PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyampaikan hasil pemeriksaan atas kematian anak gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) bernama Laila yang terjadi pada bulan lalu. Hal itu menyusul keluarnya hasil cek laboratorium dari Medica Satwa Laboratoris di Bogor.
Kepala BBKSDA Riau Supartono pada Senin (15/12/2025) mengatakan, kematian gajah Laila positif terinfeksi Virus Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV). Virus itu menyerang organ hati anak gajah
''Virus EEHV merupakan jenis virus herpes yang khusus menyerang gajah, terutama anak gajah. Penyakit ini dikenal mematikan karena perkembangannya sangat cepat
dan sulit ditangani. Virus EEHV ini hanya menular antar gajah,'' ujar Supartono.
Seperti diketahui, Laila, anak gajah yang dilahirkan pada tanggal 6 April 2024 di Pusat Konservasi Gajah Sebanga, awalnya ditemukan dalam kondisi kurang aktif. Ia sempat mendapatkan penanganan medis oleh tim dokter hewan dan mahout.
Namun, gajah yang merupakan anak dari induk gajah bernama Puja dengan gajah jantan bernama Sarma ini, kondisinya terus melemah. Hingga pada 22 November 2025 ia mendapatkan perawatan intensif.
Lalu pada Jumat (22/11) sekitar pukul 22.00 WIB malam, menurut Supartono, anak gajah ini masih terlihat makan dan minum seperti biasa. Bahkan ia juga tampak minum air susu induknya.
Lalu sekitar pukul 00.30 WIB dini harinya, gajah Laila terdengar menjerit. Saat dilihat oleh tim, ia masih kondisi berdiri dan aktif bergerak. Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari itu, gajah Laila kembali menjerit, namun kali ini setelah di cek, kondisinya kali ini sudah berbaring.
Gajah Laila sempat bangun kembali usai mendapat penanganan, ia bahkan sempat minum dan menyusui. Lalu pada pukul 05.00 WIB subuh, ia sempat bersuara yang kemudian dilakukan pemeriksaan dan sekitar pukul 05.30 WIB. Pada saat itu, itu ditemukan sudah terbaring kaku.(end)
Baca Juga: Pemprov Riau Akan Kembali Buka Asesmen untuk Jabatan Eselon II
Editor : Edwar Yaman