PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) RI menaja seminar pentingnya program hilirisasi di FISIP Universitas Riau, Selasa (9/12/2025). Dalam penjelasannya tim ahli kementerian ESDM menyebutkan bahwa industri hulu seperti migas itu bersifat ekstratif yang mempunyai kekhususan sifatnya ekslusif.
Industri yang bersifat ekstratif itu perlu modal yang sangat besar dan yang menikmatinya hanya segelintir orang. Makanya hiliriasai bisa menjadi jembatan untuk mentransformasi dari sektor ekstrasif yang bersifat ekslusif menjadi ekonomi yang lebih inklusif yang melibatkan banyak pihak.
Demikian benang merah paparan dari Tim Ahli Anggota Satuan Tugas (Satgas)) PHKE Kemeterian ESDM RI, Dr M Kholid Syeirazi. Hal itu diungkapkannya dalam seminar yang bertajuk “Hilirisasi Pertanian/Perkebunan dan Masa Depan Energi Berkelanjutan di Provinsi Riau: Integrasi Ketahanan Energi, Ekonomi Sirkular dan Kesejahteraan Masyarakat.”
Maksud dan tujan kegiatan ini adalah sosialiasi pentingnya program hilirisasi bagai ekonomi bangsa juga sekaligus mendata potensi unggulan daerah yang bisa dilakukan hilirisasi. Sehingga ada industri hilir yang diharapkan bisa membangun ekonomi daerah dengan melibatkan banyak pihak dan tenaga kerja serta lebih lebih massif.
Acara yang dibuka Rektor Unri yang diwakili Wakil Rektor Prof Dr Ir H Harmahendra MSc itu dihadiri oleh sejumlah OPD terkait, perwakilan perguruan tinggi di Riau, anggota DPRD Riau dan juga mahasiswa. Acara ditaja di ruang Teater Pakning Integritas Clasroom Universitas Riau, Selasa (9/12/2025).
Tampil sebagai narsumber pada kesempatan itu dari akademisi Prof Dr Yusmar Yusuf, Bupati Indragiri Hilir Herman dan Ahlul Fadli dari Walhi. Acara dimoderatori oleh Dosen FISIP Sofyan Hadi.
Akademisi Yusmar Yusuf meninjau hilirisasi dari sudut pandang sosiologi. Sedangkan Bupati Inhil memaparkan beberapa program hilirisasi yang sudah dan sedang dilakukan. Sedangkan Ahlul Fadli dari Walhi memaparkan meminimalkan dampak merugikan alam dalam proyek hilirisasi.
Lebih lanjut key note spekar Dr M Kholid Syeirazi memaparkan dari data yang ada ternyata Indonesia tidak lagi negeri yang kaya minyak. Sebab kebutuhan dalam negeri saja tidak tercukupi dengan produksi yang ada. Setiap hari konsumsi mencapai 1,6 juta kiloliter sedangkan produksi dalam negeri hanya 600 ribu kiloliter. Defisit sebanyak 1 juta kiloliter.
“Indonesia secara spesifik bukan kaya migas tapi kaya bauran energi,” ujarnya.
Cadangan minyak terus menurun dan ke depan ketergantungan kita pada migas fosil tidak lagi bisa diandalkan. Lalu, lewat industri hilir dilakukan bauran energi antara fosil dan minyak sawit yang ternyata berhasil jadi biosolar.
“Ternyata bisa karena biosolar sekarang suda biosolar 40 maksudnya 40 persen adalah dari sawit, artinya potensi industri hilir sangat bisa diandalkan,” ujarnya.
Begitu juga, lanjutnya, industri hilir juga sudah melakukan pembauran energi fosil dengan etanol yang berasal dari minyak nabati. Jadi di bensin itu nanti ada kandungan bio etanol. Etanol sudah digunakan di seluruh dunia. Bahkan di Brazil etanolnya sudah mencapai E-100. Artinya sudah bisa menggantikan BBM dari fosil.
Etanol itu banyak ditemukan di industri perkebunan seperti ketela, jagung, sogun dan tebu. Dan ini menjadi prospek mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil. Fosil kita terbatas dan pada waktunya bisa habis. Cadangan minyak kita pernah mencapai 10 miliar barel dan sekarang tinggal lagi 2,6 miliar barel. Gas bumi juga turun. Dulu pernah mencapai 100 pcf kini hanya tinggal 40-an pcf.
Energi alternatif layak jadi prioritas yang dapat dikembangkan lewat hilirisasi. Bauran energi lainnya seperti batubara bisa untuk menghasilkan elektrifikasi listrik. Biaya produksinya per KWH hanya 7 sen. Jauh lebih murah daripada panas bumi itu 10 sen per KWH. Kalau PLTS juga murah dan hemat hanya skalanya belum bisa jadi tulang punggung energi saat ini.
“Kita harus berpikir bagaiamana transisi energi itu dilakukan secara rasional, realistis dan ekonomis,” ujarnya.
Tentu saja hilirisasi tidak bisa dibiayai semuanya oleh negara karena anggarannya terbatas. Untuk itu kita perlu investor untuk mengembangkan proyek hiliriasasi sehingga keekonomiannya bisa dihitung dengan lebih cermat.
Kedua kenapa kita perlu hilirisasi karena bagian dari keluar dari kutukan sumber daya alam. Kenapa kutukan sumber daya alam terjadi karena kita negara yang kaya sekali dengan sumberdaya alam hanya tradisi kita selama ini kena jebakan ekonomi colonial.
Cirinya ekonomi kapitalisme colonial itu adalah kita menyediakan bahan baku diekspor yang menikmati surplus valuenya justru negara importir karena mengembangkan bahan baku jadi produk jadi yang lebih mahal harganya.
“Ciri ekonomi ekstratif itu keruk jual, tebang jual, petik jual. Akibatnya kita tidak menikmati nilai tambah dari kekayaan alam yang kita punya,” ujarnya lagi.
Contoh kita ekspor CPO per ton dapat 800 dolar AS. Tapi kita mengimpor olio chemical produk hilirisasi dari CPO sekitar 3.000 dolar As/ton. Selama ini kita mengekspor ‘tanah-air’ tanpa hilirisasi dengan harga murah kembali kekita dengan harga tinggi.
“Hilirisasi inilah yang kini kita gencarkan penelitiannya. Sekarang sudah ada belasan proyek hilirisasi yang sudah diajukan ke negara untuk dimatangkan dan dilaksanakan pengerjaannya mulai 2006,” ujarnya lagi.***
Editor : Edwar Yaman