hingga akhir pekan dengan harga Rp90 ribu per kg, cabai merah keriting di pasar rakyat Kota Rengat kembali tembus Rp100 ribu per kg, Senin (22/9). “Benar, awal pekan ini harga harga cabai merah keriting asal Sumbar naik dari bandingkan akhir pekan,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Inhu, H Ergusfian SSos.
Tidak saja cabai merah keriting asal Sumbar, cabai merah keriting asal luar Sumbar juga mengalami kenaikan. Pada pekan kemarin, cabai merah keriting luar Sumbar hanya Rp70 ribu per kg dan kini naik menjadi Rp80 ribu per kg.
Untuk harga bahan kebutuhan pokok lainnya sebut Ergusfian, masih tergolong stabil. Bahkan, secara keseluruhan untuk bahan kebutuhan pokok masih tersedia cukup. “Hanya cabai merah keriting yang mengalami naik harga,” ungkapnya.
‘’Kenaikan harga cabai merah keriting asal Sumbar dan luar Sumbar disebabkan oleh faktor cuaca di daerah asal sehingga, terjadi pengurangan pasokan ke pasar,’’ tambahnya.(ayi/kas)
Editor : Arif Oktafian