PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Karangan bunga berjejer rapi di sepanjang Jalan Yos Sudarso, Rumbai, berdekatan dengan Rumah Duka, Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi. Karangan bunga itu bersal dari dari para sahabat, rekan bisnis, pejabat, hingga tokoh olahraga.
Pemandangan itu seolah menjadi simbol penghormatan terakhir bagi sosok yang semasa hidupnya dikenal hangat, dermawan, dan penuh semangat. Deddy Handoko telah pergi.
Sabtu (25/10/2025) pagi, udara di Jalan Yos Sudarso, Pekanbaru, memang terasa berbeda. Aroma dupa lembut keluar dari Rumah Duka, bercampur dengan suasana haru yang menyelimuti ratusan pelayat.
Bagi masyarakat Riau, nama Deddy Handoko bukan sekadar pengusaha sukses. Ia adalah figur yang menanamkan jejak dalam banyak bidang, mulai dari pengusaha, perhotelan, hingga dunia olahraga menembak.
Sebagai Ketua Umum PB Perbakin Riau, almarhum dikenal bukan hanya karena kepemimpinannya, tetapi juga karena ketulusannya merangkul siapa pun tanpa pandang latar belakang.
Sekitar pukul 07.30 WIB, para pelayat mulai berdatangan. Mereka berpakaian serba hitam dan putih, duduk diam di kursi yang mengelilingi peti jenazah berhiaskan bunga. Beberapa menundukkan kepala, berdoa dalam hening. Di sisi lain, terlihat sejumlah sahabat berdiri dengan mata berkaca-kaca mengenang tawa, petuah, dan kebaikan almarhum yang tak lekang oleh waktu.
"Beliau bukan hanya ketua kami di Perbakin. Beliau itu orang tua, guru, abang, dan teman bagi kami semua," ucap Suparman, Ketua Harian Perbakin Riau, dengan suara bergetar. "Kami kehilangan sosok panutan yang selalu menebarkan kedamaian, bahkan di masa-masa sulit," sambungnya.
Suparman mengenang bagaimana Deddy Handoko memimpin dengan hati. Di bawah kepemimpinannya, cabang olahraga menembak Riau mencatatkan prestasi membanggakan, dengan perolehan medali terbanyak dibanding cabang lainnya. Namun, di balik itu semua, Deddy dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati. "Ia selalu bilang, prestasi itu buah dari kebersamaan, bukan kebetulan," kenang Suparman.
Tak hanya di dunia olahraga, almarhum juga dikenal sebagai penengah di tengah gejolak sosial. Saat krisis 1998 melanda, Deddy turut menjaga Riau tetap kondusif. Ia hadir sebagai jembatan, menenangkan yang gelisah, dan mengulurkan tangan bagi yang terpinggirkan.
Bagi banyak orang, Deddy Handoko adalah sosok yang memadukan keberhasilan dengan kebijaksanaan. Ia membangun bisnis, tapi juga membangun hubungan kemanusiaan. Ia mencintai dunia usaha, tapi lebih mencintai kedamaian.
Sekitar pukul 10.40 WIB, prosesi penghormatan terakhir usai. Jenazah almarhum perlahan dibawa ke mobil ambulans menuju tempat kremasi. Sejumlah pelayat menundukkan kepala, sementara doa dan air mata mengiringi kepergian sang dermawan.
Bagi sebagian orang, perpisahan ini meninggalkan duka. Namun bagi banyak lainnya, Deddy Handoko tak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir dalam kenangan, dalam jejak kebaikan, dan dalam semangat sportivitas yang diwariskannya kepada generasi penerus.
Editor : Rinaldi