PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Cuaca panas terik yang disebabkan oleh angin Muson Australia berdampak munculnya titik panas dan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Rabu (29/10), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi muncul belasan titik panas yang tersebar di delapan daerah.
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir Prayuna menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG, tidak hanya di Riau, peningkatan titik panas juga terjadi di wilayah Pulau Sumatera. BMKG mendeteksi 245 sebaran titik panas muncul di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera.
‘’Di Sumatera Utara terbanyak dengan 92 titik panas. Kemudian Aceh 37, Sumatera Barat 27, Jambi 21, Bangka Belitung 21, Sumatera Selatan 16, Riau 14, Bengkulu 12, Lampung 3, dan Kepulauan Riau 2. Titik panas di Provinsi Riau tersebar di Kabupaten Rokan Hulu 3, Bengkalis 2, Pelalawan 2, Siak 2, Indragiri Hulu 2, Kota Dumai 1, Rokan Hilir 1, dan Indragiri Hilir 1,” jelasnya.
Untuk prakiraan cuaca di Provinsi Riau, hasil pantauan citra radar, hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir dengan kondisi cuaca udara kabur cerah berawan.
Sementara itu sejak siang hingga malam hari cuaca di Provinsi Riau diperkirakan cerah berawan tanpa adanya potensi hujan. Namun dini hari cuaca berupa didominasi udara kabur berawan. Suhu udara di Provinsi Riau berkisar antara 23°C -35°C dengan kelembapan udara antara 48 persen- 96 persen. Prakiraan tinggi gelombang di Wilayah Perairan Provinsi Riau berkisar antara 0,5-1,25 meter (rendah).
Baca Juga: BMKG Pekanbaru Deteksi 16 Hot Spot di Sembilan Daerah di Riau, Ini Sebarannya
Diungkapkan Yasir lagi, BMKG Pekanbaru terus mengimbau kepada masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi selama sepekan ke depan. Seperti bencana hidrometeorologi, bencana yang dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem dan iklim, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang (termasuk puting beliung), gelombang pasang, dan kekeringan yang menyebabkan karhutla di Riau.
Muncul Dua Titik Karhutla Baru di Kampar
Karhutla kembali terjadi di Kabupaten Kampar. Per hari Rabu (29/10) ditemukan dua titik karhutla baru di daerah Kecamatan Tapung. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan, dua titik baru karhutla tersebut terjadi di daerah tanah mineral sehingga penangangannya lebih cepat dan mudah dilakukan oleh tim gabungan. “Karhutla di Kampar ada titik baru, di Kecamatan Tapung. Tapi langsung bisa dikendalikan oleh tim gabungan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, sedangkan titik karhutla sebelumnya sudah dapat dikendalikan, termasuk di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) juga sudah dapat dikendalikan. “Untuk di Inhil sudah dapat dikendalikan juga, saat ini hanya tinggal pendinginan. Sebelumnya juga sudah dikirim helikopter water bombing,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena hal tersebut akan sangat merugikan jika api membesar dan membakar lahan lain terutama di daerah gambut. “Apalagi saat ini sedang kembali cuaca panas di Riau,” imbaunya.
Dua Titik Karhutla di Salo Timur Padam
Kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Kampar, Rabu (29/10) terjadi di Desa Salo Timur, Kecamatan Salo. Berkat upaya cepat tim gabungan, api berhasil dipadamkan sebelum meluas lebih jauh. Kalaksa BPBD Kampar Agustar melalui kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menjelaskan, kejadian pertama dilaporkan sekitar pukul 15.52 WIB.
Lokasi kebakaran berada di lahan mineral gambut milik masyarakat dengan vegetasi semak belukar. Kebakaran yang terjadi merupakan kombinasi antara surface fire dan ground fire sehingga membutuhkan penanganan intensif. Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 0,5 hektare.
‘’Tak berselang lama, pada pukul 16.15 WIB, laporan kebakaran kedua kembali diterima di desa yang sama pada titik koordinat berbeda. Jenis lahan dan vegetasi yang terbakar serupa, dengan luas area terdampak sekitar 0,25 hektare,’’ jelas Adi Candra.
Adi Candra memastikan, api pada kedua titik tersebut telah berhasil dipadamkan. “Kami bersama satgas gabungan bergerak cepat untuk mencegah kebakaran meluas. Hingga saat ini api sudah padam dan dilakukan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru,” ujarnya.
BPBD Kampar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama di daerah yang memiliki lahan gambut. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan. “Kita terus melakukan pemantauan dan patroli. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam mencegah terjadinya kebakaran,” tambah Adi Candra.
2 Hektare Lahan di Kempas Terbakar
Ya, karhutla telah terjadi di Desa Bayas Jaya, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Sekitar 2 hektare lahan yang terbakar. Petugas gabungan dari BPBD Inhil, Tim Manggala Agni, kepolisian dan TNI dibantu helikopter water bombing tengah berupaya melakukan pemadaman terhadap lahan gambut tersebut. “Sekitar 2 hekatre lahan yang terbakar dan saat ini tim gabungan tengah melakukan proses pemadaman,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Inhil, R Arliansyah, Selasa (28/10) malam.
Tidak hanya pemadaman, tim gabungan juga melakukan pendinginan di kawasan yang sudah berhasil dipadamkan agar titik api tidak kembali muncul. Senada disampaikan Kabid Kedaruratan dan Logistik Ari Syuria saat dikonfirmasi. “Sekitar 1 hektare lahan sudah berhasil dipadamkan dan saat ini tim masih di lapangan,” ucapnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Inhil agar tidak melakukan aktivitas seperti membuka lahan dengan cara dibakar. “Selain ada aturan hukumnya, dampaknya juga sangat luas, apalagi saat ini cuaca sedang panas dan lahan mudah terbakar,” ucap Ari. “Untuk antisipasi dini, kalau ada menemukan titik api segera lapor agar segera ditangani dan tidak meluas ke mana-mana,” tambahnya.
Selain di Inhil, ancaman karhutla juga menghantui wilayah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Rabu (29/10) pukul 16.00 WIB, terdeteksi tiga titik panas di dua kecamatan di wilayah Rohul.
Tiga titik panas tersebut masing-masing berada di Kecamatan Rokan IV Koto terdapat dua titik api dan Kecamatan Rambah Samo satu titik dengan tingkat kepercayaan (confidence) sedang. Kalaksa BPBD Rohul H Ridarmanto melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Boy Arta SIP membenarkan adanya sebaran titik panas tersebut.
Ia mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BPBD Damkar Riau dan verifikasi lapangan di lokasi yang terindikasi kebakaran. “Benar, ada tiga titik panas terpantau di Rohul. Kita sudah berkoordinasi dengan provinsi untuk melakukan verifikasi lapangan. Sehari sebelumnya juga dilakukan pemadaman karhutla menggunakan heli water bombing di perbukitan Kecamatan Rokan IV Koto,” ujar Boy Arta, Rabu (29/10) malam.
Ia menjelaskan, penanggulangan karhutla saat ini bersifat fungsional, bukan penuh seperti pada masa puncak karhutla beberapa waktu lalu. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran, terutama di daerah perbukitan yang sulit dijangkau. “Kalau hasil verifikasi lapang di perbukitan tidak maksimal, biasanya tidak kita lanjutkan. Tapi kalau ada laporan dari masyarakat terkait kebakaran di lahan darat, tim BPBD tetap turun dan melakukan pemadaman semaksimal mungkin,” jelasnya.
Meski anggaran penanganan menipis di akhir tahun, Boy menegaskan BPBD Rohul tetap siaga dan patroli menghadapi potensi karhutla, terutama di wilayah rawan seperti Rambah, Rokan IV Koto, Rambah Samo, Bonai Darussalam dan Kepenuhan.
“Kami terus berkoordinasi dengan provinsi dan aparat terkait. Prinsipnya, kalau ada laporan kebakaran di daratan, tim langsung turun agar api tidak meluas. Untuk daerah perbukitan, kami berkoordinasi dengan Satgas Udara BPBD Riau agar dilakukan pemadaman lewat water bombing,” tegasnya.
Kebakaran lahan seluas 1 hektare (ha) sempat terjadi di Desa Tanjung Belit (Tanbel) Kecamatan Rambah, Selasa (28/10) malam. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Rohul bersama aparat kepolisian melakukan pemadaman. Lahan yang terbakar di Desa Tanbel merupakan kebun karet yang sudah ditumbangkan.
Meskipun api berhasil dipadamkan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti kebakaran tersebut. “Lahan yang terbakar diperkirakan seluas satu hektare, di areal pohon karet yang sudah ditebang. Untuk penyebabnya belum bisa kita pastikan, karena masih dalam penyelidikan pihak kepolisian yang juga ikut di lapangan,” katanya
Menurutnya, posisi lahan yang terbakar tidak berada di tepi jalan utama, sehingga kecil kemungkinan api berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh pengendara atau masyarakat yang sedang melintas. “Lokasi tidak langsung di pinggir jalan provinsi, tapi agak masuk ke dalam. Jadi kalau ada dugaan dari puntung rokok, sepertinya kecil kemungkinannya,” jelasnya.
Boy mengaku, dalam beberapa hari terakhir, cuaca panas ekstrem dan kering memang melanda wilayah Kabupaten Rohul. Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya rawan terjadinya kebakaran, terutama di lahan-lahan yang sudah dibersihkan atau ditumbangkan sebelumnya.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan untuk membuka kebun, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Dalam kondisi cuaca panas seperti ini, api mudah sekali menjalar,” tegasnya.(sol/kom/epp/*2)
Editor : Bayu Saputra