SIAK (RIAUPOS.CO) - Tanpa mengenal hari libur, tim gabungan terus bekerja keras mengatasi banjir di Kecamatan Pusako yang telah memaksa warga mengungsi selama dua pekan terakhir.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Siak, Afni Z. Ia menyampaikan bahwa meski lokasi terdampak berstatus jalan nasional, dampak buruknya dirasakan langsung oleh masyarakat Siak, sehingga penanganan harus segera dilakukan.
Bupati Afni menjelaskan, sejumlah alat berat telah dikerahkan. Alat berat dari Dinas PU bekerja di Km 28 dan Km 29 untuk mengatasi banjir di Simpang Obor. Sementara itu, alat berat dari PT Arara Abadi dikerahkan untuk membersihkan kanal sepanjang 3 km guna mempercepat surutnya air. PT BSP juga menurunkan alat berat long arm di kanal Sungai Limau untuk memperlancar aliran air menuju sungai.
“Alhamdulillah, alat yang bekerja di samping pipa Dosan dilaporkan mulai menunjukkan hasil dalam mengurai genangan air pada Sabtu (27/12) sore,” ujar Bupati.
Meski demikian, kekhawatiran masih ada mengingat intensitas hujan yang tetap tinggi serta meluapnya debit air dari Danau Naga Sakti ke permukiman warga. “Kami terus berupaya maksimal agar air segera surut,” tambahnya.
Paralel dengan upaya teknis, bantuan logistik dan kesehatan juga terus mengalir. Tim dari Dinas Kesehatan, Baznas, dan Dinas Sosial secara konsisten menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.
“Dapur umum terus diaktifkan. Saya sudah meninjau lokasi, terus memantau laporan lapangan, dan insyaallah akan kembali turun untuk memantau perkembangan lanjutan,” tegas Bupati Afni.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 88 jiwa warga Desa Dosan saat ini berada di pengungsian. Jumlah tersebut terdiri dari 6 lansia, 43 orang dewasa, 24 pelajar, 12 balita, 1 ibu hamil, dan 2 bayi.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Siak mengharapkan solusi permanen dari Kementerian PU agar banjir tidak berulang di titik yang sama. Bupati menekankan bahwa penanganan banjir idealnya dilakukan saat musim kemarau melalui normalisasi sungai dan pengaturan mekanisme kanal.
“Jika kondisi sudah banjir seperti sekarang, kita harus bekerja ekstra keras agar masyarakat bisa segera kembali ke rumah masing-masing,” katanya.
Banjir ini sebenarnya telah melanda tujuh dari 14 kecamatan di Kabupaten Siak sejak dua pekan lalu, meliputi Kecamatan Kandis, Sungai Mandau, Koto Gasib, Mempura, Siak, Pusako, dan Sungai Apit. Saat ini, wilayah yang masih terdampak adalah Pusako dan Sungai Mandau.
Di Kecamatan Sungai Mandau, tepatnya di Desa Muara Kelantan, sebanyak 12 KK (43 jiwa) masih bertahan di posko pengungsian. Mereka terdiri dari 1 lansia, 24 dewasa, 15 pelajar, 2 balita, dan 1 bayi. Sementara itu, air di dua desa lainnya, yakni Kampung Teluk Lancang dan Sungai Selodang, dilaporkan telah surut.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, menambahkan bahwa pihaknya saat ini fokus pada pembersihan kanal. Ia mengamini bahwa normalisasi kanal seharusnya dilakukan saat musim panas sebagai langkah preventif bencana hidrometeorologi.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas PU dan perusahaan di sekitar desa rawan bencana untuk bersama-sama mencari solusi melalui pembersihan dan evaluasi kanal. Ini persoalan tahunan; mudah-mudahan tahun depan tidak terulang lagi sehingga masyarakat dapat beraktivitas normal tanpa rasa khawatir saat musim hujan,” tutup Novendra.(mng)
Editor : Bayu Saputra