Festival Sastra Melayu Riau III 2025 diharapkan menjadi momen terus bertumbuhnya dunia sastra Riau yang selama ini seperti jalan di tempat. Regenerasi dan persoalan lainnya menjadi sesuatu yang penting yang harus terus diperbaiki dan dicari jalan keluarnya.
Laporan HAR Y B KORIUN, Pekanbaru
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SASTRAWAN muda Romi Afriadi berdiri bersandar pada dinding di dalam salah satu gedung di Riau Creative Hub, kawasan Jl Arifin Ahmad, Pekanbaru, pagi itu, Sabtu (17/10/2025). Dia memilih berdiri bersama beberapa tamu undangan lainnya meski masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Suasana lumayan ramai. Ada 100-an orang lebih dalam ruangan itu yang mengikuti prosesi pembukaan Festival Sastra Melayu Riau (FSMR) III 2025. Tema festival ini adalah “Bertanya Kata kepada Mantra”. Panas yang lumayan memanggang di luar gedung menjelang siang itu, seperti masuk ke dalam ruangan meski beberapa kipas besar di pasang di beberapa sudut. Banyak peserta, termasuk Romi, merasa kepanasan.
Meski begitu, acara pembukaan tetap berlansung meriah. Hadir beberapa pejabat daerah Riau sebagai undangan. Mereka antara lain Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Riau yang juga Pj Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat. Lalu hadir Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Aryadi; Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr Umi Kulsum; perwakilan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Riau; dan Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR) terpilih, Jefry al Malay. Juga hadir beberapa sastrawan senior seperti Fakhrunnas MA Jabbar, Herman Rante, Aris Abeba, TM Sum, Dr M Badri, Anton Widyanto Putra, Riki Utomi, Fedli Aziz, Zulkarnain Al Idrus, Romi Zarman, Murparsaulian, Arif al Husein, dan banyak seniman lintas genre lainnya yang juga diundang dalam kegiatan tersebut.
Direktur Sastra Melayu Riau III 2025 yang juga Kepala Rumah Kreatif Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, menjelaskan, dia bersyukur festival ini masih bisa digelar di tengah segala keterbatasan. Dia berterima kasih kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang masih mendukung penuh festival ini. Sebab, jika tidak, pihaknya akan sangat kesulitan menggelar seperti dua perhelatan sebelumnya.
“Dukungan penuh dari Badan Bahasa sangat membantu terselenggaranya festival ini. Mewakili Suku Seni Riau, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Badan Bahasa dan Balai Bahasa Provinsi Riau,” ujar Marhalim kepada Riau Pos, Jumat (31/10/2025).
Ada banyak kegiatan dalam festival ini. Yakni Lomba Baca Puisi Mantra dengan juri Suharyoto Sastrowuwignyo, Fedli Aziz, dan Joni Hendri; Pelatihan Alih Wahana Puisi Mantra ke Seni Rupa yang dimentori Bens Sani dan Cak Winda; Pelatihan Alih Wahana Puisi Mantra ke Seni Pertunjukan dengan intrukstur Husin dan Wan Harun Ismail; Pergelaran Sastra: Monolog Perempuan yang menampilkan Sasi Oktaviona sebagai Marsinah, Shofia Triana Tha sebagai Sumarah, dan Putri Afrila Rafina sebagai Atikah. Kemudian juga ada kegiatan Sastrawan Riau Berhimpun yang merupakan pertemuan para sastrawan Riau dari berbagai generasi, dan pergelaran seni lainnya pada acara pembukaan dan penutupan. Selain-selain kegiatan itu, juga ada acara bazar dan pameran buku sastra.
Seluruh kegiatan itu, kata Marhalim, merujuk pada tema besar mantra sebagai kekuatan ucap dalam karya-karya puisi Riau yang menjadi ciri khas dalam karya Sutardji Calzoum Bachri dan beberapa penyair Riau lainnya. Harus diakui, puisi mantra punya tempat tersendiri dalam dunia puisi Indonesia ketika Sutardji melakukan eksplorasi bentuk, yang kemudian melahirkan kredonya, yakni “bebaskan kata dari makna”. Inilah yang membuat Sutardji kemudian dikenal luas dan bentuk ini melekat pada dirinya yang kemudian seumur hidupnya dianggap sebagai Presiden Penyair Indonesia.
Pada acara pembukaan, selain pagelaran seni, juga diluncurkan buku kumpulan esai yang ditulis beberapa sastrawan yang merupakan bahan kajian dalam FSMR I dan II, berjudul Sastra Melayu: Dari Secupak Jadilah Segantang. Beberapa sastrawan dan pengkaji sastra yang karyanya masuk dalam buku ini adalah Jarir Amrun, Griven H Putra, Alvi Puspita, Hary B Koriun, Boy Riza Utama, Sudirman Shimary, Murparsaulian, Fakhrunnas MA Jabbar, Rida K Liamsi, Musa Ismail, Maman S Mahayana, Kunni Masrohanti, dan Marhalim Zaini sendiri.
Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Aryandi, yang mewakili Gubernur Riau membuka festival ini, menjelaskan, FSMR 2025 adalah sebuah festival penting karena mengangkat budaya Melayu Riau sebagai acuan utama festival. Menurutnya, pilihan atas tema besar tentang mantra telah menjadikan FSMR sangat relevan dengan kondisi Riau yang kaya dengan suku-suku yang menjadikan mantra sebagai pedoman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya mayoritas Suku Melayu Riau, tetapi juga suku-suku kecil lainnya yang memperkaya khasanah budaya Riau. Misalnya Talang Mamak, Bonai, Sakai, Duanu, dan suku-suku lainnya.
“Gubernur Riau sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas diselenggarakannya Festival Sastra Melayu Riau III ini. Beliau meminta maaf karena tak berkesempatan hadir karena waktunya bersamaan dengan kegiatan penting lainnya. Sebagai pribadi, saya juga sangat mengapresiasi festival ini dan berharap di masa mendatang festival ini tetap terselenggara,” ujar Aryandi.
Pj Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, juga memberi penghargaan tinggi atas terselenggaranya festival ini. Dia berharap, FSMR yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga, bisa menjadi memacu festival-festival serupa dengan tujuan mengangkat marwah Melayu Riau. Kata dia, semakin banyak festival seperti ini akan menyadarkan masyarakat Riau bahwa mereka memiliki budaya yang bernilai tinggi dan luhur.
“Saya sangat berterima kasih kepada Bang Marhalim Zaini dan Suku Seni yang secara konsisten menyelenggarkaan Festival Sastra Melayu Riau ini. Ini bukan pekerjaan mudah dan gampang. Perlu kerja keras dan dedikasi,” kata lelaki asal Siak ini.
Pada kesempatan lain, Kepala BBPR, Umi Kulsum, menjelaskan bahwa dirinya bangga atas pencapaian yang diraih Suku Seni Riau yang terpilih mendapatkan bantuan dari Badan Bahasa untuk menyelenggarakan festival ini. Sebab, dari sekian komunita sastra yang ada di Indonesia yang mengajukan program, Suku Seni terpilih dari sedikit yang dibantu pemerintah lewat Badan Bahasa.
“Itu artinya Suku Seni Riau menawarkan program yang sangat baik, menarik, dan kuat, yang membuat Badan Bahasa harus membantunya. Sebagai Kepala Balai Bahasa Riau, mewakili Badan Bahasa, saya mengucapkan terima kasih karena program festival ini benar-benar terselenggara dengan baik dan berkualitas,” ujar mantan Kepala Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur (Jatim) ini.
Sementara itu, salah satu helat penting dalam festival ini adalah pertemuan sastrawan Riau dari berbagai generasi dalam “Satrawan Riau Berhimpun”. Pertemuan ini diikuti 35 sastrawan yang diundang dari berbagai daerah di Riau. Selain dari Pekanbaru, mereka ada yang datang dari Dumai, Kampar, Selatpanjang, dan berbagai kabupaten lainnya. Marhalim menjelaskan, acara ini diharapkan bisa mencarikan solusi atas permasalahan dan dinamika sastra di Riau yang terjadi selama ini. Menurutnya, ada lima masalah penting yang harus dicarikan jalan keluar agar dunia satra Riau menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Kelima hal itu adalah dunia buku dan penerbitan di Riau; sastra dan media massa; kekaryaan dan regenerasi; komunitas satra; dan festival, penghargaan, dan pembaca karya.
Dia berharap pertemuan ini menjadi tempat berhimpun para sastrawan Riau, menyambung silaturahmi, bertukar gagasan, membincangkan berbagai hal khususnya tentang keberadaan sastrawan itu sendiri. Mengingat telah cukup lama pula para sastrawan Riau tak bertemu dalam iven besar, ruang ini diharapkan dapat menghasilkan luaran berupa rumusan-rumusan penting yang solutif, yang kemudian dapat direkomendasikan kepada para pihak --terutama para pengambil keputusan-- di lingkungan dunia sasta dan liteasi di Riau, baik pemerintah maupun nonpemerintah.
“Saya berusaha mengundang semua sastrawan Riau untuk bertemu di acara ini, baik yang senior seperti Bang Taufik Ikram Jamil dan yang lainnya. Mungkin karena ada alasan yang lebih penting yang membuatnya tak hadir dalam helat ini,” ujar Marhalim.
Pada kesempatan itu, sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, karena lintas generasi yang diundang dan hadir, para sastrawan akan saling mengenal secara pribadi. Dia juga senang karena banyak sastrawan muda yang tumbuh di Riau yang menjelaskan bahwa telah terjadi regenerasi sastra di Riau.
“Saya berharap sastrawan muda terus belajar dan berkarya agar karya sastra dari Riau terus lahir dan mampu berbicara secara nasional,” ujarnya.
Sastrawan muda dari Desa Tanjung, Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Romi Afriadi, mengapresiasi acara temu sastrawan ini. Untuk ikut kegiatan ini, dia harus berangkat sehari sebelumnya dan menginap di Suku Seni Riau. Sebab, jika berangkat pagi di hari yang sama, dipastikan tidak akan terkejar. Begitulah dia menganggap penting kegiatan itu. Awalnya dia pesimis acara tersebut benar-benar bisa mecari solusi tentang lima hal yang disampaikan Marhalim Zaini itu. Selain itu, sebagai orang yang baru dalam dunia sastra (baca: cerpen), dia juga was-was akan terasing di acara itu karena tak kenal banyak sastrawan Riau. Hanya beberapa yang dia kenal, dan itu pun banyak yang tak bisa hadir.
“Namun setelah ikut acara, saya menjadi optimis bahwa akan ada hal yang baik dalam dunia sastra Riau ke depan. Ini jika mereka yang berada dalam lingkaran tersebut terus bekerja keras menghasilkan karya yang baik dan berkualitas,” kata lelaki yang juga pelatih sepakbola dan sudah menerbitkan kumpulan cerpen Darah Pembangkang itu.
Harapan tersebut pasti tak hanya ada dalam pikiran Romi. Para sastrawan Riau lain pasti juga ingin dunia sastra Riau akan terus tumbuh dan mendapatkan perhatian dari para pemangku kepentingan di Riau yang selama ini seolah berada di titik terjauh.***