Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

10.011 Balita di Riau Terdeteksi Stunting

Soleh Saputra • Jumat, 26 September 2025 | 11:09 WIB
Ilustrasi stunting.
Ilustrasi stunting.

PEKANBARU (RP) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bersama pihak terkait terus berupaya melakukan penanganan prevalensi stunting atau tengkes. Salah satunya menggelar penimbangan serentak terhadap anak balita (bawah lima tahun) yang ada di seluruh Provinsi Riau. Hasilnya, terdeteksi 10.011 anak balita mengalami stunting.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Riau Yaneliza mengatakan, berdasarkan data terbaru, tercatat sudah 339.618 anak balita atau 89,76 persen dari total sasaran yang berhasil diukur dan ditimbang. Data ini telah diinput secara komprehensif ke Aplikasi Sigizikesga yang menjadi sumber utama validasi.

“Dari total balita yang diukur tersebut, ditemukan 10.011 balita yang mengalami stunting. Selain itu, tercatat 9.684 anak balita mengalami wasting (kekurangan tenaga), dan 13.388 balita mengalami underweight (kekurangan berat badan,” ujar Yaneliza kepada Riau Pos, Kamis (25/9).

Lebih lanjut Yaneliza mengatakan, dengan masih ditemukannya anak balita yang mengalami stunting di Riau,maka pihaknya terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar dapat melakukan beberapa upaya pencegahan. “Untuk bayi, upaya pencegahan yang dapat dilakukan yakni dengan pemberian ASI (air susu ibu) eksklusif atau sampai berusia dua tahun. Kemudian juga pemberian imunisasi sesuai standar,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan makanan tambahan berbahan lokal melalui puskesmas-puskesmas yang ada di daerah. Upaya ini diharapkan dapat terus menurunkan angka tengkes di Riau. “Upaya penurunan stunting di Riau saat ini terus dilakukan secara bersama-sama. Baik itu pemerintah provinsi dan juga pemerintah kabupaten/kota,” sebutnya.

Dijelaskannya, berdasarkan survei Kementerian Kesehatan pada tahun 2024, prevalensi stunting di Riau masih berada di angka 20,1 persen. Pemprov Riau menetapkan target penurunan hingga 15 persen untuk tahun 2025. “Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar angka stunting di Riau bisa terus ditekan, bahkan mendekati nol. Harapannya, generasi Riau tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi mengatakan, Pemprov Riau melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) secara berkala melakukan evaluasi pelaksanaan intervensi spesifik dalam rangka percepatan penurunan prevalensi tengkes. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya strategis untuk menilai capaian program sekaligus menyempurnakan tatalaksana intervensi di tingkat kabupaten/kota.

Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek. Mulai dari cakupan pelayanan gizi, pemantauan pertumbuhan anak, hingga efektivitas program yang menyasar kelompok sasaran prioritas, seperti ibu hamil, balita, dan remaja putri. “Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap intervensi dilaksanakan secara tepat sasaran, berbasis data, dan mampu memberikan dampak nyata dalam menurunkan prevalensi tengkes di Provinsi Riau,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, pemerintah pusat tetap menargetkan penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 18,8 persen pada tahun 2025, sebagai langkah menuju target jangka panjang sebesar 14,2 persen pada tahun 2029. Prevalensi tengkes di Riau mengalami kenaikan pada tahun 2024 mencapai 20,1 persen, ia juga menegaskan Pemprov Riau menargetkan pada tahun 2025 prevalensi tengkes turun menjadi 10 persen.

Sekdaprov mengatakan, intervensi spesifik harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor serta optimalisasi peran pemerintah daerah. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan data yang valid sebagai dasar dalam menentukan strategi yang efektif dan efisien di lapangan.

“Kita tidak hanya mengejar penurunan angka semata, tetapi juga ingin memastikan bahwa setiap anak di Riau tumbuh sehat dan optimal. Evaluasi ini menjadi langkah penting untuk menyusun strategi ke depan serta menjamin kesinambungan program secara terstruktur,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau Fariza menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendukung keberhasilan upaya penurunan prevalensi tengkes.

“Pencegahan stunting dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Oleh karena itu, edukasi dan pemberdayaan keluarga harus menjadi bagian penting dalam strategi intervensi kita. Mulai dari perencanaan kehamilan, pemenuhan gizi ibu hamil, hingga perawatan anak usia dini. Semua memerlukan perhatian dan pendampingan yang intensif,” jelas Fariza.

Ia juga menambahkan, pihaknya terus mendorong peningkatan kapasitas kader serta tenaga pendamping keluarga agar mampu memberikan edukasi dan layanan berkualitas secara langsung di masyarakat.

“Dengan sinergi antara program pusat dan daerah, serta dukungan aktif dari seluruh elemen masyarakat, maka kami optimistis angka stunting di Riau dapat ditekan secara signifikan. Ini adalah pondasi untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif di masa depan,” tuturnya.(sol)

Editor : Bayu Saputra
#gizi #balita #stunting riau #stunting