Dengan segala keterbatasan, Sekolah Budaya Suku Seni Riau tetap diselenggarakan tahun 2025 ini. Sebuah investasi besar bagi regenarasi seniman Provinsi Riau.
PEKANBARU (RIUAPOS.CO) - UPAYA untuk melakukan regenerasi seniman di Riau terus dilakukan. Meski tidak mendapat dukungan dari pemangku kepentingan yang bertanggung jawab soal kesenian di Pemprov Riau secara langsung, namun kantong-kantong seni yang ada terus melakukan upaya tersebut. Kantong-kantong budaya itu terdiri dari berbagai lembaga swadaya yang bergerak di bidang seni, baik berupa komunitas seni yang lebih umum atau secara spesifik sastra, literasi, tari, teater, musik, seni alternatif, dan sebagainya.
Salah satu kantong budaya yang terus berikhtiar melakukannya adalah Rumah Kreatif Suku Seni Riau. Rumah kreatif yang berada di pinggir Kota Pekanbaru --tepatnya di Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar-- ini, tak pernah berhenti menghidupkan kreativitas bidang seni. Sudah delapan tahun ini mereka membina berbagai bidang seni, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Komitmen ini dianggap sebagai investasi seni bagi Riau ke depan ketika satu-satunya lembaga pendidikan seni yang ada di Riau, yakni Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), sempat mati suri –dan kini mencoba dibangkitkan kembali.
Salah satu program yang berusaha terus dipertahankan adalah Sekolah Budaya. Menurut Kepala Suku Seni Riau, Marhalim Zaini, Sekolah Budaya adalah sebuah ruang edukasi seni-budaya alternatif yang bersifat nonformal. Meskipun bukan sekolah formal, Sekolah Budaya dijalankan berdasarkan silabus/kurikulum dengan output dan target terukur. Pada tahun-tahun sebelumnya, Sekolah Budaya dilaksanakan sebanyak 12 kali pertemuan, selama 3 bulanan. Terdiri dari 7 kelas, dengan 7 bidang seni, yakni musik, teater, tari, rupa, sastra, film, dan tari anak, dengan masing-masing kelas diikuti 10 siswa/peserta. Karya dari hasil pembelajaran dipergelarkan dan dipamerkan dalam sebuah iven Sekolah Budaya Exhibition. Tahun lalu, acara eksebisi ini digelar di Mal Pekanbaru. Tahun 2025, program ini berlangsung September hingga November, dan eksebisinya diselenggarakan di Mal SKA pada Sabtu (29/11/2025) lalu.
Dijelaskannya, Sekolah Budaya merupakan program unggulan tahunan Suku Seni Riau yang akan terus diupayakan untuk dilaksanakan setiap tahun. Para alumni sekolah budaya dihimpun dalam sebuah Komunitas Alumni Sekolah Budaya, yang ke depan akan mendukung berbagai program Suku Seni maupun program khusus alumni.
“Tahun 2024 lalu kami melahirkan 70 generasi baru pencipta seni dalam 7 bidang, juga tercipta karya seni baru dari praktik penciptaan di setiap bidang. Tahun ini, karena berbagai hal, peserta dikurangi karena juga ada pengurangan genre/kelas, yakni film. Artinya, jika mereka semua tunak di bidang masing-masing, dalam dua tahun ini kami sudah melahirkan generasi baru kreator seni di Riau sebanyak 130 seniman,” kata Marhalim kepada Riau Pos, Jumat (12/12/2025).
Pengurangan jumlah kelas dan peserta tahun ini dilakukan karena mempertimbangkan pendanaan. Jika penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya didukung pemerintah pusat lewat Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Kebudayaan) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yakni Dana Indonesiana, tahun ini program Sekolah Budaya tak mendapatkannya lagi. Setelah mencari donatur ke sana-sini, akhirnya program ini dibantu oleh perusahaan daerah Riau, yakni PT Riau Petroleum (Perseroda), melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) mereka.
Sebenarnya, kata dia, bantuan Riau Petroleum cukup lumayan, namun hanya cukup untuk dua kelas jika mengacu pada penyelenggaraan sebelumnya. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, dana tersebut dipecah untuk enam kelas agar kelas yang lain tetap bisa diselenggarakan. Hanya saja, ada satu kelas yang terpaksa tak bisa diselenggarakan. Yaitu kelas film. Alasannya, bukan karena seni film tak penting dibanding yang lain, namun di saat bersamaan ada sebuah lembaga yang juga sedang membuka kelas pelatihan film, sehingga bagi mereka yang ingin ikut pelatihan film bisa ikut di sana.
“Untuk tahun ini, PT Riau Petroleum membantu pendanaan Sekolah Budaya ini di tengah ketidakpastian dari Dana Indonesiana. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pimpinan PT Riau Petroleum yang membuat Sekolah Budaya ini terus ada dan memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk belajar seni di bidang masing-masing,” jelas Marhalim.
Lanjut seniman yang tunak di berbagai genre ini, pihaknya akan bekerja keras agar Sekolah Budaya ini bisa terus berjalan setiap tahunnya dengan mencari dukungan dana dari berbagai pihak. Sebab, jika program ini terhenti, maka salah satu upaya untuk melakukan regenerasi seniman di Riau secara berkesinambungan juga akan terhenti. Padahal, menurut dia, regenerasi ini penting agar dunia seni Riau terus bertumbuh dan berkembang melalui orang-orang baru yang akan meneruskan para seniman lama yang terus berkurang jumlahnya.
“Menurut saya, regenerasi ini penting dan hal besar yang harus dipikirkan bersama oleh semua seniman dan pemangku kepentingan di Riau,” tambah lulusan S-2 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
***
DIHUBUNGI terpisah, Direktur PT Riau Petroleum (Perseroda), Prof Husnul Kausarian Ph D, menjelaskan, pihaknya berkomitmen untuk membantu kegiatan-kegiatan positif masyarakat di Riau melalui dana yang dikelola lewat CSR. Misalnya bidang keagamaan, kegiatan kemasyarakatan, olahraga, kebudayaan dan kesenian, dan lainnya. Sebagai perusahaan milik daerah Riau, kata dia, sudah menjadi kewajiban bagi Riau Petroleum untuk mendukung kegiatan-kegiatan masyarakat Riau tersebut.
Ke depan, dia berharap agar Riau Petroleum tetap eksis dan bisa terus membantu masyarakat. Husnul sangat memahami bahwa jika kegiatan-kegiatan masyarakat tersebut tidak mendapat dukungan –terutama dana— dari pihak mana pun, dipastikan akan mandeg dan mati. Jika itu terjadi, maka akan menjadi kerugian bagi Riau karena melahirkan SDM yang unggul bidang seni-budaya bukanlah pekerjaan mudah.
“Membantu kegiatan berbagai bidang untuk masyarakat Riau merupakan komitmen kami. Ke depan, kami akan berusaha terus melakukan itu semampu kami,” jelas Husnul Kausarian.
Khusus kepada Suku Seni Riau, dia berharap kelompok seni dan budaya tersebut terus bekerja keras mengembangkan talenta-talenta muda bidang seni agar muncul bibit-bibit muda bidang seni yang akan memegang estafet pembangunan seni dan kebudayaan Melayu Riau. Sebab, jika tak ada yang mau mengambil peran dalam bidang itu, dunia seni-budaya Riau akan mundur.
“Terima kasih atas kerja samanya, semoga ke depan Suku Seni Riau tetap eksis dan terus berkembang,” jelas lelaki yang juga pengajar di Universitas Islam Riau (UIR) ini.
***
PADA bagian lain, beberapa pengajar Sekolah Budaya yang berhasil dihubungi Riau Pos mengaku senang bisa mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menurut mereka, ke depan Sekolah Budaya harus terus diselenggarakan karena itu merupakan investasi besar bagi dunia seni dan kebudayaan di Riau. Kegiatan-kegiatan alternatif dalam pembangunan seni dan budaya ini, menurut mereka, harus didukung oleh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun sektor swasta.
Pengajar bidang seni rupa, Furqon LW, menjelaskan, masyarakat seni di Riau memiliki azam agar Riau punya perguruan tinggi seni untuk melengkapi ekosistem berkesenian yang ideal. Sejak AKMR berhenti beroperasi, kata dia, ekosistem itu tidak berjalan dengan baik. Sebab perguruan tinggi seni tidak hanya melahirkan pelaku seni, tetapi juga pemikir seni. Pelaku dan pemikir (akademisi) ini harus terus ada agar ekosistem itu terjaga. Sebuah masyarakat yang kehidupan seni dan kebudayaannya tak berkembang, menurut dia, juga akan mengancam peradaban masyarakat tersebut. Di Riau, tentu itu peradaban Melayu yang menjadi pegangan masyarakatnya.
Sekolah Budaya Suku Seni, kata Furqon, adalah bukti konkret dari seniman yang tetap menjaga asa tersebut. Di kelas seni rupa, dia mengaku sengaja memilih materi ajar sketsa urban untuk dikenalkan pada anak-anak muda Pekanbaru. Sketsa urban kini banyak diminati karena simpel, jujur, dan menawarkan pengalaman tak terduga karena digambar langsung di depan objek.
“Bagi saya, hal yang lebih spesifik lagi tentu impian adanya kampus seni rupa, bidang yang saya geluti, juga bidang seni lainnya. Saya berharap Sekolah Budaya Suku Seni tetap ada di masa depan sebagai tempat alternatif pengembangan dan regenerasi seniman di Riau,” jelas kartunis senior Riau ini.
Joni Hendri, yang mengampu kelas teater, mempunyai harapan besar dengan ruang belajar seni-budaya ini. Ruang yang menurutnya bisa menumbuhkan bibit seni dengan pola belajar yang terukur sesuai kurikulum yang dirancang. Dia yakin, hasil dari Sekolah Budaya ini bisa membangun generasi yang memahami seni dan budaya, salah satunya teater. Dia berharap, setelah selesai dari Sekolah Budaya, mereka yang ikut dalam program ini akan terus berteater.
Tentu, jelasnya, dalam harapan itu, paling tidak mereka bisa ikut dalam proses berkesenian dengan pengalaman yang diberi selama 10 kali pertemuan. Akan merasakan stimulasi tersendiri di dalam diri untuk mentalnya, kreativitasnya, dan keberaniannya sebagai generasi yang akan melanjutkan kehidupan kebudayaan dan kesenian di Tanah Melayu.
“Harapan saya, ke depan Sekolah Budaya Suku Seni ini terus berlanjut dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, baik Pemprov Riau maupun pemerintah pusat seperti sebelumnya. Hal ini diharapkan agar ruang ini terus berlanjut dan melahirkan para pencinta seni dan pelaku seni. Menjadikan ruang ini tempat membuka imajinas, pemikiran, dan karya, bagi generasi muda Riau,” jelas guru di sebuah sekolah di Pekanbaru ini.
Tak berbeda dengan Furqon dan Joni, pengampu kelas tari anak, Laposa Mirdja, merasa senang dan bersyukur karena bisa terus membantu anak-anak belajar menari di kelas ini. Sebab, menjadi mentor tari anak bagi dia tidaklah mudah. Terlebih lagi mengemas pengetahuan kebudayaan Melayu Riau dengan sesederhana mungkin agar bisa dimengerti oleh anak-anak, yang sebagian besar masih berada di Sekolah Dasar (SD). Meskipun prosesnya singkat —sekali dalam seminggu— namun apa yang didapat anak-anak bisa jadi bekal, minimal semangat bagi mereka untuk menyalakan api gairah berkesenian dan berkebudayaan.
“Terima kasih tak hingga untuk Suku Seni Riau. Harapannya, giat Sekolah Budaya bisa terus diadakan setiap tahunnya. Juga semakin bisa melingkupi seluruh cabang seni, budaya, sastra, dan seni lainnya yang potensial untuk meningkatkan iklim kebudayaan yang baik di Riau,” kata salah seorang aktivis di Ruangguru.com ini.
Selain Furqon, Joni Hendri, dan Laposa, pengampu lain dalam program ini adalah Iwan Irawan Permadi (tari dewasa), Hary B Koriun (sastra-cerpen), dan Anggara Satria (musik).***
Editor : Bayu Saputra