PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tiga pemerintah daerah di Provinsi Riau, saat ini sudah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Tiga daerah tersebut yakni Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Indragiri Hilir (Inhil) dan Siak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, Edy Afrizal mengatakan, penetapan status tersebut sebagai bentuk antisipasi potensi bencana karena saat ini Riau sudah memasuki musim hujan.
“Tiga daerah sudah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi. Yakni Rohul, Siak dan Inhil,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, saat ini Pemerintah Provinsi Riau mengambil langkah antisipatif mendirikan posko koordinasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Kesiapsiagaan ini menyusul penetapan Status Siaga Bencana Hidrometeorologi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, pada 1 Desember lalu.
Bahwa kesiapan ini merupakan tahap awal dalam strategi penanggulangan bencana di Riau, yang mencakup sosialisasi dan pendirian posko pemantauan. Selain itu pihaknya juga menyiagakan total 21 unit alat berat dan truk untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Penyiagaan alat berat dilakukan melalui koordinasi erat dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Riau.
“Persiapan kita di tahap awal ini sosialisasi, dirikan posko dan pemantauan. Termasuk koordinasi dengan Dinas PUPR untuk siaga di lokasi rawan bencana,” kata Edy Afrizal.
Ia menambahkan bahwa alat-alat ini disebar di sejumlah pos unit pelaksana teknis (UPT) Dinas PUPR di 12 kabupaten/kota. Secara rinci, Edy Afrizal membeberkan komposisi alat berat yang disiagakan yakni dua unit ekskavator amfibi, 1 unit ekskavator PC 200, 8 unit ekskavator PC 130, dan 1 unit ekskavator long arm. Selain itu, 6 unit motor greder dan 6 unit dump truk ikut disiagakan.
“Sehingga total keseluruhan alat berat yang siap mobilisasi berjumlah 21 unit,” sebutnya.
Menurut Edy Afrizal, penyiagaan ini bertujuan agar penanganan bencana dapat dilakukan secara maksimal dan cepat. Merujuk pada potensi banjir di aliran sungai-sungai besar seperti Kampar, Siak, Indragiri, dan Rokan.
“Alat ini disiapkan agar mobilisasi jika nanti terjadi bencana bisa maksimal. Sehingga proses penanganan jika terjadi bencana di Riau bisa ditangani cepat,” tegasnya.
Di samping kesiapsiagaan darat, BPBD Riau juga fokus memantau kondisi elevansi debit air di Waduk PLTA Koto Panjang, Kampar, yang menjadi salah satu indikator penting potensi banjir. Pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan PLN dan BMKG untuk mendapatkan data terkini.
“Kita juga melakukan pemantauan elevasi debit air di PLTA Koto Panjang. Kita minta PLN untuk terus melaporkan secara update kondisi elevasi waduk. Begitu juga dengan teman-teman BMKG,” ungkap Edy.
Ia mencatat, meski sempat kekeringan, air waduk kini sudah mulai naik. Pemantauan ketat ini diharapkan dapat memberikan peringatan dini yang akurat sebelum terjadi luapan air yang berpotensi memicu bencana banjir di wilayah Riau. “Update terbaru memang air sudah naik ya, tetapi juga masih di ambang batas normal. Kenaikan ini dari sebelumnya yang sempat kekeringan,” tutup Edy Afrizal.
Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Meningkat
Hujan yang mengguyur kawasan hulu Waduk PLTA Koto Panjang menyebabkan elevasi air meningkat. Meski demikian, kondisi waduk masih berada dalam batas aman. Kondisi ini mulai perlu diwaspadai karena curah hujan cenderung terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Manager PLTA Koto Panjang Dhani Irwansyah, menjelaskan bahwa pada Sabtu (6/12), elevasi waduk tercatat berada pada level 75,40 mdpl dengan outflow turbin 58,49 meter kubik/detik dan inflow waduk 58,49 meter kubik/detik.
“Elevasi waduk pada Sabtu mengalami kenaikan dibandingkan Jumat, yang sebelumnya berada di angka 75,20 mdpl dengan outflow turbin 172,81 meter kubik/detik dan inflow 172,81 meter kubik/detik,” ujarnya.
Dhani mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. “Mari kita bersama menjaga bumi agar tetap sehat dan nyaman untuk ditinggali,” katanya.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB, Adi Candra, mengatakan bahwa wilayah Kampar telah memasuki musim penghujan, namun kondisi masih dalam kategori waspada. Curah hujan saat ini masih berada di bawah rata-rata, sehingga belum diperlukan penerbitan status tanggap darurat. Ia menerangkan bahwa debit air pada tiga sungai besar di Kampar juga masih terpantau aman.
“Sungai Kampar Kiri memang mengalami fluktuasi tetapi masih pada batas normal. Sungai Kampar Kanan stabil, sementara Sungai Tapung mengalami sedikit kenaikan namun tidak signifikan,” jelasnya.
Akhir Pekan Riau Berpotensi Hujan Lebat
Memasuki akhir pekan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru masih menemukan potensi hujan di Provinsi Riau, Sabtu (6/12). Menurut Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Mari Frystine, meskipun Riau masih berpotensi hujan namun, radar citra satelit BMKG Pekanbaru kembali menemukan 21 sebaran titik panas (hotspot) wilayah Sumatera yang berada di Sumatera Barat 8, Aceh 3, Sumatera Utara 3, Jambi 3, dan Riau 3.
Untuk Provinsi Riau, sebaran titik panas ada di Pelalawan 2, dan Kota Pekanbaru 1. Sementara itu, BMKG Pekanbaru juga masih menemukan adanya pertemuan angin menyebabkan pemampatan udara yang mendukung pertumbuhan awan, sehingga terjadi hujan di hampir seluruh Riau pada dini hari hingga pagi hari.
Sejak pagi Sabtu (6/12), terpantau sedang terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sebagian wilayah Kota Dumai, Rokan Hilir, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, dan Pelalawan. Sedangkan hujan intensitas ringan terjadi di sebagian wilayah Kota Pekanbaru, Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi.
Diprakirakan hujan bertahan di sebagian wilayah Kota Dumai, Rokan Hilir, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, dan Pelalawan hingga siang hari. Sore hingga malam hari cuaca masih terpantau berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di hampir sebagian besar wilayah Riau.
Sedangkan dini hari Riau masih didominasi udara kabur berawan, suhu udara berkisar 23.0 – 30.0 °C, dengan kelembapan udara antara 60 – 100 % dan arah angin berembus dari Barat Daya – Timur Laut / 10 – 40 km/jam, serta prakiraan tinggi gelombang di wilayah perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.5 – 1.25 meter (rendah).(sol/kom/ayi)
Editor : Bayu Saputra