Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Siap Siaga Hadapi Cuaca Ekstrem

Redaksi • Kamis, 6 November 2025 - 12:59 WIB
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Komandan Korem 031/Wira Bima Kolonel Inf Jarot Suprihanto, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Sutikno mengecek pasukan usai apel di Lapangan Mapolda Riau, Jalan Pattimura, Pekanbaru, Rabu (5/11/2025).
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Komandan Korem 031/Wira Bima Kolonel Inf Jarot Suprihanto, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Sutikno mengecek pasukan usai apel di Lapangan Mapolda Riau, Jalan Pattimura, Pekanbaru, Rabu (5/11/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Apel kesiapan tanggap darurat menghadapi cuaca ekstrem yang mulai melanda dan ancaman bencana hidrometeorologi digelar serentak di Indonesia, termasuk di Riau, Rabu (5/11). Kepolisian Daerah (Polda) Riau menggelar apel di Lapangan Mapolda Riau, Jalan Pattimura, Pekanbaru, Rabu (5/11).

Kegiatan ini dipimpin langsung Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan diikuti ratusan personel gabungan dari unsur TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), serta berbagai instansi terkait lainnya.

Dalam amanatnya, Irjen Pol Herry Heryawan mene­gaskan apel ini menjadi langkah penting untuk mengecek kesiapan sumber daya manusia, sarana, dan prasarana dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam di wilayah Riau.

“Apel ini merupakan bentuk kesiapan kita dalam pencegahan dan penanggulangan bencana alam. Saya berharap seluruh personel dan instansi terkait dapat bekerja dengan sinergi, tanggap, dan cepat agar keselamatan masyarakat dapat terjamin,” ujar Kapolda, kemarin.

Ia menambahkan, bencana alam saat ini telah menjadi tantangan global. Berdasarkan laporan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) 2025, lebih dari 240 juta orang terdampak bencana setiap tahun di seluruh dunia.

“Secara geografis, Indonesia berada di kawasan ring of fire dan termasuk dalam tiga besar negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan tinggi serta langkah-langkah penanganan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Merujuk data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 19 Oktober 2025, tercatat 2.606 peristiwa bencana terjadi di Indonesia. Di antaranya, 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung berapi.

“Dari peristiwa itu, tercatat 361 orang meninggal dunia, 37 orang hilang, 619 luka-luka, serta lebih dari 5 juta warga terdampak yang harus mengungsi,” papar Herry.

Sementara data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, dengan puncaknya diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026.
“Kenaikan curah hujan dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin puting beliung, hingga gelombang tinggi. Selain itu, fenomena La Nina juga diperkirakan muncul pada periode tersebut, meskipun tergolong lemah namun tetap perlu diwaspadai,” katanya.

Kapolda menegaskan bahwa kegiatan apel ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. “Ini bukan hanya sekadar pelaksanaan tugas kedinasan, tetapi juga panggilan moral dan wujud pengabdian tulus untuk kemanusiaan,” tegas Irjen Herry.

Pada akhir kegiatan, Kapolda Riau menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel dan instansi yang telah menunjukkan komitmen serta kesiapan dalam apel siaga ini. “Saya berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat, sehingga penanganan bencana di wilayah Riau maupun Indonesia secara umum dapat berlangsung cepat, tanggap, dan efektif,” tuturnya.

Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru juga meminta masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam seperti banjir, angin kencang hingga karhutla. Penjabat (Pj) Sekretaris Kota Pekanbaru, Zulhelmi Arifin menjelaskan, tak hanya masyarakat saat ini Pemko Pekanbaru juga mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang telah tiba.

Karena itu, pihaknya perlu meningkatkan koordinasi dalam memitigasi risiko bencana di Pekanbaru. Diungkapkan Zulhelmi Arifin, cuaca di Pekanbaru menunjukkan perubahan ekstrem dengan suhu panas di siang hari dan hujan deras di malam hari. Situasi ini menjadi peringatan agar seluruh instansi terkait lebih sigap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat Kota Pekanbaru juga ikut berperan aktif menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kebersamaan dan kesadaran kolektif menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana.

“ BMKG memprediksi puncak musim hujan di Kota Pekanbaru akan terjadi pada pekan kedua bulan ini. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam yang dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Jika terjadi bencana alam segera melaporkan ke dinas terkait untuk ditangani lebih lanjut,” tegasnya.
Wakil Bupati (Wabup) Rokan Hulu (Rohul) H Syafaruddin Poti juga meminta seluruh unsur pemerintah daerah, TNI-Polri serta masyarakat untuk memperkuat koordinasi dan sinergitas dalam upaya penanggulangan bencana. ‘’Kita berharap seluruh elemen di Kabupaten Rohul dapat bekerja sama secara komprehensif dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi,’’ ujarnya usai memimpin apel kesiapan dalam rangka tanggap darurat bencana di Halaman Kantor Bupati Rohul.

‘’Dengan kesiapsiagaan, koordinasi dan sinergitas yang kuat, Rokan Hulu menjadi daerah yang tangguh bencana serta masyarakatnya terlindungi dari dampak bencana yang mungkin terjadi suatu waktu,” tambahnya. Syafaruddin Poti berharap seluruh elemen dapat bergerak cepat, tepat dan bersinergi demi melindungi masyarakat dari resiko bencana alam. ‘’Pentingnya kesiapan dan koordinasi lintas sektor yang kuat sebagai faktor utama keberhasilan dalam penanganan bencana,” tegasnya.

Kapolres Indragiri Hilir AKBP Farouk Oktora SIK menyampaikan beberapa penekanan utama, termasuk perlunya deteksi dini dan pemetaan wilayah yang dianggap rawan. “Ini untuk memastikan kesiapan optimal personel dan peralatan evakuasi, mengedepankan kecepatan respons dalam evakuasi dan penyaluran bantuan, serta meningkatkan sinergisitas dan koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait,” ujarnya.

Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem dan bencana hidrometrologi. “Dengan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan dapat meminimalkan dampak bencana dan menjaga keselamatan masyarakat,” ujarnya.

“Dengan kerja sama dan sinergi antara instansi terkait, diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Polres Pelalawan dan instansi terkait akan terus meningkatkan kesiapsiagaan dan upaya pencegahan bencana untuk menjaga keselamatan masyarakat,” tambahnya.

Bupati Kepulauan Meranti H Asmar menegaskan, kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan keharusan menghadapi ancaman nyata yang setiap tahun menghantui wilayah pesisir dan daerah rawan banjir.

“Cuaca ekstrem, banjir rob, dan angin kencang selalu menjadi ancaman bagi masyarakat kita. Karena itu, yang paling penting sekarang adalah memastikan sistem tanggap darurat di lapangan benar-benar siap bekerja,” ujar Asmar saat Apel Kesiapsiagaan di Halaman Kantor Bupati, Rabu (5/11).

Menurutnya, seluruh jajaran harus bergerak cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi potensi bencana. “Koordinasi lintas sektor adalah kunci. Jangan sampai kita hanya reaktif setelah bencana terjadi,” tegasnya.

Kepala BPBD Kepulauan Meranti Ahmad Yani menyebutkan, pihaknya telah memetakan titik rawan banjir dan longsor di sejumlah kecamatan seperti Tebingtinggi Timur, Rangsang Barat, dan Merbau. “Kami juga menyiapkan posko siaga bencana di setiap kecamatan agar respon lebih cepat,” ujarnya.

Kegiatan ini menandai dimulainya masa siaga darurat hidrometeorologi di Meranti. Fokusnya bukan lagi pada seremoni apel, melainkan pada kesiapan nyata menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. “Musim penghujan kali ini harus kita hadapi dengan kesiapan penuh, bukan sekadar janji atau apel simbolik. Masyarakat menunggu kerja nyata,” tutup Bupati Asmar.

Di Kuantan Singingi (Kuansing), Kalaksa BPBD Kuansing, H Yulizar mengatakan, Status Siaga Karhutla di Kuansing belum dicabut. Bahkan di perpanjang beberapa hari ke depan. Ini karena hingga pekan pertama November 2025, wilayah Kuansing dan Riau umumnya masih dilanda panas yang cukup ekstrem. 

“Untuk status siaga Karhutla masih belum di cabut, masih melihat situasi kondisi beberapa hari ke depan,” ungkap Yulizar, Rabu (5/11).  Makanya BPBD mengimbau agar selalu waspada karhutla, tidak membuka area perkebunan dengan cara di bakar. “Jadi semua masih dalam siaga karhutla,” tambah Yulizar. 

Karhutla 0,75 Hektare di Salo Kampar Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Kampar. Lahan seluas lebih kurang 0,75 hektare di Desa Salo, Kecamatan Salo, Kabupaten hangus terbakar, Rabu (5/11).

Kalaksa BPBD Kampar melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra Lukita menjelaskan, api saat ini telah berhasil dipadamkan. Namun, tim di lokasi masih melakukan upaya pendinginan. ”Kondisi terkini, api sudah padam dan masih terdapat titik asap,” jelas Adi Candra.

Laporan kebakaran ini pertama kali diterima oleh Pusdalops PB BPBD Kampar sekitar pukul 13.56 WIB. Lokasi yang terbakar merupakan lahan mineral gambut milik masyarakat dengan vegetasi semak belukar. Adi Candra menyebutkan, jenis kebakaran yang terjadi adalah surface fire (kebakaran permukaan) dan ground fire (kebakaran bawah permukaan). «Untuk penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan,» tambahnya.(nda/ayi/epp/amn/wir/dac/kom)

 

 

 

 

Editor : Rindra Yasin
#Kepolisian Daerah #Hidrometeorologi #tanggap darurat #Ancaman bencana